Modest Style

Sunat: Pilihan Bukan Paksaan

,

Bila berkenaan dengan masalah sunat, isu kesehatan dan agama seringkali mengaburkan isu-isu pokok tentang persetujuan dan pengawasan, tulis Sya Taha.

2203-WP-Circumcision-by-Sya-01-sm (1)

Sunat berfungsi menjaga kebersihan, kerapian dan kesehatan lelaki, bukan? Meski demikian, ternyata tidak semua laki-laki yang disunat sejak kecil senang dengan hasilnya. Berbagai kisah penyesalan (dan kemarahan) muncul secara sporadis dari dua komunitas yang secara rutin menyunat bayi dan bocah laki-laki demi alasan agama (Muslim dan Yahudi),[i] serta dari negara yang melakukannya terutama karena alasan kesehatan (Amerika Serikat).

Sejumlah diskusi yang dilakukan Muslim seputar sunat biasanya berfokus pada sunat laki-laki. Mungkin hal ini terbilang lazim, sebab di banyak masyarakat Muslim (contohnya Indonesia, Turki dan Maroko), pesta meriah atau selamatan biasanya digelar untuk si bocah yang akan segera menjadi lelaki. Dulu di Singapura, sudah menjadi ketentuan untuk menyunat anak laki-laki tepat sebelum masa pubernya (tradisi yang berasal dari para migran Jawa) dan merayakannya secara besar-besaran. Kebiasaan ini berangsur-angsur menghilang lantaran kebanyakan prosedurnya dilakukan secara diam-diam di usia yang semakin dini, terkadang bahkan sebelum si bayi meninggalkan rumah sakit di usia satu hari.

Namun, apa perbedaan antara sunat lelaki dan perempuan? Walaupun sunat perempuan barangkali lebih tepat disebut pemotongan alat kelamin perempuan karena prosedurnya berkisar pada menyayat selubung klitoris hingga pada sepenuhnya mengangkat klitoris dan labia minora,[ii] saya tetap mempertahankan istilah “sunat”. Alasannya, di banyak masyarakat Muslim, tindakan ini disebut dengan kata yang sama, yakni khitan atau sirkumsisi, seperti sunat pada laki-laki. Sama halnya dengan sunat pada perempuan, ada beberapa jenis sunat pada laki-laki yang dilakukan di waktu berbeda (baru lahir, balita, praremaja) dan untuk alasan berbeda (estetika, kondisi phimosis, infeksi, tradisi agama).

Di artikel ini, saya hanya mengacu pada sunat non-terapeutik (yaitu yang dilakukan tanpa alasan medis) pada anak laki-laki dan perempuan sebelum mencapai usia yang secara mayoritas dianggap dewasa (yaitu berkisar dari baru lahir hingga remaja).

Justifikasi agama

Beberapa sumber agama yang sering dikutip untuk menjustifikasi sunat laki-laki sama dengan sumber yang digunakan untuk membenarkan sunat perempuan. Sumber-sumber ini termasuk ayat dari Al-Quran yang disandingkan dengan dua hadits, karena ayatnya saja tidak persis mengacu kepada tindakan sunat.

Ayat Quran yang sering dipetik adalah 3:95, yang memberi tahu kita untuk mengikuti millah, atau agama Nabi Ibrahim (ayat itu kemudian menjelaskan bahwa kita harus mengikuti keyakinannya akan Tuhan yang esa). Dua hadits yang paling banyak disebut adalah yang meriwayatkan Nabi Ibrahim menyunat dirinya sendiri di usia 80 tahun,[iii] dan ayat lain yang menyertakan sunat sebagai satu dari “lima perbuatan fitrah (suci)” [iv] (tetapi sunat merupakan satu-satunya perbuatan yang tidak bisa diulang di antara empat perbuatan lain yang bersifat menjaga kebersihan perorangan).

Empat perbuatan lain yang bersifat kebersihan perorangan yaitu membersihkan rambut kemaluan, mencabut atau mencukur bulu ketiak, memangkas kumis, dan menggunting kuku.

Umat Muslim yang menentang sunat pada perempuan pun menggunakan hadits yang sama untuk membenarkan kenapa anak-anak perempuan seharusnya tidak disunat. Sebagai contoh, seorang wakil dari ulama (mufti) Mesir pernah menyatakan sunat perempuan hanya memiliki akar sosial, bukan agama.[v]

Penting juga untuk menunjukkan bahwa sunat seringkali hanya dipandang sebagai topik keagamaan (terkadang penjelasannya dibarengi dengan alasan kesehatan), dan setiap orang yang mencoba membahas topik ini akan dipertanyakan kewenangannya. Dengan kata lain, kecuali kalau Anda cendekiawan (pria) Islam, pendapat Anda akan sulit dianggap serius.

Dr Sami Aldeeb Abu-Sahlieh, pengacara keturunan Palestina-Amerika, telah menulis panjang lebar mengenai topik ini, merenungi pertanyaan tentang mengapa pembahasan seputar sunat selalu bersifat gender. Dia beralasan informasi yang digunakan untuk mempromosikan sunat di kalangan Muslim (yang pada hakikatnya selalu sama) sebenarnya tidak mengacu pada jenis kelamin tertentu, sekaligus menjadikan isu ini lebih berupa agenda politik ketimbang agama.[vi]

Sunat dipandang tidak berbahaya, atau bahkan bermanfaat di banyak masyarakat Muslim

Sunat, baik pada laki-laki maupun pada perempuan, sama-sama memotong sebagian organ intim yang mengemban peran sama; kulup laki-laki dan selubung klitoris perempuan bertindak melindungi bagian tubuh manusia dengan konsentrasi saraf paling tinggi. Setiap bagiannya pun—kepala penis laki-laki dan klitoris perempuan—berperan penting dalam memperoleh gairah dan kepuasan seksual. Kedua prosedurnya juga memberikan hak istimewa kepada identitas agama orangtua di atas kemampuan si anak untuk membentuk masa depannya sendiri.

Walau begitu, sebagian berita tentang sunat perempuan, terutama jika berasal dari apa yang seringkali disebut dunia Muslim yang “tak beradab”[vii], lebih besar kemungkinannya untuk menjadi berita utama—terlebih ketika ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan rencana [viii]. Namun, kegagalan sunat laki-laki jarang menjadi berita utama, biarpun sering kali muncul berita bocah lelaki yang meninggal akibat komplikasi dari tindakan sunat non-terapeutik pada mereka.[ix]

Beberapa asumsi pokok

Tetapi saya tidak ingin membandingkan kadar dan tingkat kerugian sunat yang terjadi pada anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia. Perbandingan semacam itu kerap menyebabkan perilaku defensif, karena kebudayaan dan identitas agama seseorang terangkum dalam tradisi sunat, yang kemudian diadu melawan modernitas, organisasi internasional Barat, atau kebudayaan lain.

Beberapa argumen tentang kerusakan fisik yang menimpa anak laki-laki dan perempuan mungkin juga tidak meyakinkan semua orang, karena prosedurnya dipandang tidak berbahaya, atau bahkan bermanfaat di banyak komunitas Muslim. Banyaknya bayi laki-laki yang hanya menangis sesaat setelah disunat ditafsirkan sebagai tanda sedikit atau tidak adanya rasa sakit (dan keamanan prosedurnya); akan tetapi, sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa tangisan singkat itu merupakan gejala tertutupnya saraf akibat keterkejutan yang sangat.[x] Bagi banyak praremaja laki-laki, sunat menjadi tanda kedewasaan atau kesempatan untuk merasa seperti “pahlawan nan tangguh”.[xi] Meski begitu, bagi anak perempuan, keyakinannya agak berbeda: mereka perlu disucikan, kalau tidak mereka akan menjadi “liar”.[xii]

Alasan agama dan kesehatan telah mengaburkan isu-isu yang lebih penting: memberikan persetujuan, dan memaksakan pengawasan

Berbagai alasan agama ataupun kesehatan juga mengungkap asumsi kita sendiri atas tubuh kita sebagai ciptaan Tuhan. Tuhan mengatakan kita diciptakan dalam “cetakan terbaik” (95:4). Tetapi para pendukung sunat percaya bahwa semua kulup—tidak hanya yang membutuhkan perhatian medis—pada dasarnya kotor, seberapa pun seringnya pembersihan fisik atau spiritual yang dilakukan. Satu-satunya solusi adalah menyingkirkannya secara permanen. Apa jadinya keyakinan kita pada Tuhan jika kita menganggap diri kita diciptakan tidak sempurna sehingga membutuhkan prosedur untuk mengoreksinya?

Persetujuan dan pengawasan

Saya pikir alasan agama dan kesehatan telah mengaburkan isu-isu yang lebih penting: memberikan persetujuan, dan memaksakan pengawasan terhadap tubuh anak. Saya tidak meragukan bahwa orangtua berharap yang terbaik untuk anak-anak mereka, dan bahwa mereka selalu merasa bertanggung jawab terhadap kepentingan fisik dan moral terbaik anak-anak mereka. Adalah hal berbeda untuk memakaikan anak-anak kopiah atau kerudung, jika dibandingkan dengan tindakan permanen mengubah tubuh mereka tanpa alasan medis apa pun. Mungkin kita akan mundur ketakutan melihat balita yang ditato,[xiii] namun bagaimana reaksi kita pada balita yang disunat?

Saya tidak akan menyunat putra saya saat usianya sehari, sebulan, atau bahkan 10 tahun. Bukan karena saya mengabaikan sunah atau tradisi; keputusan ini semata karena saya memandang sunat sebagai pilihan bagi orang dewasa yang harus dilakukan dalam keadaan benar-benar sadar jika dia yakin hal itu akan membantunya menjadi Muslim yang lebih baik. Dengan tidak menyunat putra saya sebelum dia dapat sepenuhnya memahami apa artinya menjadi seorang Muslim, saya akan membiarkan jalan terbuka baginya untuk memilih apa yang ingin dilakukannya—karena sebagai orangtua, kita hanya dapat membimbing, tetapi kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk memercayai apa yang kita yakini (11:42-43). Saya ingin membesarkannya dengan nilai-nilai kehidupan yang positif, dan saya tidak yakin jenis nilai seperti apa yang akan disampaikan oleh tindakan fisik seperti sunat.

Laki-laki boleh saja merasa takut, dan itu tidak membuat mereka menjadi kurang Muslim.

Sebetulnya, ada banyak laki-laki Muslim di luar sana yang dikaruniai penis utuh yang benar-benar bersih. Seperti perempuan (yang disunat maupun tidak), mereka harus mencucinya secara teratur supaya tetap bersih, karena kebersihan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika orang mengemukakan alasan tentang kewajiban sunat pada laki-laki, sering kali mereka tidak bicara tentang laki-laki dewasa. Malahan, terdapat banyak kelonggaran saat membicarakan sunat pada lelaki dewasa—yang mengakui adanya perasaan takut atau ketidakyakinan mereka.[xiv] Laki-laki boleh saja merasa takut, dan itu tidak membuat mereka menjadi kurang Muslim.

Ada perempuan dan laki-laki Muslim yang memilih disunat atas dasar hati nurani dan kepercayaan mereka. Saya sangat mendukung kemampuan dan hak mereka untuk membuat keputusan bagi diri mereka sendiri—sama seperti dukungan saya pada mereka, orang dewasa yang memutuskan untuk tidak melakukannya, demi alasan apa pun, sebab tidak ada paksaan dalam Islam (2:256).

Sedangkan untuk anak-anak yang seharusnya berada di bawah perlindungan kita, saya berdoa semoga kita juga dapat mendukung hak-hak mereka sebagai Muslim untuk memilih—sama seperti Nabi Ibrahim yang dipersilakan memilih untuk meyakini agama ini.

[i] Lihat untuk contoh, ‘A young Singaporean Muslim: I am now against circumcision’ bisa dibaca di sini
[ii] ‘Classification of female genital mutilation’, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bisa dibaca di sini
[iii] Diriwayatkan Abu Huraira dalam Shahih Bukhari, bisa dibaca di sini
[iv] Diriwayatkan Abu Huraira dalam Kumpulan Hadits Muslim, bisa dibaca di sini
[v] ‘Mufti’s deputy reiterates: Female circumcision prohibited by religion’, Egypt Independent, 23 Jun 2013, bisa dibaca di sini
[vi] Lihat untuk contoh, artikel ‘No distinction between male and female circumcision’ di sini atau buku Legitimisation of Male and Female Circumcision di sini
[vii] Rebecca Steinfeld, ‘Like FGM, cut foreskins should be a feminist issue’, The Conversation, 18 Nov 2013, bisa dibaca di sini
[viii] Sara C Nelson, ‘Soher Ebrahim Egyptian girl, 13, dies after illegal female genital mutilation’, 10 Jun 2013, bisa dibaca di sini
[ix] Sebagai contoh, kegagalan tujuh prosedur sunat di Arab Saudi menyebabkan luka dan tindakan rawat inap, bisa dibaca di sini. Baca juga perawatan rumah sakit untuk bocah laki-laki Indonesia berumur tiga tahun pengidap hemofilia di sini, serta kematian dua balita India di sini
[x] Baca penelitian medis oleh Brady-Fryer, Wiebe dan Lander (2004) yang bisa dibaca di sini, atau Williamson dan Evans (1986) yang tersedia di sini
[xi] Shahnawaz Abdul Hamid, ‘Circumcision in Islam: a meaningless tradition worth discarding?”, Muzlimbuzz.sg, 11 Nov 2013, bisa dibaca di sini
[xii] Sya Taha, ‘A tiny cut: female circumcision in Southeast Asia’, The Islamic Monthly, 12 Mar 2013, bisa dibaca di sini
[xiii] Maria Vultaggio, ‘’Tattoo forced on toddler by mother’ video goes viral; but is it a hoax?’’, International Business Times, 29 Jan 2013, bisa dibaca di sini
[xiv] Lihat sumber-sumber yang dikutip dalam ‘Considering converting: is it necessary to be circumcised?’, bisa dibaca di sini

Kami mempersilakan para pembaca kami untuk berkomentar dan membahas topik ini, tetapi mohon melakukannya dengan cara yang santun. Komentar yang mengandung ancaman atau serangan kepada perorangan, serta yang keluar dari topik, akan diedit atau dihapus oleh moderator.
Leave a Reply
<Modest Style