Modest Style

Suka Duka Ramadhan di Dubai

,

Ameera Al Hakawati menceritakan sebagian pengalamannya saat menjalani bulan suci Ramadhan sebagai warga Dubai, kota paling gemerlap di Uni Emirat Arab.

Para jemaah berkumpul di masjid Jumeirah selama Ramadhan. AFP Photo / Karim Sahib
Para jemaah berkumpul di masjid Jumeirah selama Ramadhan. AFP Photo / Karim Sahib

Selama bulan Ramadhan, Dubai menjelma menjadi kota yang tak pernah tidur. Semua hal tersedia untuk ‘para kalong’ Emirat yang hidupnya baru dimulai setelah buka puasa. Restoran tutup hingga matahari terbenam. Pusat-pusat perbelanjaan dibuka hingga pukul tiga pagi. Kuliah dan lokakarya diadakan sampai fajar dan peragaan busana untuk koleksi Ramadhan/Idul Fitri dimulai pada pukul 10.00 malam. Begitu azan maghrib berkumandang, kota ini mendadak hidup, untuk kemudian ‘jatuh pingsan’ lagi di siang hari.

Larangan makan di siang hari

Bagi saya, salah satu hal paling aneh dalam hal menjalankan ibadah puasa di Dubai adalah fakta bahwa makan di depan umum selama jam puasa merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

Hampir semua restoran di kota ini tutup di siang hari. Jika Anda pergi ke pusat perbelanjaan, Anda akan menemukan food court yang kosong, kecuali satu atau dua gerai yang buka untuk melayani pelanggan anak-anak atau manula. Sekelilingnya pun tertutup rapat oleh tirai sehingga orang yang berpuasa tidak akan menyaksikan siapa pun makan di depan mereka. Di kantor pun, karyawan tidak diperbolehkan makan di meja mereka selama Ramadhan dan hanya bisa melakukannya di tempat yang disediakan. Tidak boleh minum kopi di lift dalam perjalanan menuju kantor; tidak boleh menyantap roti isi di mobil. Tidak boleh makan sama sekali di depan umum.

Harus saya akui, larangan ini agak mengganggu saya saat pertama pindah ke sini. Sebagai warga London, saya terbiasa berpuasa di tengah orang-orang yang sedang makan. Saya malah menganggapnya bagian dari cobaan bulan Ramadhan serta elemen penting dalam pengendalian nafsu.

Sekarang saya sudah tinggal di Dubai selama beberapa tahun. Meski telah terbiasa dengan cara hidup masyarakatnya, saya masih tidak sepenuhnya setuju dengan peraturan yang satu ini. Saya tidak melihat alasan mengapa orang yang tidak berpuasa harus terpaksa menahan lapar hanya demi menjadikan segalanya lebih mudah bagi mereka yang berpuasa.

Sedikit kerja, banyak istirahat

Kebiasaan lain yang membuat hidup orang yang berpuasa di Dubai jadi jauh lebih mudah — dan yang sangat saya sukai — adalah jam kerja yang lebih pendek. Kondisi ini juga berlaku bagi karyawan non-Muslim. Kantor-kantor diwajibkan memangkas tiga jam penuh dari waktu kerja karyawannya setiap hari.

Sebagai contoh, saya biasa bekerja mulai dari pukul 8.30 pagi hingga 5.30 sore (satu jam lebih lama dari di Inggris). Tetapi selama Ramadhan, saya bekerja mulai dari pukul 8.30 pagi hingga 2.30 sore. Keren kan? Pihak berwenang rupanya menyadari produktivitas akan menurun selama Ramadhan. Jadi, tidak ada gunanya menahan karyawan di kantor secara mubazir padahal mereka bisa pulang ke rumah untuk tidur, beribadah atau mempersiapkan hidangan buka puasa. Menyenangkan, bukan?

Makanan berlimpah ruah

Biarpun kami semua tahu inti berpuasa bukanlah makan sebanyak mungkin setelah matahari terbenam, makanan masih memegang peran utama dalam kehidupan kita selama Ramadhan. Dubai pun tidak terkecuali. Setiap restoran di kota ini akan menyediakan menu berbuka puasa istimewa, mulai dari prasmanan berbagai hidangan hingga paket lima makanan dengan harga terjangkau.

Hotel-hotel akan berlomba-lomba menarik pengunjung dengan mendirikan tenda-tenda besar di luar khusus untuk bulan Ramadhan. Sebagian besar dari tenda ini hampir selalu didekorasi dengan penerangan yang cantik dan menyenangkan, termasuk hiasan berupa lentera dan lilin dengan semilir aroma lembut bakhoor (wewangian dari kayu oud yang dibakar di dalam dupa) semerbak di udara. Akan ada prasmanan besar yang terutama berisi hidangan tradisional Arab khas Ramadhan, selain sajian India dan Asia. Mulai dari berbuka puasa hingga menjelang isya, orang akan berbondong-bondong datang untuk makan dan bersantai di tenda-tenda ini. Tempat shalat jelas disediakan bagi mereka yang ingin menunaikan shalat maghrib, tapi sejujurnya, di sana lebih banyak orang yang makan daripada shalat.

Suasana dalam tenda Ramadhan di Jumeirah Beach Hotel
Suasana dalam tenda Ramadhan di Jumeirah Beach Hotel

Akan tetapi, pengunjung tenda-tenda Ramadhan bukan hanya yang berpuasa. Banyak perusahaan juga menggelar buka puasa bersama di sini. Mulai dari isya hingga sekitar pukul 2.00 pagi, tenda-tenda ini melayani pesanan untuk sahur. Hidangan yang lebih ringan pun disajikan, shisha ditawarkan dan orang-orang dipersilakan untuk datang dan bersantai hingga tengah malam.

Kali pertama pindah ke Dubai, saya merasa perlu untuk mengecek hampir semua tenda di kota ini. Tapi kalau boleh jujur, penawarannya sangat mirip satu sama lain. Jadi, sekarang saya hanya mendatangi beberapa di antaranya dan menghabiskan sisa bulan Ramadhan di rumah bersama teman dan keluarga.

Acara-acara TV tak berguna

Hal yang sungguh membuat saya kesal tentang menjalani Ramadhan di Dubai adalah serial TV tak bermutu yang khusus ditayangkan di bulan suci ini. Selain drama seri Omar yang mulai tayang tahun lalu, program-program TV benar-benar tidak ada hubungannya dengan Ramadhan atau Islam. Setiap episode ditayangkan setiap hari tepat sebelum waktu shalat tarawih. Akibatnya, kaum lelaki pemalas lebih suka tinggal di rumah untuk menonton TV daripada pergi ke masjid untuk shalat.

Hal ini amat sangat menjengkelkan. Saya tidak bisa memahami fakta bahwa sejumlah orang memilih untuk menonton TV ketimbang menunaikan shalat selama satu bulan dalam setahun, tepat pada waktu kita seharusnya mengendalikan nafsu.

Kenyataannya, TV sepertinya memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat Dubai; mereka menontonnya tanpa henti. Lantas mana waktu untuk menunaikan shalat sunah? Mengerjakan ibadah tambahan? Mendalami spiritualitas? Bagi banyak orang, kelihatannya Ramadhan hanya sebatas ritual berpuasa yang diikuti dengan makan sepuasnya sepanjang malam. Padahal saya berada di negara yang penduduknya mayoritas muslim. Saya malah merasa jauh lebih terinspirasi saat tinggal Inggris!

Kedamaian di Masjid

Akhirnya, hal khusus yang sangat saya sukai dari Ramadhan di Dubai adalah masjid-masjidnya. Tepat sebelum maghrib, para relawan datang dan menggelar acara buka puasa untuk fakir miskin, biasanya disponsori oleh penduduk Uni Emirat Arab yang kaya raya. Setiap malam, selama shalat isya, tarawih dan tahajud, masjid dijejali para jemaah. Suara tilawah Quran menggema hingga ke jalan.

 000_Nic6118625-sm

Inilah momen ketika suasana damai menyelimuti saya, mengingatkan saya bahwa saya memang sedang berada di negara muslim. Umat muslim dari berbagai latar belakang di Uni Emirat Arab mungkin menafsirkan Ramadhan secara berbeda, tapi yang pasti: Di sini ada sesuatu untuk setiap orang.

Leave a Reply
<Modest Style