Modest Style

Situasi Suriah di Balik Propaganda

,

Berita dari Suriah kurang lebih sama dengan penderitaan. Namun, mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya rekaan? Fatimah Jackson-Best mewawancarai Bayan Khatib dari Kantor Media Koalisi Suriah untuk memperoleh sejumlah fakta.

Foto: SXC
Foto: SXC

Bayan Khatib adalah ibu empat anak, istri dan orang Suriah. Sejak meletus perang di negara itu antara pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dan kelompok oposisi lebih dari dua tahun lalu, dengan saksama Bayan mengikuti setiap pemberitaannya dari Kanada. Status-status di laman Facebook-nya memberikan informasi tentang desa-desa yang dibom, para pengungsi dan kekejaman yang terjadi sehari-hari. Setiap hari, berita yang disampaikannya terasa semakin buruk tanpa adanya harapan untuk berakhir.

Di Suriah sedang berlangsung revolusi memperjuangkan kebebasan dan harga diri, bukan perang sipil

Peluang untuk pergi ke Suriah datang saat Bayan mengikuti program pelatihan di negara tetangga, Turki. Kesempatan ini digunakannya untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsi dan terlibat dalam sejumlah aksi kemanusiaan. Meski berbahaya dan tidak mendapat dukungan penuh dari keluarga, tidak ada yang dapat menghentikannya.

‘Saya pikir inilah kesempatan emas untuk pergi ke sana. Jadi, saya menghubungi badan amal bernama Watan yang terletak di perbatasan Turki dan Suriah agar membantu  memfasilitasi cara yang aman untuk memasuki Suriah.’ Setelah memperoleh dukungan dari Watan, Bayan dan tiga rekan kerjanya melintasi perbatasan menuju negara kelahirannya tersebut.

Apa yang ditemuinya di sana tak jauh-jauh dari kesengsaraan. Ketika mengunjungi sejumlah pelosok desa dan kamp pengungsi, dia bertemu dengan beberapa perempuan muda yang kehilangan usaha, suami dan rumah mereka akibat serangan-serangan dari pemerintah. Para perempuan yang mengalami kondisi seperti ini mengambil semua uang simpanan mereka untuk kemudian pindah ke kamp pengungsi internal. Begitu uang habis, tidak ada pilihan lain selain mengandalkan sumbangan yang nyaris tidak mencukupi kebutuhan mereka.

Di kamp inilah Bayan dan rekan-rekannya memutuskan untuk mengadakan live stream atau tayangan langsung agar warga dunia dapat melihat kehidupan yang dijalani banyak penduduk Suriah. Siaran langsung ini pun digandengkan dengan sebuah prakarsa penggalangan dana dari publik yang digunakan untuk membeli paket makanan serta membagikannya kepada para keluarga yang hanya memiliki sedikit simpanan, atau bahkan tidak sama sekali.

‘Inilah orang-orang yang tidak dapat dijangkau oleh PBB dan semua pihak; sangat sedikit badan sosial yang bisa mencapai mereka untuk menyediakan bantuan yang mereka butuhkan demi bertahan hidup,’ jelas Bayan.

Di tengah tragedi ini, Bayan ingat para aktivis dan media officer yang pernah ditemuinya, yang bekerja tanpa lelah untuk mengubah cara pandang komunitas internasional terhadap situasi di Suriah.

‘Ada lima juta pengungsi internal di Suriah dan dua juta warga Suriah yang mengungsi ke negara-negara tetangga,’ ujarnya. Jika kondisi ini terus berlanjut, di akhir tahun nanti, hampir setengah penduduk Suriah akan menjadi pengungsi di negara sendiri atau telantar di negara orang.

Fakta dan statistik tersebut berasal dari penelitian yang disampaikan Kantor Media Koalisi Suriah yang berbasis di Istanbul. Sebagai pengelola media dan publikasi di Amerika Utara, mayoritas tugas Bayan mengharuskannya untuk membersihkan kekacauan yang ditimbulkan propaganda pemerintahan Assad. Orang-orang tidak membicarakan jutaan warga Suriah yang tidak punya tempat tinggal atau mereka yang kehilangan seluruh keluarga akibat serangan bom.

Alih-alih, cerita tentang ‘jihad seks’-lah yang paling mendapat perhatian. Berita-berita ini ternyata dianggap tidak memiliki dasar dan telah jauh diselewengkan dari fakta sebenarnya.

Untuk mengetahui kisah aslinya, diperlukan sikap kritis dan waspada dengan sumber berita yang Anda baca

‘Mereka menggunakan hal-hal seperti ini—perempuan, anak-anak dan seksualitas—untuk melawan kelompok oposisi sebagai usaha meneror (mereka) dengan harapan memasung dan menghentikan revolusi ini, yang sudah jelas tidak akan berhasil,’ tegasnya.

Saat ini kantornya sedang menyusun laporan penyelidikan terhadap propaganda yang telah menjadi pokok dari upaya pemerintahan Assad untuk mencegah revolusi.

‘Kemarin muncul cerita yang sungguh keji tentang anak-anak. Isinya, ‘coba lihat foto seorang anak yang dirantai di pagar saat pihak pemberontak membunuh orangtuanya karena mereka Muslim penganut aliran Syiah.’ Mereka menciptakan cerita ini, mereka mengarangnya.’

Bayan sudah mendengar cerita tentang ‘jihad seks‘ dari sebuah situs web kecil sekitar satu setengah minggu sebelum media-media besar di seluruh dunia memberitakannya. ‘Ada begitu banyak informasi palsu di luar sana,’ tuturnya, ‘tapi kebenarannya sangat jelas jika Anda menggalinya sedikit.’

Untuk mengetahui kisah aslinya, diperlukan sikap kritis dan waspada dengan sumber berita yang Anda baca. Selain itu, pembaca seharusnya sadar mereka yang menyebarkan informasi tersebut memegang kuasa dan merupakan bagian dari rezim mayoritas yang sedang berusaha menghancurkan apa yang tengah diperjuangkan rakyat Suriah.

‘Hal paling penting yang ingin saya sampaikan kepada orang banyak adalah bahwa di Suriah sedang berlangsung revolusi memperjuangkan kebebasan dan harga diri, bukan perang sipil, bukan dua pihak dengan kekuatan seimbang yang saling berperang memperebutkan kekuasaan. Dari pihak kami tidak ada yang menginginkan kekuasaan. Kami hanya mendambakan kebebasan dan demokrasi di Suriah. Inilah hal yang paling penting.’

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Watan, kunjungi situs web mereka, di mana Anda juga dapat melakukan donasi.

Leave a Reply
<Modest Style