Siapkah dunia menyambut ledakan wisatawan Muslim?

,

Ledakan wisatawan Muslim dunia berdampak baik bagi perekonomian, sekaligus menciptakan pemahaman antar keyakinan yang lebih baik. Oleh Afia R Fitriati.

travellers
Gambar: iStock

“Halal” adalah kata yang sedang tren belakangan ini, mulai dari cat kuku hingga toko peralatan seks menggunakannya sebagai label produk. Namun lebih dari itu, pariwisata halal merupakan fenomena nyata yang berkembang di seluruh penjuru dunia. Frasa “pariwisata halal” maupun “pariwisata Islami” muncul karena umat Muslim memiliki kebutuhan dan keinginan berbeda saat berwisata, seperti misalnya makanan halal dan tempat sholat. Jumlah dan pertumbuhan wisatawan Muslim tidak dapat dipandang sebelah mata. Pada Forum Internasional Pariwisata Islami baru-baru ini yang diselenggarakan oleh Organisasi Konferensi Islam (OIC) di Jakarta, terungkap bahwa masyarakat Muslim dunia menghabislan $137 miliar (Rp 1.700 triliun) untuk berwisata – di luar ibadah haji dan umroh. Angka ini diperkirakan akan tumbuh dengan semakin banyaknya generasi muda Muslim yang berwisata keliling dunia. Inilah alasan mengapa, menurut Nasreen Suleaman di The Guardian, resor pantai bebas alkohol di Turki dipenuhi oleh pengunjung. Sementara itu, negara-negara dengan jumlah umat Muslim kecil seperti TaiwanThailand, dan Selandia Baru berupaya menjadi destinasi wisata yang nyaman bagi Muslim. Namun di samping ramalan tren pasar, saya bertanya-tanya apakah dunia telah siap menyambut ledakan wisatawan yang taat beragama – dan juga mungkin sebaliknya, siapkah para wisatawan ini melihat dunia yang lebih luas? Keraguan ini muncul bukan tanpa alasan jelas. Ledakan wisatawan Tionghoa yang bepergian ke luar negeri tidak hanya membawa keuntungan bagi destinasi wisata, namun juga rasa tidak suka yang meningkat dengan adanya interaksi tidak terduga antara wisatawan dengan tuan rumah.[i] Meski memang, menurut saya citra Islam dan Muslim sudah lebih baik saat ini dibandingkan 10 tahun lalu pasca 9/11, namun tetap saja, Islamofobia ada. Kurangnya fasilitas ramah Muslim dan pergesekan budaya bisa menjadi sumber masalah saat jumlah wisatawan Muslim meningkat. Jika Anda pernah ditahan di konter imigrasi karena hijab Anda atau dijadikan tontonan karena shalat di pojokan ruangan, Anda pasti mengerti maksud saya. Sebaliknya, saya juga penasaran ingin melihat dampak apa yang akan didapatkan dari bepergian pada rekan-rekan senegara saya yang senang membuat pernyataan bahwa Islam mereka adalah satu-satunya cara menjalani hidup yang benar. Namun pada akhirnya, saya yakin dampak positif tren ini akan melebihi dampak negatif yang ada. Memang benar pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu pada acara konferensi: “Pariwisata tidak hanya baik untuk perekonomian. Pariwisata juga berpotensi menjembatani pemahaman, persahabatan, dan hubungan antar keyakinan yang lebih baik.” ________________________________________ [i] Denis Gray, ‘Bad Chinese tourists are earning a reputation as the new ‘ugly Americans’’, Huffington Post, 14 Jun 2014, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik