Modest Style

Siapa bilang Muslim tidak bisa bersenang-senang?

,

Di samping kelucuannya, demam “tari penguin” yang melanda Arab Saudi menunjukkan masalah representasi Muslim di media, tulis Sya Taha.

Gambar: tampilan layar Penguin Dance Saudi Arabia dari YouTube
Gambar: tampilan layar Penguin Dance Saudi Arabia dari YouTube

Minggir, Gangnam Style dan Harlem Shake. Tarian-tarian terkenal ini telah menemukan saingan: “tari penguin” Arab Saudi, yang merupakan tren terbaru yang menyerang media sosial, dengan orang beramai-ramai mengunggah video diri sedang melompat dengan gembira di acara-acara pernikahan, halaman sekolah, dan Jalan Thalia, tempat gaul Arab Saudi populer di Riyadh. Tari ini merupakan versi transnasional dari hiburan tradisional Arab: tarian bersama.

Dua langkah ke kanan, dua langkah ke kiri, satu lompatan ke depan, satu lompatan ke belakang, dan tiga lompatan ke depan. Dengan mengikuti nada yang mudah dan berulang, tari ini cukup mudah untuk orang dewasa dan anak-anak. Bahkan, sebuah video yang ditonton sebanyak 1,8 juta kali berisi ayah dan anak menari berpasangan di tengah ruang keluarga mereka.

Sejak membanjirnya warga Saudi yang menunggah video diri menarikan tari penguin, demam tari ini disebut-sebut sebagai “Muslim Gangnam Style”. Hal ini menyiratkan bahwa entah bagaimana umat Muslim tidak ikut ambil bagian dalam tren-tren internet yang sebelumnya telah meledak. Jelas sekali video yang memperlihatkan Muslim Malaysia menari-nari lucu mengikuti lagu hit bintang pop Korea Selatan berikut harus diperkenalkan kepada media arus utama Barat:


Pencarian di YouTube memperlihatkan bahwa Rumania telah menarikan Dansul Pinguinului di tahun 2010. Sebagai sebuah tarian yang populer ditarikan bersama, tari penguin dilakukan di acara-acara pernikahan, pesta-pesta sekolah, atau hanya di rumah untuk bersenang-senang. Tarian tersebut kemudian menjadi populer di kalangan pengguna YouTube Bulgaria dan Albania, melewati Turki hingga akhirnya sampai di Timur Tengah.

Jadi mengapa tarian ini, yang telah ada sejak bertahun-tahun lalu, tiba-tiba meledak di media? Apakah karena thobe dan abaya hitam putih yang cocok dengan judul tariannya?

Saya pikir hal ini lebih karena Arab Saudi telah dikenal sebagai sebuah kerajaan yang sangat tegas (serius – sepertinya semua artikel tentang negara tersebut mengandung kata-kata semacam “konservatif”, “perempuan”, atau “menyetir”). Sebuah artikel Wall Street Journal menjelaskan bahwa tarian konyol ini merupakan antitesis mengejutkan dari tradisi Saudi yang tegas dan ketat, yang melibatkan tarian Saudi tradisional (diperuntukkan bagi jender tertentu, tentu saja), musik tradisional, instrumen tradisional, pakaian tradisional…dan lain sebagainya. Orang-orang di “kerjaan tertutup” yang melarang bioskop dan jenis “hiburan” lainnya ini sebenarnya juga ingin bersenang-senang.[i]

“Wow, mereka sama dengan kita!” Tidak ada yang mengira Muslim dapat bersenang-senang. Jadi saat mereka bersenang-senang, hal tersebut dapat diangkat menjadi berita.

Tren Mipsterz hanyalah satu contoh terbaru: pada dasarnya, video tersebut hanyalah tentang perempuan Muslim penggila mode yang bergaya untuk difoto dan bermain papan luncur. Hapus kata “Muslim” dan Anda bisa saja sedang membicarakan perempuan muda manapun di dunia ini. Atau berbagai artikel yang menyoroti perempuan Muslim (terutama pengguna hijab) yang mendapat pendidikan tinggi, bekerja, sebagai seorang homoseksual – apapun yang tampak menegaskan bahwa sebenarnya mereka tidak ditekan oleh agama.

Pemberitaan tren di internet seperti di atas tampak bertujuan menunjukkan sisi “sebenarnya” atau “tersembunyi” dari umat Muslim. Namun, yang sebenarnya sedang dilakukan oleh pemberitaan tersebut adalah membenarkan stereotipe bahwa bagi umat Muslim, kesenangan masih merupakan suatu hal yang luar biasa.

Sayangnya, cara ini telah dipergunakan oleh media arus utama dalam melakukan pemberitaan tentang Muslim. Karena keceriaan dan kesenangan tidak dianggap sesuatu yang normal, umat Muslim masih dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya, kaku, dan keras. Hal ini secara khusus berdampak pada komunitas Muslim minoritas, karena mereka sering diharapkan untuk menyelaraskan diri dengan kelompok mayoritas.

Jadi, nikmatilah tarian penguin saat masih menjadi tren. Dan bergembiralah karena tarian tersebut mengasyikkan untuk dilakukan bersama teman di pantai, atau keluarga di acara pernikahan – namun bukan sekadar karena yang menarikannya adalah Muslim.

Seperti halnya orang lain, kita juga bisa bersenang-senang.


[i] Ellen Knickmeyer, ‘Penguin Dance, Goofy Wedding Staple, Sweeps Saudi Arabia’, Wall Street Journal, 11 Apr 2014, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style