Modest Style

‘Shutdown’ AS Membuat Saya Menjadi Tunawisma

,

Menjadi tunawisma bisa menjadi pengalaman yang merendahkan hati. Alayna Ahmad merenungi fase tak terduga dalam hidupnya.

Gambar: PhotoXpress
Gambar: PhotoXpress

Tak terhitung jumlah orang di dunia yang pernah merasakan menjadi tunawisma di satu titik dalam rentang hidupnya. Bagi beberapa di antaranya, keluarga dan sahabat siap sedia menawarkan dukungan, panduan dan sedikit kemapanan dalam hidup mereka. Dan bagi sebagian lain yang kurang beruntung, menjadi tunawisma merupakan status yang tak berujung.

Saat ini, untuk pertama kalinya, saya menjadi tunawisma.

Pengaturan pemindahan pekerjaan saya dari Colorado ke negara bagian lain sudah dipersiapkan. Apartemen baru saya di Washington baru selesai dicat, dihias karpet dan telah siap menanti kedatangan saya. Karena secara resmi sudah keluar dari apartemen di Colorado, saya berniat untuk tinggal bersama beberapa teman dalam beberapa hari guna mengurus surat-surat perizinan.

Sayangnya, semenjak pemerintah Amerika Serikat melakukan aksi shutdown (penghentian sementara layanan non-esensial pemerintah) pada tanggal 9 Oktober, saya tidak bisa melaporkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan ke kantor pemerintahan. Alhasil saya terjebak di Colorado Springs.

Betapa aneh mendapati bahwa saya telah membayar sebuah apartemen di Washington yang bahkan belum saya tempati, sementara di Springs saya bahkan tak memiliki apa-apa. Seluruh barang milik saya, termasuk perabot, telah dikirim ke Washington minggu lalu. Sedikit barang yang ada hanyalah beberapa kebutuhan dasar yang sengaja saya bawa untuk keperluan selama berkendara sejauh 1.400 mil ke tujuan.

Tanpa satu pun keluarga di kota ini, saya bingung ke mana dan dengan siapa saya akan tinggal. Sahabat baik saya, Elisa, dan suaminya Anthony serta anjing mereka Zeus sudi menerima saya di rumah mereka dan menawarkan saya untuk menetap selama saya membutuhkan. Mereka menyediakan matras-angin dan meletakkannya di “gua pribadi” milik Anthony. Saya sungguh sangat bersyukur.

Orangtua saya prihatin dan khawatir dengan kondisi anak perempuan mereka yang tinggal merantau. Seringkali mereka mengusulkan untuk pulang kembali ke London dan menemukan sebuah pekerjaan yang “normal”.  Biasanya saya hanya akan merespons usulan itu dengan tawa, dan mereka paham betapa keras kepalanya saya. Lagipula, mereka yang membesarkan saya hingga seperti ini.

Saya sangat meyakini sebuah ungkapan klise bahwa semua terjadi untuk sebuah alasan. Keyakinan saya mengatakan bahwa saya perlu menyelesaikan studi saya dan mungkin kemudian kembali ke Inggris. Hidup itu tak pasti dan yang bisa kita lakukan hanyalah berharap untuk yang terbaik. Saya tidak pernah berpikir saya bisa menjadi tunawisma, namun beginilah saya, menginap hanya dengan sebuah tas berisi bawaan seadanya. Kondisi ini membuat saya sangat mengapresiasi hidup khususnya kemewahan yang jarang sekali saya syukuri.

Sepanjang beberapa hari terakhir, saya merasa sangat kesepian, namun ini ternyata memberikan saya kesempatan untuk mengevaluasi kembali kehidupan saya. Sejujurnya saya akui bahwa saya merasa tersudut, terisolasi dan terpuruk. Semata-mata karena dilanda frustrasi hebat, saya bahkan menangis hingga tertidur dan berlinang air mata saat melakukan shalat. Dan kali ini adalah shalat Jumat pertama yang saya lakukan di dalam mobil teman saya, karena tak bisa shalat di rumah mereka dengan Zeus yang selalu mencoba meloncat ke atas alas shalat saya.

Saat saya membuat tulisan ini di kedai kopi lokal,  saya menatap keluar ke arah pegunungan rimbun yang memukau, yang tak pernah gagal membuat saya terpesona. Tiba-tiba, saya menyadari sesuatu dan saya merasa benar-benar diberkahi. Orang bijak berucap, Allah menguji mereka yang paling Dia cintai. Di momen kehidupan saya ini, saya sungguh merasa sedang diuji. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa sesuatu yang baik akan terkuak, saya hanya belum mengetahuinya. Pasti, Allah akan mengungkapkannya di saat yang terbaik menurut-Nya dan bukan menurut saya.

Kini saya merenungi mereka yang hidup menggelandang di negara-negara maju dan berkembang, yang hidup tanpa rumah pun tanpa makanan. Sebaliknya, saya adalah tunawisma yang tinggal bersama sahabat-sahabat yang mencintai dan rela memberi bantuan yang saya butuhkan hingga akhirnya saya kembali mandiri. Mata saya berlinang dan tenggorokan saya tercekat saat saya mengenang saat ibu menyelimuti saya tiap kali saya tertidur di sofa saat menonton TV. Saya merasa kemampuan saya bertahan dalam kondisi ini hanyalah karena doa tulus ibu saya.

Seberat apa pun kondisi saya hari ini, jauh di lubuk hati saya tahu semua akan berlalu. Ketika saya menengok kembali untuk menelisik periode dalam kehidupan saya saat ini, tentu hal ini mengajari saya satu-dua hal. Pertama, saya merasakan kerendahan hati berkat pengalaman ini. Kedua, saya merasa perlu terus mendoakan kaum yang papa. Ketiga, saya menyadari bahwa seseorang tak membutuhkan banyak materi untuk bertahan hidup; saya membayangkan kehidupan para pengelana Sufi yang menjalani hidupnya dengan mengembara, menyebarkan nilai cinta Islami hanya berbekal beberapa pakaian saja.

Saya jelas bukan seorang pengelana. Namun tak bergelimang kemudahan dalam hidup telah membuat saya menyadari bahwa, sebagai manusia, kita tak butuh banyak materi untuk hidup. Seringkali kita gagal mensyukuri apa yang kita punya, dan justru menangisi apa yang tidak kita punya.

Untuk momen ini saya sungguh bersyukur kepada Allah, keluarga saya dan para sahabat yang menyertai keadaan ini. Tanpa mereka, saya bukan apa-apa.

[Not a valid template]

Catatan editor: Tak lama setelah Alayna menuliskan artikel ini, ia akhirnya bisa tinggal di rumah barunya di Washington

Leave a Reply
<Modest Style