Modest Style

Seni Kaligrafi Arab

,

Sebagai bagian dari sejarah Islami dan identitas budaya di seluruh dunia, seni yang nyaris punah ini sangat layak dilestarikan. Oleh Alayna Ahmad.

Pena kaligrafi modern. Pena, atau qalam dalam bahasa Arab, juga bisa dibuat dari bahan tradisional seperti gelagah atau bambu. (Gambar: Pixabay)
Pena kaligrafi modern. Pena, atau qalam dalam bahasa Arab, juga bisa dibuat dari bahan tradisional seperti gelagah atau bambu. (Gambar: Pixabay)

Saya selalu mengagumi frasa dan kata-kata yang terlihat impresif, yang dengan artistik menghiasi kubah-kubah masjid, halaman istana dan lembar-lembar buku kuno. Bentuk seni ini, yang dikenal sebagai kaligrafi, berakar dari budaya Yunani kuno, yang berarti “tulisan indah”.

Karya seni ini telah ada selama berabad-abad silam dan berkembang menjadi beragam tipe aksara. Kaligrafi Arab dengan aneka macam gaya pernah termasyhur sebagai bentuk seni yang adiluhung karena secara langsung mengutip kata-kata dari Al Quran. Sayangnya, kaligrafi Arab di masa kini menjadi bentuk seni yang nyaris punah dengan segelintir orang yang mampu menguasainya.

Di era komputerisasi, iPhone dan tablet, menulis dengan pena menjadi hal yang tak lazim bagi sebagian besar orang. Kini, bahkan kartu ucapan dapat dibuat khusus secara online dan dikirim langsung kepada penerimanya. Menulis surat tak begitu dibutuhkan saat kita memiliki kemampuan surel dengan segala kemudahannya.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, bentuk seni kuno sebagaimana halnya kaligrafi menjadi “antik” dan terkadang terlupakan. Meski demikian, hanya sedikit perubahan dalam hal peralatan yang dibutuhkan untuk mencipta bentuk seni ini. Pena, atau qalam dalam bahasa Arab, masih bisa dibuat dari gelagah maupun bambu – dengan potongan ujungnya membentuk sudut sebagai ujung pena. Bagian ujung pena inilah yang kemudian dicelupkan ke dalam tinta dan digunakan untuk menulis di atas kertas.

Dalam Al Quran, qalam secara metafora merepresentasikan pengetahuan dan hikmah. Baris pertama dalam surat Al-Qalam, atau berarti Sang Pena, tertulis, “…Demi qalam dan apa yang tertulis dengannya” (68:1). Simbolisme dari pena juga merepresentasikan takdir; Tuhan telah mencatat setiap detail tindakan dan kejadian sehingga tak satu pun yang dihadirkan sekadar kebetulan. Para Malaikat yang digambarkan di Al Quran mencatat semua perbuatan baik dan buruk kita, sementara manusia menuliskan hukum-hukum dunia dengan menggunakan pena. Perumpamaan umum dari pena menggambarkannya sebagai senjata yang jauh lebih dahsyat ketimbang pedang.

Terdapat banyak jenis aksara dalam kaligrafi Arab merentang dari kufic (bentuk-kubistik), hingga naskhi (huruf-huruf bergaris lengkung dan cenderung bulat). Kaligrafi berkembang di bawah kepemimpinan dinasti Umayyah (661 M hingga 750 M) di Damaskus, namun menjadi lebih tersistemasi pada era Abbasiyyah (750 M hingga 1258 M).[i] Bersamaan dengan semakin meluasnya pengaruh Islam, maka demikian juga bahasa Arab dan muncullah gaya dan variasi bentuk baru dari pola kaligrafi. Dinasti Ottoman menciptakan sebuah aksara yang diberi nama diwani, yang menjadi favorit saya. Bentuk lekukannya yang romantis dengan lengkung diagonal bukan hanya merangkum ekspresi pikiran namun juga hati.

Saya memutuskan untuk membuat sebuah karya kaligrafi Arab untuk salah satu proyek saya di universitas. Saya tidak berharap banyak akan menghasilkan sebuah mahakarya namun setidaknya saya akan menikmatinya. Kaligrafi tidaklah semudah kelihatannya, dan menciptakan garis lengkung dengan pena memang sulit. Untuk memegang pena dan kemudian membelokkannya agar membentuk sebuah sudut – hampir saja pergelangan tangan saya terkilir! Saya menyadari betapa dibutuhkan waktu bertahun-tahun latihan dan ketekunan agar bisa menguasai praktik yang luar biasa ini. Meski demikian, saya berupaya untuk tidak menyerah dan terus berlatih. Yang akhirnya membuat tulisan tangan saya menjadi semakin baik dan tentu saja menyenangkan.

photo-sm

Sungguh disayangkan, seni yang berusia ratusan abad ini sedang sekarat, terlepas dari kenyataan bahwa seni ini adalah salah satu pilar seni dan arsitektur Islami, menjadi bagian dari sejarah Islam serta identitas kultural di seluruh penjuru dunia. Seni ini adalah warisan bagi kita dan kita harus berupaya keras untuk mempertahankannya.

Bagaimanapun, menurut riwayat, pena adalah apa yang pertama kali Allah ciptakan. Setelah penciptaannya, pena bertanya: “Apa yang harus hamba tuliskan, Tuhanku?” Allah menjawab,”Tulislah apa saja yang telah ditetapkan tentang segala sesuatunya hingga akhir zaman.” [ii]

Mempelajari teknik-teknik ini mungkin bukan sesuatu yang menjadi ketertarikan kita, namun barangkali adalah hal yang diminati oleh anak-anak kita. Mungkin saat Hari Natal ini atau di hari ulang tahun kerabat, alih-alih membelikan hadiah sebuah tablet atau permainan PS3 terbaru, kita dapat sejenak mengenang masa lalu dan membelikan hadiah sebuah qalam bagi seseorang – siapa tahu bisa menjadi hadiah yang paling berkesan seumur hidupnya.


[i] ‘Arabic Calligraphy’, University of Chicago, Center for Middle Eastern Studies, tersedia di sini
[ii] Dikisahkan oleh Ubadah ibn as-Samit, in Abu Dawud, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style