Jangan mengharapkan pernikahan yang sempurna

,

Setelah satu setengah tahun menjalani biduk rumah tangga, Fatimah Jackson-Best merenungkan hal-hal yang ia pelajari tentang mempertahankan hubungan.

couple having a fun pillow fight
“Pertarungan” yang menyenangkan. (Gambar: Fotolia)

Cinderella dulu selalu menjadi kisah dongeng favorit saya. Siapa yang bisa mengabaikan kisah tentang seorang wanita yang mendapat perubahan penampilan drastis dan mendapat seorang pangeran tampan sebagai cinta sejati? Itulah hal yang mengiringi tumbuh kembang banyak wanita serta pria dan membentuk cara kita memandang cinta, romantisme, dan pernikahan. Kita mengharapkan kebahagiaan selama-lamanya sebagai ganjaran dari pencarian cinta yang terkadang brutal. Namun dalam mencari akhir yang bahagia ini, kita jarang mengantisipasi kesulitan-kesulitan di sepanjang jalan yang tidak terhindarkan saat dua orang bersatu.

Mendekati satu setengah tahun pernikahan kami, terkadang saya masih memandangi suami dan bertanya-tanya, “Siapa pria ini?” Kami saling mengenal selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya kami menandatangani kontrak pernikahan, jadi ia bukan seseorang yang sama sekali asing bagi saya. Yang tidak saya duga saat itu adalah adanya perangai tertentu yang kami masing-masing miliki, yang sulit diterima dan bisa jadi sumber pertengkaran dan perselisihan.

Tahun pertama pernikahan cukup sulit dihadapi: butuh waktu dan tenaga banyak untuk mengendalikan tuntutan dari luar, belajar berbagi tempat tinggal, dan bernegosiasi mengenai peran yang akan diambil dalam hubungan kami. Saya bisa memahami mengapa pernikahan beberapa orang tidak mencapai usia satu tahun, karena pernikahan tidak mudah dan tidak selalu menyenangkan.

Di awal-awal pernikahan, saat saya tidak mengerti mengapa kami tidak memiliki pernikahan tanpa cela sebagaimana yang saya bayangkan, hingga saya bertanya-tanya tentang resep rahasia yang dimiliki orang-orang sekitar yang tampak memiliki pernikahan sempurna. Mereka semua menyampaikan jawaban yang sama pada saya, dan saya akan membagikan jawaban tersebut pada siapapun yang membutuhkan: tidak ada yang namanya pernikahan sempurna, tidak ada cinta ideal, dan tidak ada cara yang umumnya benar dalam berhubungan dengan pasangan. Pernikahan bukanlah tentang dua orang menyumbang 50-50; Anda harus berupaya 100 persen sesering mungkin.

Dan tidak ada yang namanya dongeng. Maaf jika mungkin hal ini sulit diterima, tetapi sedikit keterusterangan bisa jadi merupakan satu-satunya cara kita bisa memulai memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh ekspektasi tidak realistis yang kita berikan dalam sebuah hubungan dan kepada orang di dalam hubungan tersebut.

Tidak ada yang namanya pernikahan sempurna, tidak ada cinta ideal, dan tidak ada cara yang umumnya benar dalam berhubungan dengan pasangan

Untuk berkembang dalam sebuah hubungan, kita harus menerima bahwa mencari kesempurnaan hanya akan membuat kita merasa tidak puas. Hal ini merupakan bagian dari budaya kita – saat kita mencari pasangan, kita menciptakan berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh calon pasangan kita. Saya pernah mendengar baik pria maupun wanita membacakan daftar panjang hal-hal yang diinginkan dari calon pasangan mereka, dan seringkali daftar ini berisi hal-hal dangkal seperti penampilan, tinggi badan, pemasukan, dan usia.

Terlalu banyak perhatian diberikan pada hal-hal yang akan sirna atau tidak begitu penting, dan sangat sedikit yang memikirkan hal-hal penting seperti bentuk dukungan moril yang dibutuhkan untuk bertahan dalam pernikahan.

Bagi saya, bagian penting yang membuat penikahan saya berjalan baik adalah mengelola ekspektasi yang saya berikan pada pernikahan serta pada suami. Naif sekali jika kita berpikir bahwa pernikahan akan memecahkan masalah yang dimiliki kedua orang sebelum bersatu; justru sebaliknya, pernikahan bisa jadi malah memperburuk masalah Anda. Begitu juga, saya tidak bisa menuntut suami untuk mengetahui suasana hati atau perasaan saya jika saya belum memberitahunya.

Meski terdengar klise, langkah terbaik mengelola ekspektasi Anda adalah dengan membicarakannya. Dari masalah keuangan hingga kemesaraan, dan lain sebagainya – harus dijabarkan dengan jelas dan setiap pihak harus cukup terbuka untuk membicarakannya. Bahkan dalam suatu hubungan, kita masih menghadapi rasa takut akan penolakan atau ketidakmampuan mengungkapkan perasaan. Daripada membiarkan hal-hal ini membungkam Anda, secara perlahan biarkan pasangan tahu apa yang Anda rasakan dan butuhkan.

Saat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pasangan, langkah selanjutnya adalah bertindak. Ini adalah sebuah konsep yang masih saya pelajari, dan mungkin merupakan salah satu pelajaran tersulit yang pernah saya terima. Meski intinya bukanlah untuk mengorbankan diri, tetapi pernikahan memang membutuhkan komitmen bersama untuk menyimak, belajar, dan terlibat dengan satu sama lain. Hal ini bisa jadi bermakna mendukung mereka dalam hal yang yang mungkin bukan minat Anda, atau bersedia mendengarkan mereka saat mereka merasa frustasi. Dengan memberikan 100 persen upaya dalam suatu hubungan, secara berkelanjutan kita berinvestasi dan memperkuat nilai sebuah hubungan.

Pernikahan mungkin tidak memiliki akhir seperti dalam kisah dongeng sebagaimana yang kita inginkan, tetapi dua orang yang berdedikasi bisa menciptakan sebuah hubungan yang memperkaya dan memberi rasa aman. Tidak ada cetak biru dalam melakukan hal ini, tetapi dengan menciptakan peraturan dan pedoman tersendiri, Anda bisa memiliki sebuah hubungan yang ideal bagi Anda berdua.

Leave a Reply
Aquila Klasik