Modest Style

Pembawa berita tanpa hijab dan kemunafikan di Saudi

,

Kemarahan atas kemunculan pembaca berita wanita Saudi tanpa hijab mencerminkan kondisi dunia. Oleh Elest Ali.

Musim panas 2014 ini banyak diramaikan oleh berita dari dunia Muslim yang menyedihkan. Berita yang datang dari Arab Saudi baru-baru ini muncul sebagai pelengkap yang antiklimaks, yang menistakan.

Kemarahan meledak saat seorang pembaca berita wanita dari saluran Al Ekhbariya muncul di TV nasional tanpa mengenakan hijab. tampaknya pada kemunculan sebelumnya, ia menyampaikan berita dalam balutan hijab. Kini ia tampil di layar televisi dengan ikal Saudi yang dapat dipandangi setiap orang dengan bebas.

Wanita tanpa hijab bukanlah hal tidak biasa di TV Saudi milik negara, maka kita jadi bertanya-tanya apa penyebab semua kemarahan ini sebenarnya.

Namun penyebabnya pasti cukup besar hingga bahkan the Independent membahasnya, dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengingatkan kita, kalau-kalau kita lupa, konsekuensi mengerikan yang menanti wanita Saudi yang berlaku tidak pantas. Di sinilah serunya. Seorang juru bicara Radio dan Televisi Saudi dilaporkan menyatakan bahwa pada saat itu si pembaca berita sedang bertugas sebagai koresponden dari studio mereka di London. Jadi, pelepasan hijabnya tidak terjadi di tanah Saudi.

Hal ini akan jadi sangat masuk akal jika Anda pernah berada dalam penerbangan dari Arab Saudi atau sebuah negara Teluk Arab menuju Eropa. Seiring dengan pesawat yang bersiap mendarat dan penumpang yang mulai mengencangkan sabuk pengaman dan menutup meja lipat, Anda akan melihat terjadinya persiapan lain. Para perempuan Saudi akan mulai melepaskan semua sheila dan abaya yang mereka kenakan dengan cara yang jauh dari halus. Saya pribadi mengenal beberapa wanita dari Saudi dan Emirat yang melepaskan hijab mereka tanpa peduli di bagian dunia mana mereka berada, jadi saya tidak suka mengeneralisasi. Meski begitu, tindakan melepas hijab di luar negeri di antara wanita Saudi sayangnya memang umum terjadi.

Namun artikel ini bukanlah tentang hal itu. Hal-hal pelengkap yang tadi saya sebutkan, yang menistakan, adalah sebagai berikut:

Ini abad ke-21.

Saudara kita di Palestina sedang dihabisi menggunakan persenjataan yang dibiayai oleh AS, yang –tidak mungkin bisa dibantah siapapun — dimungkinkan oleh persekutuan dan minyak dari Saudi.

Ada rumor tentang Arab Saudi yang membiayai operasi anti-Iran oleh Mossad, badan intelijen nasional Israel.

Bashar al-Assad masih menjagal rakyatnya sendiri sementara dunia hanya berdiam diri.

ISIS membuat Timur Tengah berkobar dengan teror yang belum pernah ada sebelumnya dengan apa yang mereka sebut sebagai jihad.

Sementara itu, salah satu negara Muslim terkaya di dunia (yang merupakan tuan rumah tanah-tanah suci Islam) hanya berani bersuara saat ada kejadian yang melibatkan wanita.

Sebagaimana biasanya, media memasukkan sentuhan “Islam menindas wanita” dalam pemberitaannya, meski hampir tidak ada hal yang berharga untuk dijadikan berita. Percayalah, saya terlah menginterogasi Google dan tidak seorang pun telah dipecat karena hal ini.

Namun apakah kita terkejut? Tentu tidak. Jika dunia Muslim merupakan sebuah keluarga dengan banyak cacat, maka Arab Saudi adalah paman gemuk memalukan yang diam-diam cabul, memiliki standar ganda dan kecanduan berjudi. “Kemarahan” ini memperlihatkan segalanya yang salah dengan penerapan hukum syariah yang munafik di Arab Saudi. Keimanan dan kehormatan keagamaan mereka, tampaknya, hanya bergantung pada para wanitanya yang tertindas.

Ya, hijab merupakan kewajiban dalam Islam. Namun pelaksanaannya tidak dapat dipaksakan sebagaimana shalat dan berpuasa tidak dapat dipaksakan. Menekan seorang pria ke sajadah atau memaksanya tidak makan selama setengah hari tidak membuatnya menjadi pemeluk agama yang agamis. Hal tersebut hanya membuatnya marah. Memaksakan agama hanya menghasilkan perasaan anti-keagamaan dan sikap apatis yang membuat kejadian pelepasan hijab di pesawat dan keteledoran Al Ekhbariya menjadi masuk akal.

Meski begitu, saya belum pernah menjadi pemimpin suatu negara sebelumnya, jadi mungkin saja saya salah.

Leave a Reply
<Modest Style