Modest Style

Salwa Duaibis, pembela kaum perempuan Palestina

,

Kerja keras tidak kenal lelahnya telah menolong banyak kaum perempuan di seluruh Palestina. Pembela hak kaum perempuan Salwa Duaibis berbincang dengan Amal Awad tentang bekerja bersama perempuan yang berada di bawah penjajahan dan ketangguhan luar biasa mereka.

1601-WP-Salwa-by-Amal-sm

Awal tahun ini, Four Corners, sebuah program Australia yang membahas peristiwa terkini di jaringan penyiaran nasional ABC, menyiarkan sebuah acara yang menyorot anak-anak di Palestina.[i] Lebih jelasnya, segmen bertajuk ‘Stone Cold Justice’ tersebut mendokumentasikan kenyataan hidup memilukan di wilayah yang terjajah Israel. Dokumenter ini berfokus pada cara tentara Israel menyasar dan membunuh anak-anak lelaki Palestina.

Salah satu suara yang terdengar dalam acara menyedihkan tersebut adalah Salwa Duaibis dari Women’s Centre for Legal Aid and Counselling (WCLAC – Pusat Bantuan dan Konseling Hukum Perempuan), sebuah organisasi independen non-pemerintah berbasis di Ramallah, yang bertujuan untuk membangun masyarakat demokrat Palestina berdasarkan prinsip kesetaraan jender dan keadilan sosial.

“WCLAC bertujuan untuk menangani penyebab dan akibat dari kekerasan berdasarkan jender di dalam masyarakat Palestina sekaligus efek pelanggaran hak azasi manusia pada jender tertentu yang muncul dari penjajahan berkepanjangan,” jelas Salwa.

“Hingga hari ini, WCLAC bertindak tidak hanya untuk membalikkan warisan budaya negatif dan sikap sosial diskriminatif terhadap kaum perempuan Palestina, namun juga untuk menangani kebutuhan perempuan yang menjadi korban tindakan Israel di Palestina.”

Salwa menyebutkan bahwa WCLAC merupakan “pembela utama hak azasi kaum perempuan di Palestina”, dan tidak tergoyahkan dalam memegang komitmen untuk menyediakan bantuan hukum, konseling sosial, dan layanan perlindungan untuk perempuan dalam sebuah lingkungan di mana pelanggaran hak azasi manusia merajalela dan masalah kaum perempuan seringkali diabaikan.

Melalui pekerjaannya sebagai kepala program pembelaan internasional di WCLAC, ia telah mendengar banyak kisah meresahkan dari para ibu yang dipaksa menyaksikan putra mereka digiring keluar rumah tengah malam.

Dalam melakukan perannya pada program pembelaan, yang ditujukan untuk mengawasi dan mendokumentasikan pelanggaran hak azasi Israel dan menyoroti dampak pelanggaran ini terhadap jender tertentu, Salwa menerima lebih kurang 150 pengakuan yang dikumpulkan setiap tahun dari para perempuan Palestina yang tinggal di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Perbatasan Gaza.

“Pengakuan-pengakuan ini dipergunakan dalam kampanye pembelaan, untuk memberi suara bagi kaum perempuan yang tinggal di balik Tembok, di dekat pemukiman, atau di sisi jalan-jalan perlintasan. Para perempuan Palestina menceritakan kisah luar biasa tentang diri mereka dan keluarga mereka, yang memiliki dampak jangka panjang bagi para pendengar, yang menjadikan kisah-kisah tersebut pembelaan paling baik untuk mewakili seluruh warga Palestina.”

Pekerjaan semacam ini bukan hal baru bagi Salwa, yang memang seorang yang kuat. Ia telah meluangkan sebagian besar kehidupan profesionalnya untuk membantu kaum tertindas, dengan pendekatan menarik dalam menangani ketidakadilan. Sebelum bergabung dengan WCLAC, Salwa menggerakkan perusahaan perempuan yang mempekerjakan sekitar 40 perempuan di pabrik produksi Tepi Barat yang pertama kali mengekspor pakaian dalam perempuan berkualitas tinggi. Klien mereka adalah gerai ritel kelas atas di Amerika Serikat dan Eropa seperti Harrods, Victoria’s Secret, dan Sax Fifth Avenue.

Tujuan perusahaan tersebut adalah untuk mengenali dan menantang hambatan untuk melakukan perdagangan langsung antara wilayah terjajah dengan seluruh bagian dunia lain, jelas Salwa. Sedangkan niat awalnya adalah untuk memperlihatkan bahwa, jika diberi kesempatan, warga Palestina – terutama perempuan – memiliki kemampuan untuk bersaing dengan sukses dalam pasar dunia.

“Barang-barang seperti, G-string­ sutera, kamisol, gaun malam, dan kimono dijual di gerai ritel kelas atas dengan label ‘Dibuat di Tepi Barat jajahan Israel’. Para perempuan merasa bangga dengan produk mereka dan mampu mendapatkan pemasukan dengan jumlah baik, bahkan dalam beberapa kasus lebih banyak daripada para lelaki di keluarga mereka. Dengan senang hati mereka melawan larangan yang diberlakukan oleh militer Israel seperti jam malam, pembatasan listrik, titik pemeriksaan, dan bahkan penahanan untuk memenuhi tenggat sempit sekaligus menjaga standar.”

Namun, perusahaan tersebut tidak bertahan. Salwa menyatakan bahwa meski mereka berhasil mendapatkan kode cukai dari pemerintah Amerika dan Eropa yang mengakui wilayah Palestina yang dijajah sebagai kesatuan terpisah, pabrik tersebut terpaksa ditutup saat kredit pajak yang dipinjamkan oleh organisasi ditahan oleh pihak berwenang Israel.

“Organisasi kemudian memfokuskan diri melobi pemerintah Eropa untuk melaksanakan tanggung jawab mereka berkenaan dengan pelanggaran yang dilakukan Israel. Yang kami permasalahkan adalah hukum dan peraturan Eropa yang dilanggar, dan bukan sekadar tentang perbuatan Israel.”

[Not a valid template]

Pengalaman tersebut membuat Salwa merasa kelelahan, setelah puluhan tahun upaya pembelaan dan perjuangan.

“Setelah 25 tahun kerja seperti ini, saya mengambil cuti setahun untuk menarik napas. Saya diundang untuk bergabung dengan WCLAC dan langsung terikat dengan pekerjaan saya bersama para perempuan yang luar biasa kuat yang sangat ingin suaranya didengar, para perempuan yang telah berjuang bertahun-tahun untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan di saat yang sama menghadapi tekanan dari masyarakat konservatif terhadap perempuan selain tekanan penjajahan.”

Pekerjaannya di WCLAC membuat Salwa meluangkan banyak waktu untuk bepergian ke sekitar Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam rangka mewawancarai para perempuan untuk memahami tantangan yang mereka hadapi, “yang mana banyak dan beragam dan termasuk pengrusakan rumah, pembatasan kebebasan gerak, juga pembatasan atas siapa yang dapat mereka nikahi, di mana mereka dapat tinggal, dan pendidikan yang dapat mereka terima”.

“Namun masalah yang paling menonjol di antara masalah lainnya, bagi saya, adalah pemukiman yang terang-terangan dibangun dengan melanggar hukum internasional di tanah Palestina. Yang telah saya pelajari dari pekerjaan saya adalah bahwa tidak hanya pemukimannya ilegal, namun mereka juga berada di pusat terjadinya sejumlah pelanggaran hak azasi manusia sehari-hari dan berdampak pada 2,5 juta warga Palestina.

Salwa mengatakan bahwa pemukiman tersebut dapat berjalan dengan menghancurkan warga Palestina setempat.

“Tidak ada cara lain yang dapat dilakukan untuk membangun pemukiman. Di lapangan ini berarti adanya serangan malam hari, titik pemeriksaan, hukuman massal, dan kekerasan oleh pendatang – yang kesemuanya menimbulkan trauma bagi lebih dari satu generasi Palestina.”

Sulit rasanya mencari sisi positif dari hal seperti ini, namun bagi Salwa, terdapat kebahagiaan dalam berhubungan dengan para perempuan yang hidup di bawah jajahan Israel. Ini soal mendengarkan kisah mereka, dan berusaha sedikit demi sedikit memahami bagaimana para perempuan ini dapat bertahan dan tetap waras.

“Hal ini juga membebani saya dengan rasa tanggung jawab besar bahwa saya harus melakukan sesuatu sebagai upaya untuk mengubah keadaan para perempuan ini, yang banyak di antaranya menyatakan pada saya bahwa tidak ada yang peduli maka tidak ada gunanya menyampaikan kisah mereka,” tambah Salwa.

“Yang membuat saya bertahan adalah keyakinan di lubuk hati terdalam bahwa orang-orang sebenarnyya peduli dan ingin mengetahui kebenaran dari konfilk ini dan mereka ingin memahami kerugian jiwa yang dialami oleh para lelaki, perempuan, dan anak biasa setelah sekian tahun.”

Salwa mengatakan ia juga menikmati saat-saat menyaksikan manfaat langsung yang didapat dari penyampaian kisah ini bagi para perempuan yang disebutnya telah mencuri perhatian para pendengar yang terdiri dari para suami, ayah, dan saudara mereka, yang mendengar dan memperhatikan dengan penuh kekaguman.

“Terkadang mereka mengejutkan diri sendiri dengan betapa mahirnya mereka bercerita,” ujarnya. “Saat saya bertanya pesan apa yang ingin mereka sampaikan kepada dunia, mereka menyatakan tidak menginginkan apapun selain hidup dengan kehormatan dan keamanan dan jaminan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka.”

Sementara keinginan terbesar Salwa adalah melihat kedamaian dan keadilan. “Saya yakin hal ini hanya dapat dicapai saat prinsip hukum yang mapan diberlakukan.”


[i] John Lyons, Janine Cohen and Sylvie Le Clezio, ‘Stone Cold Justice’, Four Corners, 24 Feb 2014, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style