Modest Style

Reaksi Setelah Pembunuhan Woolwich

,

Amenakin menuliskan tanggapannya terhadap dampak dari serangan brutal di jalanan London.

Satu dari sekian banyak reaksi pascapembunuhan Woolwich: Kevin McDonald, mantan Uskup Agung Southwark, dan Imam Ali Omar, imam di angkatan bersenjata Inggris, meletakkan karangan bunga di luar Barak Woolwich menyusul pembunuhan terhadap Lee Rigby. AFP Photo / Carl Court
Satu dari sekian banyak reaksi pascapembunuhan Woolwich: Kevin McDonald, mantan Uskup Agung Southwark, dan Imam Ali Omar, imam di angkatan bersenjata Inggris, meletakkan karangan bunga di luar Barak Woolwich menyusul pembunuhan terhadap Lee Rigby. AFP Photo / Carl Court

Insiden mengerikan baru-baru ini terjadi di Woolwich atas tentara Inggris Lee Rigby, yang dibantai hingga tewas di jalanan pada siang hari bolong. Hari itu, saya memutuskan untuk menanggapi kejadian tersebut di laman Facebook saya. Pesan saya sederhana saja: menekankan bahwa Islam tidak membenarkan pembunuhan, dan menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban. Saya, seperti mayoritas orang yang sudah melihat foto-foto kejadian tersebut di media, kaget dan sedih atas tragedi ini. Bukan hanya karena tingkat kekejamannya, tetapi juga karena pembantaian itu telah secara keliru diasosiasikan dengan Islam.

Tidak mengherankan, setelah insiden ini muncul berbagai reaksi di seluruh jagad maya. Beberapa orang berargumen liputan media secara tidak adil memberinya perhatian yang lebih besar dibandingkan perhatian terhadap bangsa Palestina yang menghadapi tingkat kekejaman yang sama (dan sering kali lebih buruk). Pihak lain menilai pemberitaan terhadap kasus ini relatif lebih besar dibandingkan pembunuhan bermotif rasial terhadap Mohammed Salem (75), yang tewas ditikam saat pulang ke rumahnya dari masjid, hanya beberapa minggu sebelum pembunuhan Lee Rigby. Belum lagi dengan semakin banyaknya sumpah serapah bernada Islamofobia, di mana orang mendesak Muslim untuk ‘pulang’, atau, lebih sadisnya lagi, diganjar perlakuan yang sama dengan yang dialami Lee di saat-saat terakhirnya.

Dari semua reaksi di atas, Anda mungkin menganggap caci maki bernada Islamofobialah  yang akan membuat saya marah atau emosional. Sama sekali tidak.

Saya meyakini bahwa kita tidak dapat mengalahkan rasa benci dengan kebencian yang lebih besar.

Bagi mereka yang beranggapan bahwa kita hanya bisa mematahkan prasangka dengan hujatan di Facebook, Twitter, bahkan di khotbah, saya ulangi, usaha tersebut akan sia-sia belaka karena kita tidak mungkin dapat menghapuskan ketidaktahuan dari muka bumi.

Dalam kadar tertentu, sikap tidak tahu akan selalu ada. Meskipun di beberapa negara kadarnya lebih parah dari negara yang lain, ketidaktahuan ini berkembang karena faktor pendidikan, pengetahuan dan kasih sayang terhadap sesama yang tidak diprioritaskan menjadi budaya utama.

Jangan lupa, orang yang tidak tahu kerap tidak merasa dirinya tidak tahu. Hal ini tidak mengherankan. Setiap orang di planet ini pasti memiliki ketidaktahuan akan sesuatu, sebab tidak ada orang yang ‘tahu segala-galanya’. Sebagian orang tidak memiliki pengetahuan tentang peraturan sepak bola. Yang lain tidak paham cara kerja politik atau cara mengoperasikan komputer. Dan yang lainnya lagi kebetulan tidak memahami Islam yang sesungguhnya — ajaran yang dipraktikkan 99 persen Muslim di dunia — karena mereka telah dibombardir berbagai pesan negatif yang disampaikan media tentang agama ini.

Saya selalu geleng-geleng kepala saat membaca tulisan ‘Islam teroris’ di artikel surat kabar atau judul-judul berita. Terorisme bukanlah bagian dari Islam. Oleh sebab itu, penggabungan kedua istilah ini membuat konsepnya tidak hanya bersifat paradoks tetapi juga, secara cukup jelas, merupakan usaha nyata yang disengaja untuk mengasosiasikan Islam dengan kekerasan. Ironisnya, kata ‘Islam’ sebetulnya berasal dari bahasa Arab ‘salaam’, yang artinya ‘kedamaian’. Saya jamin Anda tidak akan pernah melihat penjelasan ini dalam berita yang disiarkan BBC!

Meski demikian, media tidak sepenuhnya bertanggung jawab terhadap persepsi negatif tentang Muslim, karena pernyataan tersebut berarti membebaskan Muslim yang memang melakukan tindakan kekerasan dari segala tuduhan. Pertanyaannya: apa sebenarnya hubungan agama, terutama saat dimanipulasi pihak-pihak yang bermaksud buruk, dengan semua ini? Manusia memang tidak sempurna, dan menjadi pemeluk agama tertentu pun tidak lantas menjamin mereka tidak akan mengalami beragam persoalan mental dan emosional. Islam jelas sempurna. Akan tetapi, umatnyalah yang tidak sempurna, begitu juga dengan umat pemeluk agama lain (jika pun ada) di dunia.

Perenungan atas berbagai peristiwa beberapa minggu terakhir ini membuat saya menyadari bahwa membicarakan kasus ini bukanlah hal tabu. Saya tidak sedang meminta maaf untuk pelaku kejahatan yang mengaku Muslim tersebut. Sebagai umat yang beragama Islam, kita perlu bisa membedakan beragam jenis pendekatan yang diambil oleh orang-orang Muslim terhadap penggambaran keliru atas agama kita, bukan hanya yang dilakukan oleh media, tetapi juga oleh mereka yang melakukan kekejaman atas nama Islam.

Karena kita perlu menerima kenyataan bahwa memang ada orang-orang  yang menyebut diri mereka Muslim namun melakukan berbagai tindakan yang mengerikan, memelintir ajaran agama yang indah ini demi membenarkan tindakan mereka. Mereka mungkin terabaikan, tersingkirkan, terkecewakan — kita bisa seharian mendiskusikan kemungkinan penyebab dasarnya — tetapi faktanya adalah mereka melabeli diri mereka dengan agama yang sama dengan orang-orang seperti saya serta sebagian besar Muslim taat hukum lainnya di luar sana.

Maka dari itu, suka atau tidak, orang yang tidak paham tentang Islam (sering kali bukan karena kesalahannya sendiri) akan menghubungkan kami dengan teroris. Memang tidak adil, tapi begitulah perilaku manusia. Mengabaikan atau menolak berkomentar terhadap insiden seperti kasus Woolwich dengan alasan ‘saya tidak menyesalinya’ menyebabkan kita kehilangan kesempatan istimewa untuk membuka wawasan orang yang tidak memahami Islam. Ini adalah sebentuk dakwah. Membangun respons yang tenang dan logis terhadap tuduhan penuh kebencian dan kesalahpamahan tentang Muslim adalah kekuatan untuk menegakkan cara-cara bermartabat dan penuh kasih yang kita contoh dari Nabi Muhammad SAW. Bayangkanlah ummah (masyarakat Muslim dunia) yang kompak dan sabar, yang mengoreksi segala miskonsepsi dengan hati-hati, serta selalu menjaga emosi. Sikap ini tidak hanya akan bermanfaat bagi ummah sebagai suatu kesatuan, tapi juga bagi kita sebagai seorang individu.

Sebab, kita tidak bisa memperbaiki suatu situasi sebelum terlebih dahulu memperbaiki diri kita sendiri.

Di saat-saat berat seperti ini, kita perlu menjadi satu ummah yang tenang. Kita perlu menunjukkan sikap rida (ikhlas menerima kehendak Allah) supaya tidak memendam kebencian, tiada putusnya menggerutu di antara kaum kita sendiri, serta menyimpan kemarahan. Selain itu, pada akhirnya, kita marah kepada siapa? Hingga kita betul-betul dapat mewujudkan kalimat ‘laa illaaha illAllah‘ — tiada Tuhan selain Allah — kita tidak akan bisa mengatasi situasi saat ini karena kita akan terlalu lelah untuk menyadari  bahwa tak ada selembar daun pun di dunia yang sanggup bergerak tanpa seizin Yang Mahakuasa.

Semoga Allah SWT memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk bertingkah laku dalam cara-cara yang sesuai dengan umat Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wa-sallam.

Leave a Reply
<Modest Style