Modest Style

Rima dan Revolusi Para Rapper Muslimah

,

Para perempuan muda ini menentang kekerasan, diskriminasi dan stereotip dengan seni mereka yang tanpa kompromi. Oleh Afia R Fitriati.

Para rapper Afghanistan, Susan Feroz (kanan) dan rekannya, unjuk kebolehan pada acara The Sound Central Festival di Pusat Kebudayaan Perancis di Kabul, 3 Oktober 2012. AFP Photo / Massoud Hossaini
Para rapper Afghanistan, Susan Feroz (kanan) dan rekannya, unjuk kebolehan pada acara The Sound Central Festival di Pusat Kebudayaan Perancis di Kabul, 3 Oktober 2012. AFP Photo / Massoud Hossaini

Mayam Mahmoud mulai menulis puisi saat masih di sekolah dasar. “Umur saya sekitar sepuluh tahun,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC.[i] Tak lama kemudian, dia mulai membaca puisinya dengan rima yang lebih cepat dan seorang rapper pun dilahirkan.

Baru-baru ini, perempuan Mesir 18 tahun itu menjadi semifinalis acara bakat Arabs Got Talent. Akan tetapi, lebih dari sekadar perempuan muda yang mencoba meraih popularitas, warga Kairo ini memandang musiknya sebagai sarana untuk mengubah perilaku merendahkan perempuan. Jengkel oleh banyak lagu rap yang “menyalahkan perempuan atas apa yang terjadi di sekitar kita”, dia menyampaikan pesan-pesan tentang perempuan muda dan berbagai masalah mereka dengan gaya hip-hop.

“Bukan aku yang harus malu. Kamu merayu, kamu mengganggu, dan kamu merasa tak ada yang keliru. Walaupun cuma ucapan, itu bukan gombalan, tapi itu batu rajam” ujarnya dalam salah satu rapnya.

[“I wont be the shamed one. You flirt, you harass and you see nothing wrong with it. But even if its just words, these are not flirts, these are stones,” ]

Bagi sebagian pemirsa, kerudung yang dengan rapi membelit kepala Mayam tampak sangat kontras dengan penampilannya di atas panggung. Di Mesir, Mayam mungkin perempuan berhijab pertama yang menampilkan seni yang secara tradisi dihubungkan dengan laki-laki dan dunia Barat itu.

Tetapi, lulusan fakultas ekonomi itu tidak ambil pusing dengan para pengecamnya. “Jawaban saya simpel saja: Anda hanya melihat kerudung dan aksi saya di atas panggung serta mengabaikan apa yang saya nyanyikan,” tegasnya dalam wawancara yang sama dengan BBC.

Mayam terbilang beruntung karena keluarganya sangat mendukung upaya artistiknya itu. Ibunya adalah orang pertama yang mendorongnya menekuni puisi, dan meski sebelumnya sangsi dengan keputusannya memilih rap, beliau mengizinkannya merekam sebuah lagu di Alexandria. Ayahnya senantiasa mengingatkannya untuk menyampaikan nilai-nilai positif serta tidak terpengaruh rap ala Barat.

Namun demikian, beberapa artis rap Muslimah menghadapi tantangan yang lebih berat dalam memperoleh dukungan sosial bagi seni mereka. Sebagai salah satu rapper perempuan pertama Afghanistan, Susan Feroz (yang juga lebih dikenal dengan ejaan “Soosan Firooz”) telah menerima berbagai ancaman gelap seiring dengan popularitasnya yang menanjak. “Para sepupu saya telah memutuskan hubungan mereka dengan kami,” tuturnya dalam wawancara dengan Newsweek.[ii] “Mereka tidak mau saya menyanyi. Mereka bilang saya mempermalukan mereka.”

Pilihannya untuk melakukan rap di depan umum tidak hanya masih sangat jarang di Afghanistan, namun kejujuran yang blak-blakan dalam lirik-lirik Susan pun mengusik sebagian pihak.

Album pertama Susan, Our Neighbours, melukiskan cemoohan dan penghinaan yang dialami dirinya dan keluarganya sebagai pengungsi Afghanistan di Pakistan. Lagu itu dengan cepat menjadi populer dan segera disusul lagu kedua, Naqisul Aqal, istilah Arab yang artinya “sakit jiwa”. Di lagu ini, Susan menyampaikan protesnya dalam bentuk rap mengenai ketidaksetaraan gender yang berlaku di negara asalnya.

I am not just a woman. I am also human,” demikian bunyi liriknya. “Laki-laki seharusnya merasa perempuan adalah separuh dari masyarakat kita,” ungkapnya kepada Newsweek.

Perempuan Afghanistan lain yang menemukan penyaluran artistik dalam musik rap adalah Paradise Soururi (24), yang bersama sang tunangan membentuk duet dengan nama 143. Seperti Susan, Paradise mengangkat isu-isu diskriminasi gender dalam lirik-lirik rapnya.

“Aku ingin berlari tapi mereka menghantam punggungku. Aku ingin berpikir tapi mereka memukul kepalaku. Mereka membakar wajahku atas nama Islam, memotong hidungku sebagai balas dendam, menyiramku dengan air keras di tangan dan sekujur badan, menjualku hanya karena aku seorang perempuan” ujarnya dalam salah satu lagunya.

[I wanted to run and they hit me on the back. I wanted to think and they hit me on the head. They burned my face in the name of Islam, cut my nose for revenge, poured acid on my hands and body, sold me because I am only a woman,” she says in one of her songs]

Setelah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun, Paradise kembali ke Afghanistan untuk menjadi artis pertunjukan. Tetapi sejauh ini dia menghadapi berbagai rintangan demi menentukan arah kariernya.Sulit sekali,sesal Paradise kepada reporter Washington Post, Monica Villamizar. [iii] “Benak orang-orang Afghanistan tidak siap melihat para gadis dan perempuan tampil di depan umum; orang-orang menghina saya dan menyebut saya perempuan nakal.”

Di samping kontroversi tersebut, satu hal sudah jelas: dalam rima dan irama rap, para perempuan muda ini menemukan keberanian untuk menentang ketidakadilan dan status quo di negara mereka masing-masing.

Seperti kata-kata dalam lagu rap “Ratu hip-hop Arab” asal Lebanon, Lynn Fattouh alias Malikah:

Para perempuan, kuatkan diri
Gadis muda selalu bangga hati
Sisihkan harga diri yang terlalu tinggi, kita punya kekuatan yang berguna nanti

[Ladies,toughen up
Young girls are always proud
Leave inflated self esteem aside, we have power that will help-help]

[i] ‘Egypt’s first veiled rapper, Mayam Mahmoud’, BBC, 25 November 2013, bisa dibaca di sini
[ii] Sami Yousafzai, ‘Susan Feroz, Afghanistan’s First Female Rapper’, Newsweek, 4 Januari 2013, bisa dibaca di sini
[iii] Monica Villamizar, ‘Afghan female rapper dreams of stardom’, Washington Post, 5 Juli 2013, bisa dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style