Modest Style

Pisang Tanpa Batas

,

Ragam buah-buahan Indonesia yang berlimpah hanyalah salah satu ragam dari kekayaan negeri ini, papar Afia R Fitriati.

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Lahir dan dibesarkan di Indonesia membuat saya sering abai dengan kekayaan dari negeri saya sendiri. Kadangkala, dibutuhkan perspektif dari luar untuk membantu saya menyadari begitu banyaknya karunia bagi kepulauan nusantara ini.

Adalah seorang siswa asing yang berdiam di rumah tante saya yang kemudian membuka mata saya atas keberkahan sederhana namun luar biasa bagi tanah kelahiran saya yang selama ini hampir luput saya syukuri: pisang.

Piper sangat menyukai buah yang lembut seperti krim ini. Ia senang menyantapnya dengan cara Amerika (setidaknya itu anggapan saya): dicelup cokelat dan dibekukan. Kepada saya dan sepupu-sepupu saya terheran-heran, ia mengatakan, “Kalian sungguh beruntung diberkahi memiliki begitu banyak ragam buah pisang. Di tempat saya, kami biasanya hanya punya satu pilihan jenis di pasar bahan makanan.”

Cuma satu? Saya pun mulai menghitung dengan jari jenis pisang yang saya tahu. Kami punya jenis pisang cavendish, pisang ambon, pisang jari di samping sejumlah jenis lain yang bernama lokal. Kami punya pisang warna kuning, hijau dan merah. Kami punya yang sebesar ibu jari hingga yang sebesar lengan saya. Ada jenis pisang yang disantap sebagai camilan penutup juga jenis bertepung yang digunakan untuk masakan.

nenek saya biasa membuat pisang kukus, kolak pisang, sup pisang dan segala macam racikan pisang untuk sarapan, makan siang dan makan malam.

Menengok kembali ke masa kanak-kanak, saya teringat bahwa saya tumbuh bersama aneka macam santapan pisang: keripik pisang (manis, asin atau bertabur cokelat), tart pisang dan pisang goreng sederhana sebagai teman minum teh. Kami sungguh diberkahi dengan tersedianya buah kaya-potasium ini!

Pohon pisang menjadi pusat kehidupan di rumah keluarga nenek di mana ayah saya dibesarkan. Tante saya mengatakan bahwa ia biasa berlindung di bawah lembaran besar daun pisang di waktu hujan turun sepulangnya ia dari sekolah. Di rumah, ia biasa bermain dengan boneka yang terbuat dari cabang kecil pohon pisang yang jatuh, sementara saudara laki-lakinya bermain dengan ‘bedil-bedilan’ yang terbuat dari cabang pohon yang lebih besar.

Dengan semua kenangan menyenangkan tentang pisang, menjadi sebuah misteri bagi saya mengapa ayah saya – dari sekian banyak orang – tidak menyukai pisang. Suatu kali di ruang makan kami, ia bahkan sampai mengatakan bahwa “pisang bukanlah jenis buah-buahan” sehingga tidak layak dihidangkan di meja makan.

Penasaran dengan sikapnya yang aneh ini, saya bertanya kepada tante saya untuk mendapat petunjuk. Perjalanan menyusuri kenangan lama menguak bahwa rupanya, disebabkan ketersediaan pisang di dapur nenek yang selalu berlimpah, beliau ternyata biasa menghidangkan pisang setiap saat – dan yang saya maksud benar-benar setiap saat! Nenek saya biasa membuat pisang kukus, kolak pisang, sup pisang dan segala macam racikan pisang untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Dengan kata lain, hidangan yang keluar dari dapur nenek semuanya terbuat dari pisang! Tak heran ayah saya sudah tidak lagi menyukai pisang. Walau bagaimanapun, ternyata memang ada batas berkelebihan atas sesuatu.

Untungnya, tak satu pun dari anak-anaknya mewarisi antipati ayah terhadap buah kuning yang berbentuk bulan sabit ini. Seperti yang dikatakan Piper, kami sangat beruntung memiliki aneka jenis pisang. Buah ini murah, bernutrisi, lezat dan tersedia di Indonesia sepanjang tahun dalam beragam bentuk, warna dan ukuran. Mengabaikan instruksi ayah, saya tetap menghidangkan pisang di meja makan kami (walau tentunya tidak setiap saat!).

Ada yang mau tart pisang?

Leave a Reply
<Modest Style