Modest Style

Pesohor Muslim Sebagai Panutan Positif

,

Keberadaan selebriti muslim bukan untuk melegitimasi keyakinan Islam, namun mereka memberikan rasa kebersamaan dan pencapaian yang sangat dibutuhkan umat muslim lainnya, tulis Amal Awad.

(Gambar: www.yunamusic.com)
(Gambar: www.yunamusic.com)

Belum lama ini seorang kolumnis Aquila Style, Eren menuliskan tentang selebriti muslim dan dampak yang mereka akibatkan terhadap umat muslim lainnya. Ia berbicara khususnya perihal berpindah keyakinan menjadi Islam, namun poin dasar yang disampaikannya secara universal menyadarkan saya. Mengapa kita merasakan sensasi semangat saat seorang selebriti mengakui identitas kemuslimannya?

“Islam sendiri tidak membutuhkan legitimasi,” bantah Eren. “Islam tidak perlu disampirkan pada sosok seorang bintang film dan penyanyi. Islam memiliki kehidupannya sendiri, yang harus dipisahkan dari para penganutnya.”

Ini adalah artikel yang bergaung nyaring ke dalam hati saya karena meski saya sependapat dengannya, namun sebagai seorang anak, saya menginginkan tidak lebih dari seseorang – atau siapa pun – yang adalah seorang muslim layaknya saya, muncul di film-film, tayangan TV, dan lagu-lagu yang saya nikmati.

Walau hal itu tidak membuat saya beralih dari dunia hiburan, namun melekat dalam pikiran saya bahwa saya adalah bagian dari minoritas yang bukan hanya menerima representasi minim di media – kami bahkan hampir tidak diterima sama sekali. Kami tidak eksis kecuali sebagai karikatur dari tanah eksotis nun jauh di sana di mana penghuninya masih primitif dan terbelakang.

Biasanya penyanyi muslim atau Arab berasal dari Timur Tengah, meski lebih banyak dari kami yang bermukim negara-negara Barat. Kendati banyak umat muslim yang masih sangat konservatif, saya akan sangat bersemangat saat seseorang sekilas terlihat mirip orang Arab atau muslim muncul di sebuah film atau tayangan TV (dan bukannya sebagai seorang teroris). Dan hal seperti ini tentunya… tidak pernah terjadi.

Saya rasa saya menginginkan seorang tokoh panutan semacam itu; seseorang yang bisa saya teladani karena mereka sama seperti saya namun masih bisa berpartisipasi di dunia yang menjadi bagian dalam hidup saya. Saya selalu menyukai bidang seni dan sastra, sehingga bukan hal yang aneh jika saya mencari panutan dengan citra yang dekat dengan keseharian saya, atau sebuah cara pandang terhadap dunia yang akrab dengan saya.

Kini sebagai orang dewasa, saya cukup tergugah saat mendengar seorang artis yang ternyata adalah seorang muslim, jika mereka melakukan suatu aksi yang memikat. Bagaimanapun, saya tidak sedang melegitimasi keyakinan saya, atau pun membuat diri saya merasa lebih nyaman menjadi seorang muslimah. Alih-alih, itu membuktikan bahwa keterlibatan kami di bidang kreatif semakin mantap berkembang karena banyak bermunculan para sastrawan ‘pengolah-kata’, artis dan yang lainnya yang kebetulan adalah umat muslim.

Saya tak bisa menemukan contoh yang lebih baik daripada Yuna, seorang bintang pop indie dari Malaysia yang telah bermukim di Los Angeles selama tiga setengah tahun terakhir. Bekerja sama dengan musisi kelas dunia, termasuk Chad Hugo dari The Neptunes dan Robin Hannibal dari Rhye, ia telah merilis album ketiganya, Nocturnal, minggu lalu.

Yuna bukanlah sosok baru di panggung musik – album sebelumnya bertajuk Lullaby mendapatkan respons positif, dan ia juga telah merilis sejumlah EP, termasuk Decorate. Ia adalah seorang bintang di Malaysia, di mana ia berkolaborasi dengan beberapa merek besar ternama termasuk Samsung, dan ia juga terkenal dengan musiknya.

Ia telah menempuh perjalanan panjang sejak performa panggung yang direkam seadanya beberapa tahun silam yang saya lihat di YouTube. Segera setelahnya, Yuna berhasil membentuk citranya, dan bintangnya siap untuk bersinar. Ia jelas mendapatkan perhatian di AS, dengan majalah Entertainment Weekly melakukan pratinjau peluncuran Nocturnal dalam sesi tanya-jawab.

Yang bisa digarisbawahi perihal ini adalah meskipun musik masih menjadi hal yang diperdebatkan di kalangan umat muslim – Yusuf Islam (juga dikenal sebagai Cat Stevens) diketahui kembali ke dunia musik setelah 20 tahun absen – Yuna mengejar karier bernyanyinya dengan penampilan berhijab. Dia jelas-jelas terlihat sebagai seorang muslim, kendati ia menghadapi berbagai kritik dari sesama muslim karena telah tampil bermusik.

Di tahun 2012, ia menyampaikan kepada Agence France-Presse: “Saya menutupi tubuh dari kepala hingga kaki namun tetap saja mereka menggunjing hal buruk tentang saya. Mereka bilang saya memalukan.” Lebih lanjut ia berkomentar perihal penggunaan media sosial yang membuatnya melakukan “cara pandang ala pacuan kuda – tutup semuanya dan kejar cita-cita serta kesuksesanmu”.[i]

Dengan demikian, Yuna tidak mengikuti tekanan untuk terlihat seperti artis modern lainnya, yang penampilan terbukanya sama penting dengan album yang mereka rilis. Ia memilih tetap pada pendiriannya, dan sepertinya itu berdampak baik positif maupun negatif baginya.

Sedangkan bagi saya, saya menikmati musiknya, dan kenyataan bahwa ia adalah seorang muslimah merupakan pengingat menyenangkan ketika para muslimah – baik mereka berhijab atau tidak – dapat sukses meraih gairah berkarya dalam dunia modern tanpa harus kehilangan identitas keyakinannya.

[i] Shannon Teoh, ‘Malaysia’s female pop stars break out with social media’, 20 Oktober 2012, AFP, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style