Pertemuan Muslim “Tak Terlihat” dengan Intoleransi

,

Seorang Muslim yang “tidak terlihat Muslim” dapat mengalami pertemuan-pertemuan yang canggung, tidak enak, dan tidak terduga, tulis Meaghan Seymour.

(Foto: Stockvault)
(Foto: Stockvault)

Orang-orang cepat sekali menghakimi orang lain berdasarkan penampilan. Sebagai seorang perempuan Anglo-Kanada bermuka bintik-bintik, saya mengalami banyak momen “kekagetan” tiap seseorang mengetahui identitas keagamaan saya untuk pertama kali. Saat saya mengerudungi rambut saya, orang-orang sering salah menyangka saya sebagai penganut Yahudi Ortodoks. Dokter gigi saya, dengan tangan yang sedang berada di mulut saya, sering membicarakan sinagog setempat dan hari libur keagamaan yang akan datang kepada saya.

Seperti kebanyakan orang, kepercayaan beragama saya tidak secara jelas terlihat. Meski saya memperlihatkannya saya melalui banyak cara, cara-cara tersebut tidak sesuai dengan “ekspektasi” masyarakat awam terhadap Muslim yang didasari pengetahuan dari media. Dan untuk berbagai alasan, dalam hal pekerjaan dan hubungan yang tidak terlalu akrab, saya ingin membiarkannya seperti itu. Pertanyaan-pertanyaan pribadi bisa menjadi terlalu pribadi saat kenalan Anda mengetahui bahwa Anda seorang mualaf.

Meski begitu, ada harga yang harus dibayar sebagai seorang “Muslim tak terlihat”. Saya telah mengalami berbagai kejadian sosial yang mengganggu di mana Islam atau Muslim sedang dimusuhi. Kecanggungan muncul saat seseorang yang saya kenal secara sambil lalu berkomentar atau bercanda, atau bahkan bereaksi secara menyebalkan terhadap suatu kejadian, yang menggambarkan kesan negatif yang ia miliki tentang Islam dan Muslim. Dan mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berbicara langsung dengan seorang Muslim! Saya masih belum tahu caranya bereaksi dalam kejadian-kejadian seperti ini.

Kejadian ini termasuk saat induk semang saya sedang berkunjung untuk melakukan perbaikan rumah, dan mulai mengoceh menggunakan kata-kata kasar untuk menunjukkan kebenciannya terhadap “imigran Muslim”, tanpa menyadari bahwa saya juga bagian dari imigran tersebut. Atau saat minum kopi pagi bersama atasan saya yang baru kembali dari perjalanannya ke sebuah negara Muslim dan memberi komentar rasis tentang interaksinya dengan warga setempat. Dan yang tidak dapat dilupakan adalah komentar seorang mantan kolega tentang overpopulasi Muslim di Eropa saat melihat seorang perempuan Muslim dengan anak-anaknya.

Sayangnya, perilaku umum yang diperlihatkan oleh banyak orang di sekitar saya cenderung bersifat agresif, khususnya terhadap Muslim.

Meski saat terjadi (untungnya tidak terlalu sering), hal-hal ini tidak pernah berupa serangan pribadi yang ditujukan kepada saya, saya yakin saya tetap akan menganggapnya kasar, tidak pada tempatnya, dan menyinggung. Bahkan bila saya bukan seorang Muslim sekalipun, saya pasti ingin hal tersebut berhenti.

Namun karena penampilan saya tidak cocok dengan stereotipe yang orang-orang ini miliki tentang seorang Muslim, mudah sekali bagi mereka untuk menganggap bahwa saya ada di pihak mereka dengan segala prasangka dan kekasaran mereka. Mereka mungkin berpikir bahwa saya akan sepakat dengan mereka.

Sambil secara diam-diam menunjukkan ketidaknyamanan dan buru-buru mengubah topik pembicaraan, terkadang saya bertanya-tanya belakangan apakah saya telah melakukan hal yang salah. Apakah saya membela nilai dan kepercayaan yang saya pegang? Apakah saya mengecewakan iman saya dengan tidak menanggapi perlakuan tersebut secara jenaka, cerdas, namun menantang?

Betapa pun akan menyenangkan untuk membela diri dan membalas dengan berteriak: “SAYA SEORANG MUSLIM!” saat kejadian canggung tersebut terjadi, saya percaya kita memiliki kewajiban untuk tidak mempermalukan seseorang di depan umum. Saat kejadian seperti ini muncul di lingkungan pekerjaan, misalnya, reaksi di atas tentunya bukan solusi terbaik.

Pada 2012 beberapa orang dari kalangan Muslim mengadakan protes keras sebagai reaksi untuk film kontroversial The Innocence of Muslims. Saya justru mengagumi kesabaran tiada henti Nabi Muhammad SAW saat menghadapi penyiksanya di berbagai kesempatan.

Namun saya tidak akan “tak terlihat” selamanya tidak peduli betapa diam-diamnya saya menjalankan agama saya. Akan tiba hari di mana  semua orang menyadari bahwa saya tidak makan di bulan Ramadhan, atau mungkin tetangga atau induk semang saya akan menyadari keberadaan Qur’an di rak buku teratas saya. Dan semoga pertemuan-pertemuan meresahkan dan canggung pun akan berakhir.

Bila saat itu tiba, mereka mungkin telah mengenal saya dengan cukup baik untuk menyadari bahwa ternyata seorang Muslim tidak terlalu berbeda (dan tidak selalu terlihat berbeda) dibanding orang lain.

 

Leave a Reply
Aquila Klasik