Modest Style

Pertahanan melawan ilmu hitam

,

Meski harus selalu waspada dan sadar terhadap hal-hal di luar sana, Elest Ali mengingatkan bahwa segalanya terjadi atas kehendak Tuhan.

Gambar: SalamStock
Gambar: SalamStock

Bayangkan: di dalam ruang duduk biasa sebuah apartemen lantai tiga dengan pemandangan lingkungan terpencil kota kecil khas Turki (lihat bagaimana tidak jelasnya penggambaran saya), seorang gotik terbarukan duduk di sudut ruangan dengan gugup sambil menjilati tindikan bibirnya, sementara temannya terbaring di karpet dengan mata tertutup. Ia berjuang menjawab rentetan pertanyaan aneh yang dilontarkan padanya oleh seorang ibu-ibu Turki galak. Wanita ini, konon, dianugerahi dengan “indera keenam”.

Teman yang sedang terbaring di lantai itu datang kemari mencari kesembuhan dari ilmu hitam. Penganut gotik terbarukan itu saya. Bagaimana saya ada dalam situasi ini panjang ceritanya, namun intinya rasa penasaran saya sebagai seorang penulis dapat dipersalahkan.

Saat kami tiba, si ibu ini sedang menyoretkan lafaz Qur’an pada sepotong roti menggunakan bolpoin. Di sebelahnya duduk seorang gadis berusia 23 tahun.

“Putri kami ini,” ujar si ibu sambil berkonsentrasi pada kegiatan yang sedang dilakukan, “telah menikah selama dua tahun dan ia masih tetap perawan. Seseorang yang sangat dekat dengan mereka memantrai si suami hingga ia menjadi sangat kaku.”

Dua hal muncul bersamaan di kepala saya. Pertama, saya merasa sangat malu mendengar seluk beluk pribadi rumah tangga orang yang tidak dikenal. Kedua, kenyataan bahwa si ibu ini menulis di atas sepotong roti  membuat saya ingin segera kabur dari sana tanpa berpaling lagi.

Namun saya dijadikan sasaran sebelum dapat bergerak. Si ibu meminta saya mendekat dan mulai menunjukkan buku yang digunakannya. “Semua yang ada di sini berasal dari Qur’an,” ia menjelaskan, seakan berbicara pada seorang yang skeptis. Saya tidak skeptis namun saya akui saya sangat meragukannya.

Kita harus mencari kekuatan dari berserah diri dan bergantung pada Tuhan semata

Alasan saya dan teman saya berada di tempat tersebut karena kami diberitahu sumber terpercaya bahwa si ibu ini tidak mengada-ada. Bahwa ia tidak bersekutu dengan jin. Tentunya kami menyimpulkan ia akan membaca bacaan tertentu. Memang begitu sunnahnya, dan bukan sesuatu yang tidak salah jika ada seseorang yang membacakan ayat suci untuk Anda, terutama saat Anda berada dalam keadaan moral dan spiritual yang lemah. Namun apa yang kami temukan tidak begitu adanya.

Setiap muncul pembicaraan tentang hal gaib, kebanyakan orang langsung bereaksi dengan menganggap hal tersebut sebagai takhayul dan cara penipu mencari uang. Namun dalam Qur’an dan hadits, hal gaib disebut berkali-kali. Bahkan dari kecil, seorang Muslim diajarkan bahwa tiga surat terakhir di Qur’an merupakan perlindungan paling efektif dari makhluk halus yang berniat jahat. Dan berapa banyak dari kita yang tumbuh dengan mendengar kisah-kisah tentang ilmu hitam yang merusak rumah tangga, menghancurkan keluarga, mengganggu kesehatan, kekayaan, dan kebahagiaan orang? Kisah-kisah yang dibicarakan dengan berbisik oleh para tante di acara minum teh ibu kita.

Di masa sekarang ini, tidak aneh lagi jika kita menemukan hal yang dulunya dianggap takhayul menjadi pemberitaan di koran lokal – tergantung di mana Anda tinggal tentunya. Saat bekerja di Uni Emirat Arab, saya mendapat pasokan kisah horor sehari-hari dari The National, yang berisi kisah aneh petugas kepolisian yang menggerebek dokter-dokter penyihir,[i] dan pelayan yang dipenjara karena mempraktekkan ilmu hitam terhadap majikannya.[ii]

Di Indonesia, ilmu hitam bahkan lebih umum lagi. Keberadaannya mewujud di berbagai kalangan: mulai dari pria biasa yang membawa-bawa jimat hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang secara terbuka menyatakan bahwa anggota keluarga dan para stafnya dikelilingi oleh kekuatan mistis jahat.[iii]

Dari Asia Tenggara hingga Afrika Utara, beragam kebudayaan Muslim dipenuhi dengan orang-orang yang berkecimpung dalam hal mistis. Bahkan di London, saya pernah mendengar langsung dari generasi kedua orang Bengal, Pakistan, dan Somalia yang mengeluhkan anggota komunitas yang terlibat dengan praktek perdukunan. Banyak praktek mistis yang merupakan sisa-sisa dari budaya masa lalu sebelum kedatangan Islam, atau sebuah percampuran dengan keyakinan Islam yang baru. Masalahnya, Islam mengharamkan praktek perdukunan dan sihir dalam bentuk apapun. Islam menganggap hal mistis sebagai sumber fitnah, atau perpecahan dan penderitaan. Mencoba-coba bermain dengan hal gaib, tidak peduli sekecil apapun, mencerminkan syirik.

Meski begitu kisah-kisah semacam ini masih saja bermunculan. Entah di koran atau dari seseorang yang mendengar dari orang lain. Lingkaran sosial saya sendiri telah menghasilkan korban atau apa yang saya sering sebut sebagai dengki yang menjadi nyata. Seram rasanya memikirkan bahwa pelakunya seringkali adalah “Muslim” sendiri. Saya jadi bertanya-tanya apa yang dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu yang begitu jahat. Saya bertanya-tanya dan merasa merinding dan memutuskan lebih baik tidak memikirkannya.

Di tengah kegilaan ini, ada satu pemikiran yang dapat saya pahami. Pemikiran orang yang menderita, putus asa ingin terbebas dari ilmu hitam apapun yang menimpanya. Ini, saya yakin, adalah hal yang dicari oleh praktisi ilmu gaib. Saya jadi teringat kisah lain dari The National: tentang dokter sihir Aljazair yang diadili dan dipenjara di Dubai, yang membela diri pada saat sidang dengan menyatakan bahwa ia hanya menggunakan Qur’an untuk menolong orang lain[iv]  (terdengar akrab?). Dalam prakteknya, ia membacakan ayat Qur’an di atas benda-benda tertentu untuk kliennya, setelah merayu orang-orang dengan janji-janji dan rasa takut. Saat pelanggan telah terperdaya, “pengobatan” yang dilakukan menjadi lebih menyeramkan, melibatkan hal-hal seperti keringat manusia dan bahkan air mani dari suami seseorang yang rupanya tidak setia. Melibatkan biaya dalam jumlah besar juga, tentunya.

Tidak seorang pun dapat tersakiti atau terpengaruh oleh ilmu hitam kecuali Tuhan memang menghendakinya

Ini adalah salah satu contoh percampuran nilai Islam dengan budaya mistis yang saya sebutkan sebelumnya. Pengalaman saya dengan si ibu Turki tadi adalah contoh lainnya. Kenyataannya, terkadang hanya ada garis tipis yang memisahkan ritual keimanan dan ritual mistis. Garis ini menjadi kabur saat kita membicarakan praktek-praktek yang memiliki nuansa keislaman, seperti membacakan ayat Qur’an kepada orang atau air minum, atau meyakini kekuatan penyembuh atau pelindung dari kalimat Tuhan saat digabungkan dengan keimanan manusia. Sayangnya, sekali Anda melewati batas, sangat mudah untuk terus jatuh ke dalam jurang syirik.

Contoh terbaik cara menghadapi ilmu gaib datang dari nabi kita, yang dalam masa hidupnya disebutkan pernah dikirimi mantra. Melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, kita diberitahu bahwa Rasulullah SAW tidak berusaha mematahkan sihir tersebut dengan melawan benda yang digunakan untuk menyimpan sihir.[v] Pertama, karena ia yakin telah disembuhkan oleh Allah SWT – melalui kejadian inilah kemampuan surat al-Falaq dan an-Nas dalam melindungi terungkap. Ia khawatir jika melakukan sesuatu maka ia akan membuat pengikutnya mengikuti perbuatannya dengan sembarangan. Dan bagaimana mereka tahu di mana harus menetapkan batas, saat garis yang ada menjadi sangat kabur?

Menurut saya, tindakan ini menunjukkan niat beliau untuk menghindari terjerembab ke dalam permainan ilmu gaib. Dan memang praktek syirik adalah sebuah permainan, permainan mantra dan anti-mantra, sihir hitam dan putih, pertengkaran remeh yang melemahkan jiwa yang memunculkan ketakutan dan kegilaan. Hadits ini mendorong keyakinan yang kuat atas kekuatan iman dengan menunjukkan bahwa umat Musllim harus memiliki kesadaran atas apa yang ada di luar sana, dan waspada terhadap cara melindungi diri mereka terhadap hal-hal tersebut. Namun hadits tersebut juga menunjukkan bahwa kita harus mencari kekuatan dari berserah diri dan bergantung pada Tuhan semata.

Berdasarkan sebuah ayat dalam surat al-Baqarah (2:102), sihir bukanlah kekuatan jahat yang berasal dari mahluk lain, namun suatu hal yang diberikan Tuhan sebagai ujian. Ironi yang puitis. Jika ilmu sihir adalah suatu hal yang diwujudkan dengan menggunakan kekuatan alam tersembunyi, maka itu artinya ilmu sihir bergantung pada aturan alam yang yang diperintah dan diciptakan oleh Tuhan.

Yang membawa kita ke pokok bahasan paling penting: tidak seorang pun dapat tersakiti atau terpengaruh oleh ilmu hitam kecuali Tuhan memang menghendakinya. Pengirim mantra jahat akan menerima hukuman atas perbuatannya menyakiti orang lain, seperti halnya seorang pembunuh harus bertanggung jawab atas nyawa yang korbannya. Namun pada dasarnya, baik pembuat mantra dan pembunuh, keduanya menjalankan peran dalam skenario yang telah ditentukan di mana seseorang telah ditakdirkan untuk mati atau menderita di tangan seseorang yang lain.

Itulah takdir. Bukan sesuatu yang dapat dengan mudah kita pahami. Tugas kita adalah menemukan hikmah dari kebaikan dan keburukan yang ada. Dan juga meyakini kenyataan sederhana bahwa jawaban dan obat untuk segalanya datang dari Tuhan semata.

________________________________________

[i] Anna Zacharias, ‘Four UAE ‘black magic practitioners’ caught in sting operation’, The National, 2 Nov 2012, dapat dilihat di sini
[ii] Wafa Issa, ‘Maids use witchcraft on food to impress employers, police say’, The National, 24 Mei 2012, dapat dilihat di sini
[iii] ‘Susilo Bambang Yudhoyono acknowledges he believes in witchcraft’, Huffington Post, 22 Jan 2014, dapat dilihat di sini
[iv] Salam Al Amir, ‘Black magic witch doctor jailed after her defence fails to charm Dubai court’, The National, 28 Mar 2013, dapat dilihat di sini
[v] Diriwayatkan oleh ‘Aisyah, dalam Bukhari, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style