Modest Style

Persiapan Spiritual untuk Calon Orangtua

,

Sebagian dari hal-hal terbaik yang bisa dilakukan sebelum menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarga, dikisahkan oleh Afia R Fitriati.

Dua pasang jemari bayi. Gambar: SXC
Dua pasang jemari bayi. Gambar: SXC

Saat kita memasuki tahun baru berikutnya, sebagian di antara kita mungkin sedang memulai perjalanan untuk membangun sebuah keluarga, dengan merencanakan pernikahan atau memiliki seorang anak. Mengasuh seorang anak adalah sebuah tugas yang seharusnya tak diemban tanpa persiapan, sedemikian beratnya sampai-sampai pepatah kuno mengatakan bahwa “Dibutuhkan seluruh desa untuk membesarkan seorang anak”.

Sementara persiapan fisik, mental dan finansial adalah hal-hal penting bagi calon orangtua, keutamaan persiapan spiritual bagi bakal-ibu dan ayah penting pula untuk digarisbawahi.

“Bahkan sebelum kita hendak menikah, terlebih lagi saat hendak membentuk sebuah keluarga, kita harus memiliki niat yang benar,” ujar Nazeerah Shaik Alwie, seorang ustazah (pengajar agama) yang secara berkala mengajar dalam seminar-seminar dan lokakarya terkait tema-tema pengasuhan dan perempuan di Singapura.

Sama seperti hal lain yang kita kerjakan, perencanaan keluarga harus diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah,“ seperti halnya niat yang diikhtiarkan oleh Sayyidah Hannah, ibunda dari Sayyidah Maryam, yang terekam dalam Al Quran pada surat Ali Imran,” papar pemegang gelar master di bidang dakwah (ceramah) dari Universitas Terbuka Kairo di Amerika.

Nazeerah juga menekankan pentingnya shalat dan melafalkan Al Quran bagi sang jabang bayi dalam kandungan. “Kehamilan adalah saat di mana kita memanjakan diri. Kesehatan tubuh menjadi prioritas utama kita, namun lebih dari itu, kita membutuhkan makanan bagi jiwa,” beliau mengingatkan.

“Saat kita mengingat Allah, sesungguhnya kita diberi sebuah hadiah indah bahwa Allah sedang mengingat kita, dan sebagai pemegang amanah sesosok jiwa muda nan rapuh dalam kandungan, selayaknya kita terus-menerus membutuhkannya – perhatian Ar Rahman yang mengingat kita!”

Sementara dikatakan banyak ayat-ayat dan doa-doa yang dianjurkan untuk dilafalkan oleh calon ibu sepanjang masa kehamilannya, ustazah yang bermukim di Dubai ini percaya bahwa praktik ibadah aktual dengan berdoa dan membaca Al Quran jauh lebih penting.

“Sebenarnya hanya masalah kita ingin melakukannya atau tidak,” ujarnya. “Jangan menjadi malas menengadahkan tangan memohon dalam  doa. Jangan hanya berpaling pada Allah di saat kita membutuhkan dan dilanda kesusahan.”

“Sebanyak mungkin yang kita mampu, lafalkan Al Quran dengan lisan kita sendiri ketimbang memutar rekaman murottal-nya, sebab anak kita pasti akan lebih menyukai suara kita dibanding suara lain,” Nazeerah menambahkan.

Ringkas kata, butuh seluruh desa untuk membesarkan seorang anak namun dengan pertolongan Allah, tantangan yang harus dihadapi akan menjadi lebih mudah.

“Dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang telah ia niatkan,”[i] kutip Nazeerah mengacu pada sebuah hadis.

“Jika, sejak awal, niat yang sudah kita tanamkan adalah hanya atas nama Allah, yakinlah bahwa Dia akan mengurus segala sesuatunya. Dan tentu saja persembahan terbaik yang bisa kita berikan kepada anak kita adalah orang tua yang saleh,” papar Nazeerah diiringi senyuman.


[i] Dikisahkan oleh Umar bin Al-Khattab, dalam Bukhari, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style