Modest Style

Pernikahan: Sebuah Timbal Balik dari Dua Identitas Terpisah

,

Meskipun berada dalam biduk pernikahan, perempuan tidak seharusnya mengabaikan mimpi dan minat mereka, kata Mariam Sobh.

Bahkan kompromi termulus pun bisa goyah dari waktu ke waktu. Namun mereka adalah dasar dari pernikahan yang berhasil. (Gambar: SXC)
Bahkan kompromi termulus pun bisa goyah dari waktu ke waktu. Namun mereka adalah dasar dari pernikahan yang berhasil. (Gambar: SXC)

Sebagai seorang ibu bekerja, hidup bisa menjadi sangat sibuk. Dan sebagai ibu bekerja dengan hobi di luar pekerjaan dan keluarga, yah, katakanlah saya sering mendapati diri saya bertanya-tanya apakah saya meninggalkan oven menyala, atau apakah saya lupa untuk menjemput satu dari anak-anak dari sekolah. Ada begitu banyak hal untuk diingat!

Bisa dikatakan, saya harus mengucapkan banyak terima kasih kepada suami saya, karena tanpa dukungan darinya, saya tidak akan bisa melewati seminggu tanpa gangguan saraf. Meskipun gaya hidup kami terlihat sedikit tidak biasa — dengan suami saya mengambil alih banyak tanggung jawab seperti memasak, membersihkan rumah, dan membantu anak-anak mengerjakan PR — saya menemukan bahwa hal itu berjalan lancar untuk keluarga kami.

Kami seperti tim gulat. Tergantung pada apa yang terjadi dalam hidup kami dan apakah saya harus mengikuti audisi atau pekerjaan voiceover di menit-menit terakhir, suami saya mampu untuk melompat dan menangani berbagai hal dengan mudah. Dan lalu ada hari-hari ketika suami saya memiliki aktivitas atau harus bekerja lembur, dan saya ada di sana untuk anak-anak.

Saya sangat bersyukur, karena jika bukan karena dukungannya, saya tidak akan mampu melakukan hal-hal yang menjadi minat saya. Saya pikir ini sesuatu yang penting yang banyak diabaikan perempuan ketika mempertimbangkan untuk menikahi seseorang.

Ide bahwa seorang wanita benar-benar dapat mempertahankan identitas yang terpisah dalam pernikahan kadang-kadang bisa tampak asing. Saya percaya bahwa seorang wanita dapat, dan harus, memiliki hobi, teman-teman dan impian. Dia harus memiliki kehidupan yang tidak berputar hanya sekitar suami atau anak-anaknya.

Ini adalah sesuatu yang ada di belakang pikiran saya ketika saya berpikir tentang pernikahan .

Ketika saya mulai mengenal suami saya, saya memastikan untuk membuka diri bahwa saya merencanakan untuk memiliki karier. Saya mengatakan kepadanya bahwa jurnalisme dan menjadi aktris bisa jadi sulit dalam kehidupan keluarga, terutama jika saya harus bepergian atau tinggal hingga larut di kantor.

Seringkali dalam proses pernikahan, kita terjebak dalam fantasi dan mengabaikan mimpi dan keinginan terbesar di dalam hidup. Saya dibesarkan menghadiri lingkaran studi Islam dan ingat pernah diberitahu: “Jika kamu menanak nasi dan suamimu memanggil untuk datang padanya, kamu harus berlari (padanya) bahkan jika itu berarti membiarkan nasimu gosong di atas kompor.”

Saya tidak bisa menerimanya: pandangan itu rasanya sangat menekan! Saya lebih senang berada dalam kemitraan yang memenuhi keinginan kami berdua, di mana kita menghargai satu sama lain sebagai teman dan setara. Ini tentang menyeimbangkan satu sama lain dan menolong satu sama lain — itulah bagaimana keluarga saya melakukan pendekatan terhadap berbagai hal.

Di dalam masyarakat kita sekarang, di mana hidup bergerak dengan cepat — dan ketika kita tidak memiliki keluarga dekat di sekitar kita — sangat penting untuk membangkitkan cara unikmu sendiri dalam menangani kehidupan. Pernikahan tidak harus melumpuhkan kreativitas seseorang dan jelas tidak juga impiannya.

Leave a Reply
<Modest Style