Modest Style

Pernikahan Dua Budaya Dina Toki-O: Serba Unik dan Tak Terduga

,

Kembali hadir di kolom Aquila Style, Dina Toki-O berbagi cerita tentang detail pernikahannya dan menjelaskan makna nikah dan walimah.

Katakan ‘cheese’!—Anda akan mengetahui perspektif Dina Toki-O mengenai resepsi pernikahan
Katakan ‘cheese’!—Anda akan mengetahui perspektif Dina Toki-O mengenai resepsi pernikahan

Hari pernikahan saya: 01–09–2013.

Hari ini datang lebih cepat dari harapan saya, namun penantiannya terasa seperti bertahun-tahun lamanya!

Saya mempunyai waktu delapan bulan untuk melakukan persiapan dan perencanaan, tetapi pada kenyataannya, saya tidak benar-benar melakukan apa pun sampai kepanikan mulai melanda empat bulan sebelum hari H. Saya cenderung melakukan segala sesuatu di saat-saat terakhir, meskipun mungkin Anda pikir, di antara semua hal, hari pernikahan saya akan menjadi perkecualian!

Sejak kecil, para gadis telah memimpikan seperti apa ‘pernikahan nan sempurna’ serta ‘gaun pengantin tak bercela’ mereka.  Bagi sebagian besar perempuan, saya rasa impian itu biasanya menghasilkan ‘semua hal yang pernah mereka impikan’. Tetapi Anda tidak bisa menunggu sampai menit terakhir (atau dalam istilah pernikahan, katakanlah, bulan terakhir) untuk menyulap ‘gambaran sempurna’ yang Anda bayangkan. Pada saat itu, akan sulit sekali untuk mewujudkan gambaran tersebut. Jika setetes saja kreativitas mengalir dalam darah Anda, saya yakin Anda akan mengerti kenapa saya memangkas dan mengubah sebagian besar ide setiap dua menit, hanya untuk satu hari di mana banyak pasangan akan membuat perencanaan setidaknya dua tahun di muka!

Setiap minggu saya berubah pikiran tentang hampir semua hal, terutama gaun-gaun. Gaun-gaun? Ya, Anda tidak salah baca—bentuknya jamak karena saya, tanpa bisa dibantah lagi, harus mengenakan dua gaun, sebab memang akan ada dua pernikahan. Dua pernikahan untuk satu pasangan! Bukan, ini bukan lantaran saya dan suami mementingkan diri sendiri, tukang pamer egois yang menuntut dua hari untuk mendapatkan perhatian penuh serta atensi semacam ‘Lihat aku! Aku, aku, aku!’ dari para tamu yang kemungkinan sudah sangat mengenal kami! Bukan, bukan itu alasannya.

Alasannya sederhana saja: saya dan suami berasal dari dua kebudayaan yang sangat berbeda! Mari saya jelaskan untuk Anda:

Saat pasangan Muslim menikah, mereka mengadakan akad nikah (ijab kabul atau katb el-kitab) dan walimah. ‘Walimah’ adalah kata Arab untuk sesuatu yang mirip dengan ‘resepsi pernikahan’ atau pesta dari pihak pengantin laki-laki. Terdapat berbagai pendapat mengenai kapan walimah mesti dilakukan, dan dari waktu ke waktu, beberapa kebudayaan berkembang sehingga memiliki kebiasaan untuk melakukannya di saat-saat tertentu.

Saya yakin perempuan mana pun yang membaca tulisan ini bisa membayangkan betapa stresnya untuk memutuskan satu gaun, apalagi dua!

Bagi mayoritas orang Mesir dan Arab, walimah digelar pada waktu akad nikah, jadi semuanya dilaksanakan dalam satu hari. Bagi sebagian lainnya, acara ini pun diadakan setelah akad nikah dan sebelum malam pertama bagi pasangan suami-istri. Namun masih ada yang menyelenggarakannya saat proses pernikahan, ketika pengantin perempuan meninggalkan rumah orangtuanya untuk tinggal di rumah baru bersama sang suami.

Menurut pendapat saya, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya kebudayaan, proses nikah dan walimah telah kehilangan makna. Artinya, di banyak pernikahan, ada kemungkinan kedua keluarga menghabiskan ribuan dolar untuk sejumlah acara pernikahan. Tetapi sesungguhnya, hanya ada dua acara utama yang tidak perlu menghabiskan biaya yang angkanya mendekati beberapa tagihan pernikahan di tahun 2013!

Akad nikah, bila tidak dilakukan di hari yang sama dengan walimah, biasanya diadakan secara sederhana, dengan tamu yang hanya terdiri dari keluarga dekat dan para sahabat. Tamu-tamu lain seperti tetangga, keluarga besar dan teman-teman diundang untuk menghadiri walimah di lain hari. Sebagai gantinya, baik akad nikah maupun walimah dapat dilakukan di hari yang sama. Dewasa ini, banyak terjadi ketidakpastian dan konflik yang disebabkan oleh urutan acara, siapa yang membayar acara apa, dan seberapa besar acara seharusnya berlangsung. Padahal sejujurnya, semuanya simpel saja:

Langkah pertama: Meresmikan akad nikah

Langkah kedua: Menikmati jamuan makan dengan teman-teman dan keluarga. Selesai.

Kembali ke cerita saya: lantaran ketidakpastian yang tak terduga dan benturan dua kebudayaan, pada akhirnya kami mengadakan dua walimah. Dan itulah kenapa saya meminta dua gaun. Meski sebenarnya, saya seharusnya mengenakan gaun yang sama dua kali! Saya yakin perempuan mana pun yang membaca tulisan ini bisa membayangkan betapa stresnya untuk memutuskan satu gaun, apalagi dua! Saya akan bercerita lebih banyak di sini tentang kegagalan saya memakai satu gaun, tapi sejujurnya, gaun-gaun itu layak diceritakan dalam satu judul tersendiri (segera hadir!).

Walimah pertama, yang diadakan tepat setelah akad nikah, direncanakan oleh saya dan suami bersama-sama—hanya kami berdua. Kami rasa acara itu akan mencerminkan kepribadian kami masing-masing dalam bersatu sebagai pasangan di hari istimewa yang akan kami habiskan bersama orang-orang terdekat. Untuk sepenuhnya jujur dengan Anda, dialah otak di balik hampir semua hal. Acara itu tidak akan berjalan dengan sempurna tanpa perhatiannya pada detail dan sifatnya yang perfeksionis!

Sejak hari pertunangan kami, saya tahu dia menginginkan tema bernuansa vintage. Akan tetapi, pada saat pernikahan, kami muak mendengar kata ‘vintage’! Undangan, centerpiece atau hiasan di tengah rungan serta semua dekorasi  dibuat oleh kami—yah, dia yang lebih banyak membuatnya daripada saya. Saya ingat centerpiece itu telah menguras kehidupan dan menghantui tidur saya hingga hari pernikahan, jadi untunglah pada saat itu saya dapat memercayakan tugas-tugas lainnya pada tunangan saya yang produktif.

Jika Anda mengenal saya cukup baik, Anda akan tahu tidak ada yang bisa mengatur Dina tentag apa yang dipakainya!

Kami tahu kami menginginkan semacam hiburan dan berpikir saudara-saudara kandung kami yang bisa dipercaya dapat membantu mengurusnya. Tetapi di hari-hari terakhir, sebagian besar rencana pun berubah. Selama berbulan-bulan, kami telah mencari drum band yang sempurna untuk bersedia tampil dengan harga terjangkau. Namun, hanya empat hari sebelum pernikahan, kami mendapat kesempatan untuk menyaksikan atraksi jalanan nan mengagumkan dari grup samba kota Cardiff, Samba Galêz. Kami berhasil memesan mereka dalam waktu singkat untuk tampil pada prosesi pernikahan setelah akad nikah diresmikan. Dan tentu saja, dengan keahlian tawar-menawar ala Mesir saya yang bisa diandalkan,  saya berhasil mendapatkan mereka dengan harga yang pantas—menurut saya! Samba Galêz benar-benar memeriahkan suasana dan membuat semua orang bergembira tepat sebelum makan malam dihidangkan.

Saya masih ingat kedatangan tak terduga dari seorang pria mungil, yang terlihat seperti melompat dari semak-semak, dalam kostum tradisional Punjabi dan menghantam drum solonya bagaikan mengawali pertandingan drum dengan para pemain gendang samba! Meski sama-sama kocak dan menyenangkan untuk ditonton, performa pria mungil itu bukan tandingan mereka!

Sebelumnya, saudara-saudara lelaki kami telah membuat sandiwara pendek yang jenaka, merekamnya dan mengeditnya, untuk kemudian diputar di depan para tamu setelah makan malam. Saya dan suami menganggapnya lucu sekali. Acara berlanjut dengan pemotongan kue, yang berlangsung sedikit aneh. Percaya atau tidak, kami bukan tipe pasangan yang senang menjadi pusat perhatian—malahan, kami sangat malu dibuatnya!

Kuenya… sebut saja tidak biasa (biar foto-foto yang berbicara), seperti mungkin sebutan untuk sepanjang hari itu. Cukup ajaib membayangkan hari itu sekarang. Apa yang telah kami rencanakan dan apa yang akhirnya terjadi bisa dibilang saling berbanding terbalik, yang hanya menunjukkan bahwa kesempurnaan tidak selalu apa yang tampaknya sempurna!

[Not a valid template]

Jarang ada dua kebudayaan yang dapat berbaur dan berhasil menemukan keseimbangan, bahkan melebur, bila berurusan dengan pernikahan. Jadi, alaminya, sepanjang hari itu terbilang cukup… berbeda. Untunglah saya berhasil menemukan pasangan yang sama kreatifnya (lebih kreatif malah) daripada saya, dan ratusan kali lebih terampil. Jadi, bersama-sama, kami berhasil mewujudkan hari pernikahan nan sempurna milik kami!

Keluarga suami saya merencanakan walimah kedua, jadi kami berdua tidak tahu apa yang akan kami hadapi. Inilah yang sebagian orang gambarkan sebagai ‘tipikal Asia atau Pakistan’, namun ada banyak tradisi Hindu dalam acara itu, yang menyajikan semacam hiburan berbeda untuk semua yang hadir. Satu hal yang bisa saya pastikan adalah kedua walimah kami akan sepenuhnya berbeda satu sama lain.

Meski begitu, saya akan terlibat dalam pemilihan busana yang harus saya pakai. Khusus dalam adat istiadat Asia, pengantin perempuan akan mengenakan busana yang dipilihkan untuknya oleh keluarga iparnya. Tetapi jika Anda mengenal saya cukup baik, Anda akan tahu tidak ada yang bisa mengatur Dina tentang apa yang dipakainya!

Karena itu, Anda harus menunggu sampai minggu depan untuk membaca lanjutan ceritanya. Jangan ke mana-mana!

Leave a Reply
<Modest Style