Modest Style

Perkataan baik berdampak besar

,

Bijaklah berucap karena kata-kata Anda terus hidup lama setelah diucapkan, nasihat Afia R Fitriati.

1101-WP-Solidarity-by-Afia-Pixabay-sm

Beberapa pekan lalu, saya menulis tentang aksi solidaritas sekelompok siswa sekolah menengah di Denver, Colorado, yang memutuskan untuk mengenakan kerudung dalam menunjukkan dukungan pada teman setim mereka yang berhijab dan dilarang bermain dalam sebuah pertandingan sepak bola karena pakaiannya.

Saya menganggap yang dilakukan para siswa ini sebagai perbuatan baik, terutama di tengah begitu banyak pemberitaan negatif mengenai Muslim dan Islam di media arus utama. Saya merasa senang menuliskan artikel tersebut dan berharap pembaca mendapat nilai positif dari membacanya.

Namun saat kisah tersebut terbit, saya merasa kecewa. Kebanyakan komentar Facebook untuk artikel tersebut bernada negatif – mengkritisi tim sepak bola tersebut karena tidak mengenakan hijab “dengan benar”.

Meski ini bukan kali pertama saya melihat atau membaca komentar negatif tentang hijab atau topik apapun yang berkaitan dengan Islam, ada hal yang sangat mengganggu tentang kejadian ini.

Begini: 12 non-Muslim melakukan hal yang begitu berani untuk menunjukkan dukungan terhadap hijab dan kita menjatuhkan mereka karena mereka tidak mengenakannya dengan sempurna?

Sejujurnya, saya tidak paham.

Namun mungkin tidak seharusnya saya begitu terkejut. Lagipula, saya telah membaca kisah banyak mualaf yang merasa menghadapi sebuah tantangan besar untuk beradaptasi sebagai Muslim baru karena banyak orang dari komunitas mereka yang dengan terlalu mudah menunjukkan kesalahan mereka dan memberi nasihat tanpa diminta. Banyak Muslim terlalu cepat menghakimi sesama Muslim, jadi mengapa saya harus kaget ketika kita juga begitu cepat menghakimi non-Muslim yang memiliki niat baik?

Mungkin karena saya tahu bagaimana rasanya menerima diskriminasi karena hijab saya. Saya tahu bagaimana rasanya merasa sendirian, berada di bawah sorotan, dan dianggap tidak mampu hanya karena apa yang saya kenakan. Rasanya begitu dingin dan sepi, jadi jika siapapun – Muslim maupun Non-Muslim – mendekati saya pada masa-masa tidak menyenangkan tersebut, saya hanya memiliki dua kata untuk mereka: “Terima kasih.”

Saya pikir, orang-orang yang menulis komentar-komentar negatif di artikel tersebut tidak sedikitpun membayangkan bagaimana menjadi seorang Samah, pengguna hijab yang dilarang bertanding tersebut. Bahkan, mereka mungkin tidak membaca artikel tersebut sama sekali, dan sekadar menulis komentar mereka berdasarkan kesan pertama yang mereka tangkap.

Namun apa yang mungkin tidak dibayangkan orang-orang ini atas hasil komentar mereka adalah dampak negatif pada penerimaan hijab di bidang olahraga juga bidang publik lain. Sejumlah komentar yang saya terima secara pribadi menekankan inilah mengapa “seragam itu wajib”, sambil menyindir bahwa pelarangan hijab bagi atlet yang bertanding dengan demikian pantas saja.

Yang ingin saya katakan pada orang-orang ini hanya: Berpikirlah sebelum menulis. Hanya butuh beberapa detik untuk memposting komentar yang tampak sepele yang akan Anda lupakan lima menit kemudian, namun perkataan Anda berdampak besar dan bertahan lama.

Menurut saya, setiap kemajuan menuju penerimaan terhadap hijab harus dirayakan dan dihargai, terutama jika datang dari komunitas atau tempat di mana hijab tidak umum atau diterima secara umum.

Saya memulai laporan saya tentang tim sepak bola sekolah Oakland dengan menyatakan bahwa terkadang tindak kebaikan kecil berdampak besar. Saya pikir perkataan tersebut juga cocok untuk komentar-komentar Facebook  – terutama yag berkenaan dengan masalah hijab.

Leave a Reply
<Modest Style