Modest Style

Perjalanan Lintas-Agama Meneguhkan Cinta Saya pada Islam

,

Baru kembali dari menjelajahi Cina, Maryam Yusof menuturkan pelajaran yang ia temukan tentang memahami dan menerima.

Gambar: Salam Stock
Gambar: Salam Stock

Ke mana pun kami pergi, orang-orang yang lalu-lalang selalu memotret kami. Mungkin hal ini tidak begitu aneh, karena kelompok kecil kami yang energik memang menjadi pemandangan yang menarik. Dalam kelompok kami ada seorang biksu Buddha, seorang biarawati Katolik, seorang pendeta Tao, dan beberapa gadis muslim. Dalam berbagai pakaian warna-warni kami, saya menyadari bahwa bagi orang awam di Cina, pemandangan ini mungkin memang tampak aneh.

Alasan kami semua datang bersama-sama adalah dalam rangka sebuah perjalanan pembelajaran antaragama selama 12 hari di Beijing dan Hong Kong. Kami hadir di sana untuk berinteraksi dan belajar dari perwakilan anak-anak muda dari berbagai agama di Singapura. Perjalanan ini merupakan perjalanan yang paling mencerahkan yang pernah saya jalani.

Soalnya, meskipun teman-teman saya berasal dari berbagai agama, membahas agama selalu menjadi hal yang tabu bagi kami. Meskipun kami menghormati kenyataan bahwa kami memiliki keyakinan dan praktik agama yang berbeda-beda, kami tidak pernah membicarakan agama kami sendiri, atau saling bertanya tentang agama yang lain. Hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh kepekaan kami sebagai orang Asia, yang memaksa kami untuk menghindari kemungkinan menyinggung perasaan orang lain. Pada saat yang sama, saya selalu terbakar rasa ingin tahu. Jadi, ketika diberi kesempatan untuk bebas membicarakan agama dan mengajukan pertanyaan kepada pemeluk agama-agama lain, saya dengan senang hati memanfaatkannya.

Sejak 9/11, Islam ditempatkan di bawah mikroskop oleh media dan sering disorot secara negatif. Jadi, tidak terlalu mengejutkan bagi saya ketika orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang Islam salah paham atas agama kita yang indah. Dengan persepsi negatif Islam yang sudah begitu umum, saya ingin memiliki kesempatan untuk menghilangkan kesalahpahaman itu — walau sambil segera mengakui bahwa saya juga masih harus banyak belajar.

Begitu pula sebaliknya, karena saya juga memilikin banyak salah paham tentang agama-agama lain sebelum perjalanan ini. Namun, setelah belajar dari rekan-rekan saya, banyak kesalahpahaman saya yang telah diluruskan dan pemahaman saya tentang agama mereka telah sangat meningkat. Dalam artikel sebelumnya saya membahas pentingnya tak sekadar menoleransi, tetapi juga menghormati keyakinan orang lain. Saya percaya bahwa dengan memahami agama-agama lain kita mengambil langkah menuju pembudayaan rasa hormat tersebut.

Di Singapura, di mana agama-agama hidup berdampingan umumnya secara harmonis, kadang-kadang kurangnya pemahaman dan rasa hormat dapat menyebabkan riak ketidakpuasan. Selama bertahun-tahun saya telah mendengar gerutuan tentang abu dari persembahan yang dibakar selama bulan purnama ketujuh (alias ‘Hungry Ghost Festival’), keluhan tentang azan dari masjid, dan rutukan tentang dentang lonceng gereja. Saya percaya bahwa jika kita memiliki pemahaman yang lebih besar tentang agama lain, kita akan dapat menghormati praktik-praktik tersebut, bukan sekadar menoleransi mereka.

Kita semua dapat melakukan bagian kita. Saya percaya langkah pertama adalah dengan meningkatkan pemahaman agama dalam lingkaran sosial kita sendiri, bukannya menghindari topik itu seperti yang telah sering kali saya lakukan di masa lalu.

Tentu saja, jika kita tidak berhati-hati ini bisa menjadi bumerang. Untuk alasan itu, jika kita mengambil jalan ini kita harus berusaha untuk tetap berpikiran terbuka, bersikap bijaksana dan peka terhadap pendapat orang lain dan, yang terpenting, menghindari sikap menghakimi. Kalimat ‘Saya tidak tahu’ merupakan bagian penting dari percakapan semacam ini ketika kepada kita diajukan pertanyaan yang kita tidak yakin akan jawabannya. Dalam kasus-kasus seperti itu, saya percaya yang terbaik adalah mengakui kurangnya pengetahuan kita dan memberitahu yang lain bahwa kita akan berusaha untuk mencari tahu, daripada memberikan informasi palsu atau mengandalkan dugaan.

Saya benar-benar dikejutkan oleh betapa banyak yang saya pelajari dari berbagai percakapan biasa dengan orang-orang lain dalam perjalanan ini. Yang lebih membuat saya terkesan adalah betapa keinginan saya untuk belajar tentang Islam, bersama dengan kecintaan akan agama yang saya imani, meningkat dengan jauh.

Leave a Reply
<Modest Style