Modest Style

Perjalanan ke Palestina: Bagian VI

,

Shea Rasol kembali ke Yordania dalam sesi terakhir dari jurnal wisatanya, tapi sebelum sejenak berendam di Laut Mati.

[Not a valid template]

Kami sudah tiba di hari terakhir perjalanan dan setelah keluar dari hotel kami masih punya beberapa tempat untuk dikunjungi di Yordania. Pertama-tama kami mengunjungi sebuah situs yang dipercaya sebagai makam Nabi Yusya’, di atas sebuah bukit yang menghadap ke Lembah Yordania.

Nabi Yusya’ dikabarkan sangat dekat dengan Nabi Musa, sedemikian dekatnya sehingga ia menggantikan posisi Nabi Musa sebagai pemimpin dari Bani Israel. Menurut pemandu wisata kami, saat itu sudah di penghujung siang pada hari Jumat ketika Nabi Yusya’ dan pasukannya hampir menaklukkan Yerusalem. Karena terdapat aturan umum bahwa tidak diperkenankan terjadi peperangan atau pertikaian sedikit pun di hari Sabtu, maka Nabi Yusya’ memohon kepada Allah (SWT) untuk menunda waktu terbenamnya matahari, sehingga membuat hari menjadi lebih panjang.

Perjalanan kami berlanjut menuju sebuah situs yang dipercaya sebagai makam Nabi Syu’aib, yang dianggap sebagai ayah mertua dari Nabi Musa. Kenabiannya mengalami tantangan ketika para pengikutnya melakukan penyelewengan dalam perniagaan dan bisnis, memuja berhala dan meyakini adat politeistik. Nabi Syu’aib menyeru para pengikutnya untuk memohon ampunan Allah. Ketika mereka menolak anjurannya, Allah membinasakan mereka dalam sebuah gempa bumi. Nabi Syu’aib juga dikenal sebagai seorang orator di kalangan para nabi, disebabkan penguasaannya dalam keahlian berbicara di muka umum.

Aktivitas terakhir dalam agenda kami juga termasuk berenang. Anda sudah bisa menebaknya, kami akan berenang di Laut Mati! Hal yang sudah sangat saya nanti-nantikan… sejak dulu. Saya sudah menyiapkan setelan renang muslimah di dalam tas saya, saat saya tahu bahwa kami akan mencoba berendam di dalamnya.

Rupanya, air di Laut Mati memiliki tingkat kadar garam 9,6 kali lebih asin dari air laut normal. Namanya berasal dari fakta bahwa tak ada satu binatang pun yang dapat hidup di dalamnya. Ketua kelompok kami menyampaikan bahwa orang yang mengidap psoriasis (salah satu jenis penyakit kulit) tinggal di Yordania selama dua minggu penuh hanya untuk berendam dalam Laut Mati setiap hari, dan menghasilkan banyak kemajuan dengan kondisi kulitnya.

Tentu saja, sayalah yang pertama kali bertukar pakaian berenang segera setelah makan siang. Sepanjang sesi bermain kami di dalam air, saya melihat orang lain melumuri kulit mereka dengan lumpur. Saya? Saya cukup sibuk mengambang dengan senang. Tidak setiap hari kita bisa seharian mengambang di air sepuasnya, bukan? Kami diperingatkan untuk tidak membiarkan air sampai masuk ke mata atau mulut. Tapi cerobohnya saya, tanpa sengaja air laut masuk ke mata, dan sakitnya… sungguh luar biasa! Saya tak sanggup membuka mata selama sepuluh menit dan rasanya seperti seseorang telah menuang cairan asam ke bola mata saya. (Saat mengingat kembali, ternyata lucu juga!)

Semua hal yang menyenangkan pasti akan berakhir juga, dan kami kembali ke Bandara Internasional Queen Alia di Amman, di mana saya segera tertidur dan nyenyak hampir selama penerbangan.

Pengalaman seminggu penuh menjelajahi Yordania-Palestina-Israel tak diragukan lagi akan terkenang selamanya – dan kenyataannya bahkan jauh melampaui itu. Saya sungguh bersyukur kepada Allah (SWT) yang telah memberikan saya kesempatan terhebat yang diidam-idamkan oleh gadis berusia 25 tahun, dan tentunya kepada ibu saya yang luar biasa yang pertama kali mengetahui tentang perjalanan ini, dan menyertai saya menjalaninya.

Orang-orang kebanyakan akan mengasosiasikan berwisata dengan gelora cinta di Paris, bulan madu romantis di Bali, pemandangan memukau Swiss, dan kuliner berkelas Italia. Namun bagi saya, Palestina telah menyentuh saya dengan cara yang berbeda. Saya bersyukur atas apa yang saya miliki. Dan merasa sedih atas apa yang telah dialami warga Palestina, dan geram dengan kondisi politiknya. Saya merasa sangat dekat dengan para nabi, dan lebih dari itu semua, saya merasa sangat bahagia telah merasakan kehangatan Palestina.

Saya mengingat gadis ramah Palestina yang menghampiri saya saat berada di Masjid Al-Aqsha. Satu kesempatan yang membuat hati saya tersentuh adalah saat ia menceritakan bahwa pamannya telah meninggal dunia. Ketika sambil lalu saya bertanya padanya “Apakah orang Israel yang membunuhnya?” Dengan tangkas ia menjawab dengan jari telunjuknya mengacung di udara “Bukan! Ini dari Allah!” (Bagaimana gadis 9 tahun bisa bersikap demikian optimis?) Saya tak bisa membayangkan bagaimana saya menjawab pertanyaan serupa jika saya ada dalam posisinya. Detail-detail pengalaman seperti inilah yang saya anggap tak ternilai.

Saya menuliskan jurnal perjalanan ini karena kecintaan saya terhadap Islam, dan cerita ini diperuntukkan bagi seluruh saudara-saudari muslim di seluruh dunia. Jika Anda memiliki waktu, energi dan sedikit kelebihan uang untuk berwisata, cobalah mengunjungi Yerusalem, terutama Masjid Al-Aqsha. Nabi Muhammad (SAW) dikabarkan bersabda: “Jangan merencanakan sebuah perjalanan kecuali untuk mengunjungi tiga Masjid: Masjid AI-Haram [Mekkah], Masjidnya Rasulullah [Madinah], dan Masjid Al-Aqsha, (Masjid Yerusalem).”[i]

Dengan kata lain, untuk setiap perjuangan yang telah diupayakan untuk mengunjungi ketiga masjid tadi, kita akan meraih kebaikan dalam hidup kini dan di akhirat kelak, insya Allah. Doa saya menyertai kita semua. Puji syukur ke hadirat Allah (SWT), Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kembali ke bagian V perjalanan saya | Baca semua bagian

Bagi para pembaca dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia:

Saya pergi ke Palestina dalam sebuah kelompok perjalanan berbahasa-Melayu di bawah asuhan dari Ustaz Muhamad bin Abdullah Al-Amin dan agen wisata miliknya.

Saya akan memberikan 5/5 bintang untuk paket perjalanan ini bukan hanya karena layanannya yang sempurna dan mendetail, namun Ustaz Muhammad juga memiliki kemampuan untuk memberikan penjelasan historis yang mudah dipahami. Perjalanan ini didanai sepenuhnya oleh saya pribadi, tanpa adanya latar belakang sponsor.

[i] Dikisahkan oleh Abu Hurairah, dalam Bukhari, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style