Modest Style

Perjalanan ke Palestina: Bagian V

,

Shea Rasol mengunjungi beberapa tempat suci, makam dan situs-situs dari para tokoh inspiratif dalam sejarah Islam.

[Not a valid template]

Sebagaimana ritual pagi kami, kami menjalankan ibadah shalat subuh di Masjid Al-Aqsha. Pagi ini, kami mengunjungi makam Rabiatul ‘Adawiya* di Gunung Zaitun. Rabiatul ‘Adawiya adalah seorang perempuan ahli spiritual yang memperkenalkan konsep Cinta Sejati untuk Tuhan. Ia mengabdikan hidupnya untuk mencintai Allah dan bukan selain-Nya, sebagaimana tergambarkan dalam doanya yang termahsyur:

Ya Tuhan! Jika aku menyembah-Mu karena takut akan Neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya, dan jika aku menyembah-Mu karena berharap akan Surga-Mu, maka haramkanlah aku atasnya. Tapi jika aku menyembah-Mu hanya karena kecintaan kepada-Mu, maka jangan Kau halangi aku memandang Keindahan Wajah-Mu.

Berikutnya, kami mengunjungi makam suci Salman al-Farisi, seorang laki-laki keturunan Persia yang menurut riwayat adalah satu dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad (SAW) yang paling dikenal, dan seorang figur teladan bagi para pencari kebenaran. Beliau kabarnya menjelajah dunia untuk mencari kebenaran dalam agama, dan kemudian menemukan sendiri sosok Muhammad (SAW) sebagai Nabi yang ia cari. Ia memeluk Islam segera setelahnya.

Setelah satu jam berkendara, kami mencapai tujuan kami berikutnya di tengah-tengah gurun pasir, 11 km ke arah selatan dari Yeriko: yaitu Masjid Musa. Inilah kali pertama saya melihat gurun pasir sedekat ini – saya sangat menikmati pemandangannya sepanjang kami berpindah dari satu situs ke situs yang lain!

Tiba saatnya meninggalkan Palestina dan kembali ke Yordania. Waktu seminggu sudah hampir usai dan di titik perjalanan ini, kami menjadi cukup emosional. Satu minggu di Palestina rasanya tidak cukup, mengingat begitu banyak yang bisa kami jelajahi dan kagumi.

Untungnya, proses imigrasi di perbatasan Israel tidak makan waktu lama, tak seperti saat memasukinya. Kami bahkan bisa mengunjungi gua di mana para Penghuni Gua (Ashabul Kahfi) dipercaya mencari tempat perlindungan, yaitu dekat Amman di Yordania.

Gua ini diyakini sebagai tempat di mana beberapa pemuda yang saleh berlindung sebagai tempat persembunyian dari kejaran seorang raja tiran penyembah berhala yang memerintahkan untuk membunuh mereka, seperti yang dikisahkan dalam Al Quran (18:9-25). Allah menjaga mereka dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun lamanya dan menempatkan seekor anjing untuk menjaga pintu masuk gua tersebut.

* Untuk lebih banyak kisah tentang Rabiah, silahkan kunjungi bagian Spiritualitas dari edisi Lebaran 2013 Aquila Style

Kembali ke bagian IV perjalanan saya | Berlanjut ke bagian VI

Leave a Reply
<Modest Style