Modest Style

Perjalanan ke Palestina (Bagian II)

,

Shea Rasol menjejakkan kaki ke dua tempat suci, Masjid al-Aqsa dan kota Bethlehem.

[Not a valid template]

Shalat subuh di Masjid al-Aqsa

Pagi 16 Oktober, saya bangun pukul 4 subuh sesuai dengan rencana kami untuk shalat subuh di Masjid al-Aqsa. Meski masih jetlag, membuka mata jauh lebih mudah saat saya ingat betapa saya telah menantikan saat ini.

Terdapat lima masjid di dalam kompleks seluas 125.1  km² yang disebut Baitul Muqaddas/ Baitul Maqdis ini. Masjid al-Aqsa dan Dome of the Rock (Kubah Shakhra) menjadi dua masjid utama yang dibangun di atas tanah, dan tiga masjid lainnya dibangun di bawah tanah. Menurut Quran, pada awalnya umat Muslim terbiasa shalat menghadap Masjid al-Aqsa, tetapi kemudian berubah menghadap Ka’bah di Mekkah (2:142-144).

Begitu memasuki kompleks itu, saya berdiri terpaku selama satu menit, terpesona oleh pemandangan nan agung di depan saya. Masjid al-Aqsa adalah masjid utama dan paling penting di kompleks ini. Terletak di wilayah paling selatan, salah satu bangunan suci umat Muslim ini dibangun kembali oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 19 SM. Menakjubkan rasanya memikirkan bahwa sebenarnya, setiap bangunan di kompleks ini memiliki makna yang sangat besar bagi Muslim sedunia.

Setelah itu, kami menyaksikan penyembelihan lima sapi lagi—upacara kurban atas nama  sejumlah orang di kelompok saya. Seperti penyembelihan kemarin, daging hewan-hewan ini juga akan dibagikan kepada para pengungsi Palestina dan fakir miskin. Inilah yang saya cintai dari Islam—agama ini mengajarkan saya banyak hal tentang makna sejati dari memberi.

Tembok pemisah

Malam harinya kami mengunjungi kota Bethlehem yang berada di salah satu dari tiga bagian dari tanah Palestina-Israel yang pembagiannya tidak merata. Zona A, yang mencakup hanya 20% dari seluruh daratan, dicadangkan untuk Palestina, sementara Zona B hanya untuk Israel. Zona C, yang mencakup Yerusalem dan Bethlehem, dimaksudkan untuk penduduk di kedua negara tersebut.

Setelah perang Arab-Israel pada 1948, Yerusalem terbagi menjadi dua: Yerusalem Barat untuk Israel dan Yerusalem Timur untuk  Palestina. Untuk sampai di Bethlehem, kami akan memasukinya melalui Israel, karena pemimpin kelompok kami, Ustadz Muhammad, ingin kami melihat seperti apa wajah Israel. Saya tentu setuju dengan rencananya itu!

Untuk memasuki zona-zona yang berbeda ini, ada sejumlah pos pemeriksaan yang ketat di setiap perbatasan. Para petugas Israel dengan sigap memeriksa dan meloloskan paspor kami.

Saya merasa campur aduk saat melihat tembok beton setinggi 8 meter yang memisahkan Israel dan Palestina. Tembok ini membentang hingga sekitar 700 km dan dibangun pemerintah Israel untuk memisahkan penduduk kedua negara tersebut.

Bethlehem

Bersama kelompok saya, kami berkesempatan mengunjungi gereja yang dianggap tertua di dunia, Gereja Nativity di Bethlehem. Gereja ini dibangun di lokasi yang dipercayai umat Kristiani sebagai tempat lahirnya Nabi Isa (atau Yesus dari Nazareth). Di dalam basilikanya pun terdapat tempat yang dipercaya sebagai tempat beliau disusui oleh Bunda Maryam.

Di seberang jalan berdiri Masjid Umar yang kabarnya dibangun Khalifah Umar supaya berada di dekat Gereja Nativity.

Kembali ke bagian I perjalanan saya | Lanjut ke bagian III

Leave a Reply
<Modest Style