Modest Style

Pergolakan dan Harapan

,

Saat-saat sulit dalam hidup kitalah yang menjadikan kita lebih baik, tulis Amal Awad.

1401-WP-Amal-Upheaval-PhotoXpress (1)

Ketika hidup mengalami perubahan yang mengguncang, dunia kita seperti ambruk. Meskipun kita dapat mengenalinya, segala sesuatu terasa berbeda. Setelah puing-puing perubahan mulai bersih, kita harus memulai proses perbaikan dan pembangunan kembali.

Kekacauan ini memaksa kita untuk meneliti tidak hanya diri sendiri, tetapi juga kepada segala sesuatu dalam hidup kita. Perubahan besar tidak mungkin terjadi di tengah normalitas atau kedamaian. Sebuah pergolakan akan mengacaukan rutinitas kita dan memaksa kita meninggalkan sifat-sifat buruk.

Bagaimanapun juga, hidup adalah ilusi. Kita bergerak, bekerja, dan berkeinginan, tapi kita hampir tak pernah sekadar ada. Kita berpegang teguh pada ide dan keyakinan karena keduanya memberi kita rasa tujuan dan makna hidup. Tanpa keduanya, hidup menjadi pengalaman kesepian dan putus asa. Kita memang menemukan kenyamanan dalam keyakinan ini karena ia membawa kita keluar dari kedangkalan hidup dan mengangkat kita ke dunia yang lebih bermakna.

Kita tidak sendirian di alam semesta ini karena ada hamparan ruang dan waktu yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Kehidupan manusia adalah ihwal yang sangat terbatas.

Meskipun demikian, kita tidak selalu memanfaatkannya sebaik mungkin. Kita adalah musafir dan bagi kita yang meyakini kehidupan setelah kematian, tantangan hidup hanyalah polisi tidur di perjalanan yang sangat panjang. Walaupun saya tidak yakin saya mengerti sepenuhnya, beberapa tahun pengalaman telah meningkatkan pemahaman saya terhadap bagaimana semua ini, menurut saya, bekerja.

Saya mungkin terdengar cukup filosofis, tapi ini hanya ungkapan lawas yang saya perkuat: bukanlah hal positif yang mencerahkan kita. Mengakui dualitas kita, cermin diri kita, dan kemudian berjalan melalui kegelapan – bahkan dalam keadaan takut – adalah hal-hal yang membuat kita tumbuh.

Dalam beberapa pekan terakhir, saya dihadapkan dengan banyak kesempatan untuk melakukan hal ini. Saya menghadapi tantangan di lebih dari satu bidang kehidupan tapi pada akhirnya, hanya ada saya dan cara saya bereaksi terhadap apa yang terjadi. Meskipun saya tidak bisa memperbaiki semuanya, saya bisa bereaksi, memacu diri, percaya kepada Tuhan, dan memanfaatkan energi alam semesta untuk melanjutkan dengan keberanian.

Tapi merasa takut itu tidak apa-apa.

Namun, perspektif juga dapat ditemukan di tengah kesulitan. Sesuatu yang tampak seperti masalah besar mungkin kelihatan sepele bila dibandingkan dengan peristiwa yang lebih serius. Biasanya ini hal yang tidak kita duga kehadirannya, atau kita kita sengaja tidak merenungkannya. Seperti diingatkan Lee Perry melalui lagu, Everybody’s Free To Wear Sunscreen: ‘The real troubles in your life are apt to be things that never crossed your worried mind; the kind that blindside you at 4pm on some idle Tuesday.’ (Masalah besar dalam hidup kita adalah hal-hal yang tak pernah kita cemaskan; hal-hal yang kita abaikan pada pukul 4 sore di hari Selasa yang santai.)

Fakta bahwa kita semua akan mati terlintas dalam pikiran saya sekali-sekali, tapi sebuah nasihat tanpa jemu selalu menyadarkan saya sepenuhnya saat orang yang kita cintai menghadapi realitas tubuh manusia – bahwa kadang-kadang ia rusak. Sebagian dari kita terpaksa berdiam diri, tak berdaya, tenggelam dalam kecemasan, lupa terhadap segala sesuatu yang kita pelajari tentang keterbatasan hidup.

Sebagai makhluk rapuh, ada begitu banyak hal yang kita anggap perlu dan tidak semata-mata kita inginkan. Memikirkan hidup tanpa hal-hal tersebut tampak menakutkan. Ketika kita jatuh cinta, kita menyerahkan hati kita dan jadi tidak dapat membayangkan hidup tanpa orang itu, meskipun kita sendiri baik-baik saja selama ini. Kita berteman dengan orang asing dan mempercayakan cerita-cerita kita kepada mereka, berharap mereka akan menjadi sekutu kita selamanya. Kita berinvestasi dalam karier dan cita-cita dengan harapan samar-samar bahwa keduanya akan memberi kita kepuasan.

Kita menginginkan begitu banyak, dan kita menjadi rapuh saat kita mencintai orang, ide, dan segala sesuatu. Ketika kita mendapat masalah dengan salah satu dari hal-hal tersebut, rasanya seperti seutas benang lepas yang mengurai seluruh pakaian.

Tapi seringkali, kehancuran itulah yang menunjukkan kita jalan ke depan. Ini merupakan petunjuk bahwa cara kita sebelumnya tidak berhasil.

Meskipun ini merupakan hal yang baik, kita mungkin jarang segera memandangnya seperti itu. Kita menghabiskan hidup begitu lama menunggu sesuatu yang tidak beres, dan dalam diri kita semua ada potensi yang bergolak untuk fokus pada hal yang negatif daripada positif.

Walhasil, hidup akan menantang kita dengan berbagai cara. Jika hati kita siap untuk menghadapi tantangan, melangkahlah ke dalamnya dan ciptakanlah sesuatu yang baru. Hanya setelah terbakar habis, hidup yang baru dapat dimulai. Dan kita akan muncul lagi, seperti bangkitnya phoenix.

Leave a Reply
<Modest Style