Modest Style

Perawatan Diri: Harga Diri atau Narsisisme?

,

Kebanyakan kita berbangga diri atas penampilan dan gaya pribadi. Elest Ali bertanya-tanya mungkinkah kadangkala kita bertindak berlebihan.

1102-WP-Grooming-by-Elest-Dreamstime

Pekan ini saya berkesempatan menonton seorang hijabi muda memoles berbagai bahan pembuat kue ke wajahnya dalam sebuah video yang tampaknya sudah meledak menjadi pembicaraan. Hijabi ini, Saima Chowdhury, memperagakan tutorial rias yang tidak membuat saya meringis menontonnya. Lihat, keinginan saya menonton vlogger hijabi penggila mode dan sejenisnya hanya terdorong oleh rasa penasaran tidak wajar yang muncul pada hari menyebalkan.

Saya tidak berprasangka; saya hanya memiliki toleransi rendah untuk hal-hal yang dangkal. Namun video ini merupakan sebuah oase di tengah semua kedangkalan. Hal yang membuat saya memutuskan membaca komentar yang bermunculan untuk mengetahui bagamaina pendapat orang lain. Tidak mengejutkan, berbagai komentar panjang lebar penuh kebencian bermunculan menyebarkan racun kegelisahan di internet. Vonis “haram” dan “api neraka” bertebaran berdampingan dengan berbagai kata kasar yang tidak seharusnya dengan mudah dipergunakan oleh orang-orang yang menjadikan“haram” dan “api neraka” pilihan kosa kata dalam keseharian mereka. Untungnya, di ujung yang berlawanan Saima menerima berbagai pujian dari para penonton yang memahami maksud leluconnya. Penonton yang, seperti saya, menghargai sindiran yang memang diperlukan untuk menyadarkan orang-orang dari kebutaan.

Hijabi Makeup Tutorial Saima adalah guyon satir subbudaya baru para blogger, vlogger, dan Instagramer fesyen pengguna hijab. Saya tidak akan membahas masalah riasan karena beragam cara pandang yang ada. Namun kebanyakan kita setuju bahwa hijab merupakan antitesis dari seksi. Sejujurnya, jika kita secara khusus membicarakan berbagai hal yang dianggap menggoda oleh lelaki, maka kita akan melakukannya seharian. Namun ada batasan yang diberikan oleh keyakinan kita, yang belakangan ini menjadi semakin kabur.

Kita telah menyaksikan semuanya: dari gaya hijab yang tampak seperti rambut Barbie sampai riasan mata yang begitu menggoda hingga dapat  menyebabkan klimaks instan yang diikuti dengan serangan jantung. Ada pula model “kepala alien” khas Turki (ekstra ketat di sekeliling leher agar orang-orang mengira Anda tidak memiliki leher), juga jangan lupakan gumpalan isian yang dikenakan dibalik shayla untuk mendapat efek punuk unta UEA berikut stiletto super tinggi. Semua yang melihat pasti akan merasa bahwa para perempuan ini berusaha mengisi suatu kekosongan. Namun kekosongan apa?

Saya tidak percaya bahwa untuk berpakaian santun kita harus terlihat serupa dan membosankan. Sebagai seorang perempuan, kebanyakan kita suka merias diri dan mengekspresikan diri melalui gaya pribadi. Saya sendiri pernah menjadi satu dari dua Muslim gotik di universitas. Dan meski telah berubah, tidak lantas saya tercerahkan. Saya masih menyukai sepatu bot garang dan pakaian teatrikal yang saya miliki. Jika ada yang perlu dilakukan, para Muslim seharusnya berpakaian dengan penuh gaya dan berusaha melakukan perawatan diri. Namun apakah kita lantas melakukan hal tersebut dengan mengorbankan harga diri pribadi dan agama?

Perkenankan saya menghubungkan dengan sebuah guyonan. Yang merupakan kisah nyata. Anda tahu rasa merinding yang Anda rasakan saat sedang menonton film horor? Saya merasakannya suatu ketika saat sedang berada di konter penerbangan bandara Dubai. Dengan penuh simpati saya memperhatikan kelebihan riasan pada wajah petugas yang sedang melayani saya saat tanpa disadari pandangan saya jatuh pada kedua tangannya yang berada di atas keyboard. Kedua tangan tersebut berwarna karamel gelap, sangat kontras dengan warna pucat alas bedak pilihannya. Penggunaan alas bedak sangat banyak membuat wajahnya menjadi sewarna yogurt seperti manekin. Di bawah pengawasan saya, tangan indahnya yang berwarna alami menyerahkan kelengkapan terbang pada saya seperti anak-anak yang yang terkucilkan.

Jelas, saat itu saya ingin mengeluarkan raungan seperti dalam drama tragedi Yunani. “Mengapaaaa?!” Sebuah “Mengapa?” yang juga muncul kali pertama saya mengunjungi Malaysia dan menyaksikan bahwa di dunia bagian ini, iklan-iklan losion dan cairan penggelap kulit digantikan oleh rekan Timurnya: krim pencerah kulit – atau bahkan pemutih.

Saya berasal dari negara yang telah berabad-abad menjadi tempat pertemuan bagi Timur dan Barat. Masyarakat saya terdiri dari berbagai warna dan rupa. Tentunya, orang-orang ini memiliki klaim atas tradisi lagu folk yang secara seimbang merayakan warna cerah yang disayangi dan kecantikan warna gelap yang mengingatkan sang pujangga pada aroma tanah airnya.

Ini tentu saja terjadi dahulu kala, sebelum iblis standar kecantikan modern merasuk dan mengubah setengah populasi Turki menjadi berambut pirang platinum. Hal ini merupakan masalah yang mempengaruhi perempuan dari segala bangsa, mengembangbiakkan kepercayaan diri yang rendah, dan menyebarkan segala hal mulai dari anoreksia sampai pembesaran payudara. Narsisisme adalah kelemahan perempuan dan karenanya kita rawan terkena hal-hal di atas.

Namun seberapa pun perempuannya kita, kita juga adalah penganut keyakinan yang menghargai makna daripada benda. Dan kita adalah perempuan yang menerima kesantunan untuk menghindari ancaman bahaya yang dapat dengan mudah menempatkan kita pada pasar seksual. Haruskah kita, dari sekian banyak orang, menjadi yang menerima budaya seperti ini dengan fanatisme begitu besar? Saya tidak pernah sembarangan menggunakan kata fanatisme. Tidak saat kini kita memberi status selebriti pada para vlogger berhijab yang tanpa ragu mempersilakan masyarakat umum menyaksikan aspek pribadi hidupnya semisal pernikahan dan suami.

Inilah mengapa video Sexy Hijabi Makeup Tutorial Saima sangat mengena bagi saya. Islam adalah agama penuh kesederhanaan. Namun tidak ada yang sederhana dari jilbab raksasa dan memamerkan bagian tubuh Anda. Hal ini membuat kita dangkal, hal ini menumbuhkan kedengkian dan ketamakan, hal ini menciptakan dunia kemewahan palsu yang menjebak siapapun yang tidak menyadari dan menghalangi kita mengembangkan bakat asli kita.

Pujangga tradisional Turki pernah mengisahkan tentang pesona kecantikan. Hari ini, pesona tersebut diabadikan oleh mereka yang merayakan cinta dan kecantikan yang lebih dari sekadar apa yang tampak. Saya membayangkan inilah cinta dan kecantikan yang santun dan sederhana – dan mungkin tidak sadar akan kehadirannya sendiri.

Penasaran? Saksikan sendiri video Saima!

Leave a Reply
<Modest Style