Modest Style

Pentingnya Pemahaman Agama

,

Pengetahuan kita tentang Islam dan agama-agama lain seharusnya datang dari pendidikan yang menjaga kesatuan sosial, tulis Alayna Ahmad.

Gambar: Salam Stock
Gambar: Salam Stock

Setelah banyak melakukan percakapan tentang agama dengan mereka yang cenderung ateis dan agnostik, saya seringkali mendengar pandangan bahwa agama diciptakan untuk mengontrol dan menekan manusia. Sebagian orang bahkan bersemangat menyuarakan opini mereka bahwa agama – terutama Islam – baik secara terbuka atau diam-diam mendorong aktivitas yang terkait terorisme.

Celakanya, contoh serupa tentang ketidakpahaman terhadap agama bukanlah kejadian yang tanpa sebab. Meski kini kita hidup di era teknologi maju, ketidakpahaman akan agama masih terus terjadi. Profesor Diane Moore, yang mengajar salah satu kelas yang saya ikuti di Harvard University, menyarankan bahwa sistem pendidikan seharusnya memberi kepastian masayarakat di masa mendatang agar mendapat informasi dengan baik perihal budaya dan agama dunia sehingga mampu mendukung keberagaman dan saling pengertian.

Agama seharusnya menjadi bagian dari sistem pendidikan yang padu, dipelajari dari kacamata pendidikan budaya dan bukannya lewat doktrin dengan fokus-agama. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat beliau. Pengetahuan yang kita peroleh dari kedua aspek tersebut membuat kita mampu mengintegrasikan dengan lebih baik dan membentuk masyarakat yang koheren.

Sepanjang tahun 80-an dan awal tahun 90-an, warga Inggris keturunan Asia Selatan menyaksikan banyak kejahatan rasisme yang terjadi, serta berlangsungnya penganiayaan dan kekerasan. Para penganut paham supremasi warga kulit putih di beberapa kota industri di Inggris bagian utara memukul, menyiksa dan bahkan membunuh siapa pun yang terlihat “berkulit cokelat”, terlepas dari etnis mereka yang sebenarnya. Terminologi rasisme yang berhubungan dengan hal ini dikenal dengan “Paki-bashing” (Hantam-Orang Pakistan).

Saya teringat menonton siaran berita saat masih kanak-kanak dan terheran bagaimana seseorang bisa memendam kebencian sedemikian mendalam terhadap orang-orang berkulit cokelat. Penyerangan tersebut segera dapat diredakan dengan bantuan pemerintah yang menumpas kelompok rasis dan mengintensifkan pendidikan agama dan budaya di sekolah-sekolah. Bagaimanapun, disayangkan sisa-sisanya di masa kini masih menjangkiti kota-kota kecil dan komunitas di Inggris Utara.

Saat saya membandingkan pendidikan agama yang saya dapatkan di Inggris dengan sistem pendidikan di jenjang sekolah menengah atas AS dan mungkin di Asia Selatan, saya cukup merasa kecewa. Para siswa di dua wilayah yang terakhir disebut kurang mendapatkan pemahaman keberagaman dan pluralisme agama. Sumber informasi agama di masa datang akan didapat dari media arus-utama, yang seringkali tidak berpihak kepada umat muslim dengan cara langsung maupun tak langsung mengawinkan terorisme dengan Islam.

Di Inggris, saya mendapatkan pemahaman terhadap agama-agama dunia di bangku sekolah dan wawasan personal dari para siswa di kelas saya yang dibesarkan dengan agama tersebut. Saya mempelajari tentang perayaan budaya dan agama. Saya bisa memberikan ucapan “Selamat Hari Raya Diwali” bagi teman sekelas yang beragama Hindu di hari berlangsungnya perayaan itu.

Saat ada perayaan agama yang diselenggarakan oleh salah satu agama besar dunia, selalu ada semacam pajangan atau perkumpulan sekolah untuk memperingati perayaan tersebut. Kami semua tumbuh dengan saling memahami agama masing-masing dan menghormati sistem keyakinan yang berbeda. Saya beruntung tidak pernah mengalami tindakan rasisme di sekolah atau mengalami pelecehan sebagai muslim.

Sebaliknya, saya menghadapi perilaku rasisme secara terang-terangan saat saya datang ke AS. Peristiwa yang belakangan terjadi di suatu petang di Colorado Springs. Seorang tentara mabuk berujar kepada saya agar “Pulanglah dan keluar dari negara saya” saat (dengan tepat) ia mengira bahwa saya adalah seorang muslim atau berasal dari suatu tempat di Timur Tengah. Saya menyahut dengan geram, “Saat kalian sudah keluar dari negara saya, maka saya akan meninggalkan negara kalian”.

Saya ingin berujar lebih banyak namun saya menahan lidah saya, sambil memendam rasa frustrasi. Saya mengerti ketidakpahamannya dan kurangnya pengetahuan agama dan kemungkinan bahwa ia seorang anti-muslim. Saya tak meneruskan perkataan saya dan segera berlalu.

Banyak cara yang bisa ditempuh para guru untuk memperkenalkan kitab-kitab agama, termasuk Injil, di sekolah-sekolah. Salah satunya adalah dengan membahasnya sebagai teks sastra, di mana beberapa sekolah di Amerika telah melakukannya. Semua agama telah mengilhami beragam tulisan yang dihasilkan banyak penulis selama berabad-abad lamanya.

Penulis Barat seringkali mengacu kepada kisah-kisah dalam Injil, yang tak mungkin bisa dimengerti jika seseorang tak memiliki pengetahuan tentang Injil. Saya menikmati membaca teks-teks kuno dan tak ragu mengapresiasi gaya sastra yang melekat pada Injil maupun Upanisad. Membaca dua kitab tersebut tentunya tidak menyalahi keyakinan saya sebagai seorang muslim.

Hari demi hari, seiring perubahan dunia dan banyaknya terjadi perselisihan agama, maka menjadi krusial bagi kita untuk membekali masyarakat di masa datang dengan peralatan yang tepat demi terjalinnya komitmen sosial. Pemahaman agama dimulai dari rumah dan dilanjutkan di kelas-kelas belajar.

Pemahaman agama membutuhkan kemampuan untuk mencermati dan menganalisis keterkaitan mendasar dari agama dan aspek sosial, politik, kehidupan budaya melalui beragam kacamata pemahaman.” [i]

Individu yang tak memiliki pemahaman agama akan secara membabi-buta melahap pernyataan penghakiman yang mereka terima, baik melalui media arus-utama maupun lewat jejaring sosial mereka, yang lebih jauh mengakibatkan kerugian bagi pluralisme agama dan multikulturalisme.

[i] Diane L Moore, Overcoming Religious Illiteracy, p56.

Leave a Reply
<Modest Style