Modest Style

Penghinaan Wahabisme terhadap kenangan akan Rasul

,

Perdebatan tentang penghilangan makam Rasul di Mekkah menyoroti bagaimana ideologi keras ini bisa menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan Islam. Oleh Elest Ali.

SAUDI-RELIGION-ISLAM-HAJJ
Tampilan udara Mekkah memperlihatkan Menara Jam, Masjid Agung, dan banyak proyek konstruksi lainnya pada tanggal 16 Oktober 2013. Fayez Nureldine/AFP

Saat Anda kira menjadi seorang Muslim tidak bisa bertambah rumit dibanding saat ini, nanti dulu. Sebuah artikel yang terbit baru-baru ini di The Independent menjelaskan dengan detil gagasan untuk menghancurkan makam Nabi Muhammad SAW. Sumbernya? Dokumen konsultasi yang disusun oleh seorang akademisi kenamaan dari Imam Muhammad ibn Saud Islamic University, Riyadh. Di tengah keriuhan peliputan media yang mengkritisi, pemerintah menyangkal klaim tersebut. “Ini adalah opini pribadi seorang peneliti, yang menyampaikan pandangannya dalam sebuah penelitian,” ujar Ahmed Al-Mansouri, seorang juru bicara media pemerintah, pada Arab News. Namun hal tersebut menunjukkan bahwa, meski hanya sekadar “opini pribadi” seorang peneliti, proposal tersebut tetap ada di dalam dokumen.

Ekspansi Masjid Agung (Masjidil Haram) di Mekkah, Arab Saudi yang bernilai jutaan poundsterling telah berujung pada penghancuran situs-situs bersejarah suci dan lebih dari 95 persen bangunan-bangunan kota yang berusia ratusan tahun. Berbagai rumah dan tempat kelahiran keluarga dan sahabat Rasul dihancurkan dan digantikan oleh lapangan parkir, hotel mewah, pusat perbelanjaan, dan, yang membuat kita semua tercengang, sebuah toilet umum.[i] Kini, bangunan suci Ka’bah yang didatangi oleh jutaan jemaah haji setiap tahunnya, dikerumuni oleh begitu banyak gedung pencakar langit gemerlap dan menara jam yang absurd itu.

Dibutuhkan filistinisme begitu besar untuk mampu membangun sesuatu yang sangat tidak relevan secara konteks dan budaya di tempat ibadah haji dan keagamaan yang suci. Sebagaimana dibutuhkan rasa tidak hormat begitu besar untuk mendirikan berbagai hotel mewah, pusat perbelanjaan, dan kediaman kerajaan di tempat yang tadinya suci, dan di dalam berbagai bangunan yang membayangi rumah suci.

Tetaplah bersama saya sementara saya membuat perbandingan.

Di awal abad ke-17, saat Masjid Biru Istanbul pertama kali didirikan, struktur agung itu memiliki enam menara. Namun begitu Sultan Ahmet diberitahu bahwa Masjidil Haram memiliki jumlah menara yang sama, karena khawatir dianggap bersikap tidak sopan terhadap rumah suci tersebut, ia segera memerintahkan pembangunan menara ke-7 di Mekkah sebelum pembangunan masjid di Istanbul selesai. Dulu, begitulah bentuk semangat penghargaan begitu kuat yang bisa ditemukan dalam agama kita.

Media arus utama telah memecah umat Muslim ke dalam dua aliran utama: Sunni dan Syiah

Sejarah yang lebih baru memperlihatkan bahwa ini bukan kali pertama kekuatan Saudi melakukan upaya pencemaran kesucian makam Rasulullah SAW. Kejadian sebelumnya terjadi pada tahun 1806, saat Wahabisme menyebar bersama pasukan bersenjata Al-Saud ke seluruh Benua Arab (yang saat itu masih di bawah kekuasaan Ottoman). Wahabisme (juga dikenal sebagai Salafisme) muncul di akhir abad ke-18 bersama Mohammad Ibn Abdulwahab.

Sebagai seorang ulama yang menyebut dirinya revolusioner, Abdulwahab meyakini perlunya menyebarkan “reformasi keagamaannya” menggunakan pedang. Setelah diusir dari kampung halamannya karena melakukan tindak kekerasan dan mendapatkan tentangan di berbagai tempat lain, ia menemukan pengikut di kota terpencil Najd Timur (kini menjadi Riyadh). Bersekutu dengan suku Al-Saud, Abdulwahab mencetuskan perang terhadap siapapun yang tidak sejalan dengannya.

Ideologi Abdulwahab terus menyebar setelah kematiannya, karena peperangan terbukti menguntungkan bagi suku Al-Saud yang mendapatkan lahan, kekayaan, dan pada akhirnya (dengan dukungan orang-orang Inggris) kekuasaan nasional. Di kota-kota yang mereka rampas, kuil, makam, dan tempat-tempat ibadah dihancurkan. Buku-buku agama dan sejarah dibakar. Orang-orang tidak bersalah dirampok dan dibantai dengan cara yang tidak berbeda dengan tindakan ISIS hari ini.[ii] Semasa invasi Madinah pada tahun 1806, hanya hara-huru massal dari penduduklah yang menggagalkan tentara Wahabi menghancurkan kubah Hadraa di atas makam suci Rasulullah SAW.

Kini, saat dunia menyaksikan kekejaman yang dilakukan ISIS atas nama Islam Sunni, media arus utama telah memecah belah umat Muslim ke dalam dua aliran utama: Sunni dan Syiah. Namun mayoritas Muslim Sunni merasakan kegeraman yang amat sangat terhadap jihad buatan sosiopat bernafsu pembunuh di Timur Tengah tersebut. Demikian pula, banyak yang menentang pendekatan fanatis tidak berperasaan Islam Wahabi Arab Saudi yang menghasilkan ideologi yang menghidupi kelompok-kelompok seperti ISIS. Ideologi yang ditandai dengan fanatisme yang tidak pada tempatnya yang menurut hadits dimiliki oleh kaum khawarij.[iii]

Anda tentunya ingat pengrusakan makam Nabi Yunus di Mosul oleh ISIS. Saat mereka tidak membunuhi orang-orang tidak bersalah, mereka berkoar-koar tentang menghilangkan bid’ah. Inilah fanatisme Wahabi. Proposal tersebut, yang saat ini ternyata beredar di kalangan manajemen dua masjid suci di Mekkah dan Madinah, mendasari gagasannya pada argumen yang sama: “pemujaan makam” sebagaimana mereka menyebutnya, itu syirik, atau menduakan Tuhan.

Selain itu, Wahabi melaksanakan shalat pendek-pendek, sama sekali melewatkan sunnah Rasul. Mereka juga melarang nama Rasul dituliskan di masjid-masjid (meski Allah telah memerintahkan nama tersebut untuk dilafalkan bersama dengan namaNya dalam kitab umat Muslim) dan melarang perayaan maulid.[iv]

Bahwa Allah memutuskan membentuk jiwa yang paling dicintai-Nya dalam bentuk manusia membuat saya bersyukur atas kehormatan bisa memiliki unsur yang sama

Bagi saya, semua hal ini merupakan tindakan yang sengaja dilakukan untuk meniadakan Rasulullah SAW. Upaya untuk memisahkan umat Muslim dari tindakannya, kasihnya, dan kenangan tentangnya. Terdapat kekurangan yang begitu jelas dalam ketaatan semacam ini, saat hanya sedikit yang dibiarkan tetap suci. Dan yang lebih tidak masuk akal adalah Wahabi memaksakan kesederhanaan yang sama dalam agama. Sementara itu, berbanding terbalik dari jalan hidup Rasul, orang-orang dan negara-negara yang memulai gerakan ini menikmati budaya kekayaan dan kemewahan berlebihan.

Jika Anda sudah pernah berkuliah, Anda akan ingat bagaimana bersemangatnya orang-orang di perkuliahan Masyarakat Islam dan ruang shalat kampus. Anda akan terkenang orang-orang yang menganggap dirinya paling suci dan mudah sekali menegur kesalahan Anda, yang membentuk kelompok-kelompok yang memuntahkan api dan batu belerang pada setiap orang mulai dari orang kafir hingga Muslim yang pokoknya menurut mereka tidak cukup baik.

Saya pernah terjebak perdebatan dengan salah satu dari mereka, dan berujung membela kaum Syiah perihal memuliakan Rasulullah SAW. Saya seorang Sunni, jadi para pengikut Syiah juga sama kagetnya dengan saya saat saya membela sudut pandang mereka. Argumen lawan yang paling ditekankan adalah – dan selalu – bahwa Rasulullah SAW tidak lebih dari sekadar pembawa pesan. Hanya seorang manusia. Hanya seorang pembawa pesan.

Baik, tidak ada yang menyangkal hal itu. Namun Allah juga menyebut manusia ini “rahmat bagi semesta alam” (21:107) dan “cahaya yang menerangi” (33:45-46). Ciptaan paling baik, paling terhormat, dan paling diberkahi oleh Tuhan dan malaikat-Nya. Seorang manusia yang padanya-lah umat diperintahkan untuk memuji namanya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (33:56)[v]

Berserah diri seutuhnya tidak mudah – tidak tanpa kasih, dan keindahan serta kebahagiaan iman. Umat manusia membutuhkan pahlawan untuk dicintai dan diteladani. Tanpa mereka, kita hanya memiliki angkatan bersenjata dan tentara yang dibiasakan patuh, dan menyisakan teror di setiap kepergiannya. Para sahabat Nabi yang melihatnya langsung dikaruniai hubungan secara langsung. Sedangkan kita, kita harus berusaha membangun hubungan melalui kenangan. Namun bagaimana cara Anda mengenang seorang pria yang seringkali dianggap rendah dan terselubung anonimitas?

Saya yakin Rasulullah SAW adalah manusia. Namun hal tersebut tidak lantas membuat saya berpikir ia sama kurangnya dan biasanya seperti kita semua. Sebaliknya hal itu membuat saya kagum pada wadah pilihan Allah. Bahwa Allah memutuskan membentuk jiwa yang paling dicintai-Nya dalam bentuk manusia membuat saya bersyukur atas kehormatan bisa memiliki unsur yang sama. Dan hal itu memberi saya harapan bahwa kita semua memiliki kemampuan untuk menjadi benar-benar baik.

________________________________________

[i] Jerome Taylor, ‘Mecca for the rich: Islam’s holiest site ‘turning into Vegas’, The Independent, 24 Sep 2011, dapat dilihat di sini.
[ii] Omer Ongut, Islam Dini ve Vehabilik Dini, Hakikat Publishing (2001)
[iii] Narrated by Yusair bin ‘Amr, in Bukhari, dapat dilihat di sini
[iv] ‘Ibn Saud, Wahhabis, and Oil, to 1945’, Macrohistory and World Timeline, dapat dilihat di sini
[v] Terjemahan Mohammad Asad translation

Leave a Reply
<Modest Style