Modest Style

Belajar dari kasus “Jilboobs”

,

Fokus yang berlebihan terhadap hijab mengalihkan perhatian dari masalah umat yang lebih besar, tulis Afia R Fitriati.

jilboobs

Sebuah kata bernada menghina belakangan menjadi bahasan dalam lingkaran media sosial di Indonesia: “jilboobs”, yang mengacu pada perempuan berkerudung dengan busana yang mencetak tubuh. Yang lebih parah, kata tersebut bukan sekadar kata yang sekadar digunakan dengan ringan di sana-sini dalam perbincangan; ada tagar Twitter dan laman Facebook dengan foto-foto orang sungguhan berjudul kata ini.

Istilah ini telah memancing banyak komentar dari masyarakat umum, komunitas hijabi dan bahkan Majelis Ulama Indonesia. Beberapa mengecam pembuat akun-akun “jilboobs”. Kebanyakan menyampaikan kata-kata tajam pada para wanita yang gambarnya bermunculan di akun-akun ini. Meski begitu, di tengah gelengan kepala dan decakan lidah yang bermunculan, saya merasa ada beberapa poin penting yang tidak terbahas dalam diskusi tentang fenomena media sosial ini.

Pertama, bagi saya kontroversi ini menekankan anggapan bias tentang kesantunan yang terdapat di banyak kelompok masyarakat Muslim. Banyak yang mengambil keuntungan dari perhatian media atas isu ini untuk menyeru pada wanita Muslim untuk menutupi tubuh sesuai “panduan syariah”. Namun, sangat sedikit komentar dan kritik di media yang ditujukan pada orang-orang (baca: pria) yang menekan tombol “like”, berkomentar atau membagikan berbagai akun dan postingan terkait kata ini yang menyebabkan fenomenanya menjadi meledak di media sosial.

Para kritisi ini tampaknya lupa bahwa saat mereka mengutip ayat dari surat An-Nur (24:31) untuk memperkuat teguran mereka atas cara berbusana wanita, ayat yang mendahului (24:30) justru menyeru pada pria beriman untuk menundukkan pandangan. Mereka juga tampaknya mengabaikan bahwa pada kasus ini yang menjadi korban sebenarnya adalah para wanita yang privasi dan kehidupannya dikerdilkan menjadi gambar-gambar anonim di media sosial – sangat mungkin tanpa seizin mereka – agar dapat dipandangi oleh mata-mata jahil dan dibagikan serta dikomentari oleh pikiran-pikiran yang kurang lurus.

Saya juga terkagum-kagum melihat betapa kerudung penutup kepala telah begitu kuatnya menjadi simbol kesantunan dan ketaatan di negara ini beberapa tahun belakangan. Orang-orang seakan lupa bahwa beberapa tahun yang lalu, kebanyakan Muslimah Indonesia tidak mengenakan hijab – dan hal tersebut tidak dianggap sebagai masalah. Tidak ada orang yang pernah mengomeli nenek saya yang tidak berkerudung karena mengenakan kebaya dalam kesehariannya.

Namun belakangan ini, kerudung seorang wanita begitu disamakan dengan kesucian hingga orang-orang merasa terganggu jika simbol ini ternoda. Yang lebih mengkhawatirkan bagi saya adalah saat menyaksikan bahwa perbincangan tentang hijab cenderung mengalihkan perhatian kita dari masalah-masalah lebih penting yang dihadapi oleh masyarakat.

Masih segar dalam ingatan saya bagaimana seorang figur publik disuruh melepaskan hijabnya saat kampanye pemilihan presiden beberapa pekan lalu hanya karena ia memberi dukungan untuk kandidat yang dianggap “tidak Islami” oleh sebagian orang. Di saat yang berdekatan, seorang artis muda mendapat banyak perhatian media atas pilihannya melepas hijab.[i]

Namun di saat yang berdekatan pula, sebuah kasus perkosaan yang dilakukan beramai-ramai hampir-hampir tidak tertangkap media. Di ruang sidang, para pengacara dan hakim bahkan menyalahkan korban karena tidak berbusana santun, yang menyiratkan tuduhan bahwa ialah yang memancing terjadinya pemerkosaan tersebut.

Saya yakin standar ganda seperti ini tidak hanya ada di Indonesia. Namun mengingat situasi dunia kita saat ini yang begitu menyedihkan, saya rasa inilah saatnya umat Muslim berhenti memusingkan hal-hal kecil yang sepele dan mulai menaruh perhatian pada masalah lebih besar yang dihadapi umat.

Sebagai permulaan, mari jangan biarkan kata-kata menghina seperti “hojabi” maupun “jilboobs” memperkaya kosa kata kita. Selalu ada hal lebih penting di balik yang kita lihat dan merendahkan orang lain bukanlah cara efektif untuk membentuk masyarakat yang lebih toleran dan beradab.

________________________________________

[i] Rosa Anggreati, ‘Lepas hijab, ini jawaban Marshanda’, MetroTV News, 24 Jul 2014, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style