Modest Style

Pengalaman saya menghadapi pemerasan di Soekarno-Hatta

,

Tertinggal pesawat dan bersinggungan dengan korupsi untuk pertama kalinya menyadarkan Shea Rasol akan banyaknya hal yang patut disyukuri.

Gambar: iStock
Gambar: iStock

Karena telah berkomitmen untuk bepergian lebih banyak tahun ini, saya sadar bahwa saya juga harus siap mendapat pengalaman buruk. Saya memiliki banyak kenangan indah, namun yang buruk-buruk terkadang merupakan yang paling tidak terlupakan.

Dalam 25 tahun bepergian, tidak sekalipun saya pernah ketinggalan pesawat. Menurut saya prestasi itu bisa disebut sebagai sebuah pencapaian tersendiri karena saya sering mendengar cerita teman-teman yang pernah mengalami ketinggalan pesawat. Setiap mendengar cerita-cerita ini, saya akan berpikir, “Oke, jadi kamu ketinggalan pesawat, bukan masalah besar.”

Namun betapa salahnya saya! Pekan lalu, saya memahami betapa tidak enak rasanya ditinggal pesawat.

Kejadiannya saat saya akan meninggalkan Jakarta. Saya dan teman-teman dijadwalkan lepas landas pada hari Minggu pukul 9 malam. Berangkat dari Bandung, kami tiba tepat waktu di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Saya, Sabrina, dan Nurul buru-buru mendatangi konter pendaftaran dan menuju ke konter imigrasi, di mana saya dan Nurul lewat tanpa masalah. Namun Sabrina dihentikan di konter karena ia tidak memiliki kartu keberangkatan aslinya. Ia mengisi kartu yang baru dari seorang petugas sebelum kami tiba di konter imigrasi.

Saat menunggu Sabrina, Nurul – yang pernah bersekolah di Jakarta – mengatakan pada saya bahwa ini tidak akan jadi masalah, ia pernah mengalami hal yang sama beberapa kali dan selalu lolos. Jadi kami pikir Sabrina juga tidak akan apa-apa.

Setelah hampir 20 menit, kami lihat wajah Sabrina memerah – kami pun tahu ia dalam masalah. Saya dan Nurul mendatangi konter kembali dan memohon petugas imigrasi untuk membiarkannya pergi karena pesawat kami telah melakukan panggilan terakhir. Nurul menceritakan pengalamannya kepada petugas tersebut, namun yang terjadi selanjutnya membuat kami takut.

Dengan cengiran murka, petugas tersebut meneriaki kami dengan suara tinggi, “Sekarang siapa yang petugas imigrasi, Anda atau saya? Apa yang Anda lakukan di sini? Kembali keluar sebelum saya tahan kalian semua!”

Setelah beberapa menit, Sabrina dipersilakan pergi dan kami berlari sekuat tenaga menuju gerbang keberangkatan kami, hanya untuk mendapati pintunya tertutup dan diberitahu bahwa kami ketinggalan pesawat. Tangis Nurul dan Sabrina pecah, sementara saya berdiri dengan pikiran kosong. Kami memohon petugas tersebut untuk membiarkan kami masuk karena pesawatnya masih ada di sana, namun ia berujar tidak.

Kami ketakutan karena tidak satupun di antara kami yang pernah mengalami kejadian ini. Kemudian, Sabrina menceritakan pada kami bahwa petugas imigrasi tadi memintainya Rp 500.000 sebagai denda atas “teman-teman tidak tahu sopan santun yang mencoba membantunya”.

Apa?

Jelas itu bukan alasan yang sah. Seorang petugas baik hati memandu kami keluar dari ruang tunggu dan menawarkan bantuan mengambil kembali bagasi kami. Sabrina mendatangi konter imigrasi untuk meminta uangnya kembali.

Ia berkata pada petugas tadi, “Karena Anda, kami jadi ketinggalan pesawat. Dan sekarang saya tidak punya uang untuk membeli tiket baru. Tolong, kembalikan uang saya.”

Dengan wajah datar, ia mengeluarkan uang tersebut dari dompet dan menyerahkannya pada Sabrina. Dari kejauhan, saya dan Nurul menyaksikan kejadian ini dengan jijik.

Ini merupakan kali pertama kami menjumpai korupsi, yang membuat kami merenungi rencana tersembunyi yang dimiliki hidup. Saya terpukul harus menyaksikan langsung hal tersebut. Saya tidak menyalahkan negara maupun pemerintah Indonesia – saya yakin ini adalah keburukan pribadi seseorang karena buktinya ada petugas lain yang memberi kami bantuan malam itu.

Terlantar di terminal bandara membuat kami merasa agak takut. Hanya ada kami – tiga gadis Malaysia yang tidak tahu apa-apa. Semua konter dan restoran sudah tutup dan akan buka kembali pada pukul 6 pagi keesokan harinya. Kami juga diberitahu bahwa penerbangan selanjutnya tersedia 24 jam lagi, pukul 9 malam hari berikutnya. Segalanya menjadi jauh lebih menakutkan saat beberapa pria mendatangi kami dan bertanya di mana kami akan menginap malam itu.

Untungnya, kami masih memiliki akses internet di ponsel. Alhamdulillah, asisten pribadi Dian Pelangi dengan baik hati menawarkan diri menjemput kami meski ia sedang berada di pertunjukan seorang teman. Kami merasa sangat bersalah telah merepotkannya, namun dengan tangan terbuka, ia berkeras membawa kami ke rumahnya malam itu. Dan karena maskapai penerbangan menolak mengembalikan uang tiket kami, maka kami membeli tiket dari maskapai lain untuk keesokan hari.

Hari berikutnya, kami bertiga dapat menertawakan kejadian ini. Empat hari kami sebelumnya bersama Dian Pelangi benar-benar sempurna, jadi tentunya wajar jika terjadi masalah kecil, bukan?

Untungnya kami memiliki kartu SIM lokal dan powerbank untuk ponsel. Sulit rasanya mempercayai orang asing bahkan untuk meminjam telepon, terutama saat mereka tahu kami adalah pendatang yang berada dalam masalah dan sedang dalam kondisi paling rentan. Saya hanya berharap petugas yang korup pun akan berubah menjadi lebih baik dalam situasi seperti ini.

Jika Anda membaca ini dan berpikir bahwa ini merupakan kejadian sehari-hari, saya bisa pahami. Namun mengalaminya langsung membuat saya menjadi lebih menghargai hal-hal baik yang telah terjadi dalam hidup saya, dan mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati di lain waktu.

Saya ingin memiliki lebih banyak kenangan perjalanan, baik maupun buruk. Kini saya jadi memiliki kisah perjalanan yang dapat saya bagikan pada sesama, dan saya tidak keberatan membaginya.

Leave a Reply
<Modest Style