Modest Style

Pengakuan si ‘Telat Mekar’

,

Temukan jalan hidup Anda di waktu yang paling tepat dan jangan terjebak dengan gagasan bagaimana hidup seharusnya, tulis Amal Awad.

Image: SXC
Image: SXC

Pada satu tahap dalam usia 20-an, dengan jelas saya ingat merasa seolah-olah seperti sedang berada di sebuah taman hiburan tanpa diizinkan untuk menaiki wahananya.

Hal ini dapat terjadi ketika kita berada dalam kondisi autopilot. Ketika orang-orang di sekitar kita tumbuh, menempa diri mereka sendiri, dan memiliki pasangan, kita mulai merasa ditinggalkan, seolah-olah ada sesuatu yang salah karena ‘hal-hal kehidupan’ yang kita pesan belum datang.

Inilah yang saya pikirkan selagi saya meniti tubir usia pertengahan 30-an. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan hidup saya akan terlihat seperti apa. Atau lebih tepatnya, saya bisa, tapi karena ini terjadi sebelum saya mengandalkan intuisi saya, hidup hanya terlihat seperti sampul buku yang telah saya tulis dalam pikiran saya.

Syukur kepada Tuhan untuk hal itu.

Saya jenis orang yang terlambat mekar. Setidaknya itulah yang saya katakan pada diri saya sendiri ketika saya berpikir tentang alur hidup saya yang (kadang-kadang) mengejutkan. Segala sesuatu tidak selalu berjalan seperti yang kita antisipasi.

Syukur kepada Tuhan untuk hal itu.

Ibu saya pernah berkata, segala sesuatu tidak selalu terjadi di saat yang kita harapkan, mereka juga tidak selalu mengikuti urutan yang ‘benar’. Beberapa peristiwa besar dalam hidup manusia terjadi pada sepertiga pertama dari perjalanan mereka, sebagian orang pada sepertiga yang kedua, dan sisanya pada yang sepertiga terakhir.

Ini mungkin terdengar agak suram, tetapi sebenarnya hal ini seharusnya menimbulkan harapan. Karena pada dasarnya ini berarti kita tidak terikat dengan jadwal peristiwa-peristiwa tertentu. Prestasi, kemajuan, atau apa pun yang kita cari tidak harus terjadi di pos pemeriksaan yang sama agar memiliki makna.

Ketika masih muda, saya pikir saya akan menikah di usia muda, punya anak, dan belajar memasak sekaligus menjadi semacam perempuan karier. Saya akan memiliki segalanya, meskipun saya cukup yakin fokus utama saya adalah menemukan seorang pria yang mirip Clark Gable atau Jon Bon Jovi (dalam hal ke-macho-an, tidak perlu dalam hal penampilan). Lihat sendiri ‘kan, betapa romantisnya saya?

Adapun perihal karier, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Tapi sejak TK saya selalu mencintai kata-kata tertulis dan pertunjukan. Film merupakan menu utama di masa kanak-kanak saya, seperti juga koleksi buku seperti The Babysitters’ Club diikuti oleh Sweet Valley High dan tentu saja, Judy Blume.

Meskipun hidup saya tidak menyerupai kehidupan para karakter tersebut yang cemerlang, saya masih merasakan adanya hubungan ke cita-cita mereka. Kita tumbuh dewasa, bertemu seseorang dan jatuh cinta, dan menikmati kesuksesan dalam mengerjakan hal yang kita cintai. Demikian mudah.

Yah, ternyata tidak semudah itu. Tapi ketika saya merenungkan nasihat ibu tentang membiarkan hal-hal terjadi pada waktunya, saya menyadari bahwa kegelisahan hidup adalah bagian besar dari hal yang membuat hidup menjadi perjalanan yang menakjubkan.

Saya sudah membicarakan hal ini sebelumnya, bahwa dalam kegelapanlah kita menemukan kekuatan kita.

Saya tidak menikah di usia muda, jadi saya melakukan sesuatu yang agak baru dan memutuskan untuk mengenal diri saya sendiri. Bahkan, saya mencoba hal gila ini, yaitu mencoba mencintai diri sendiri. Saya tidak pernah kehabisan cinta kasih terhadap orang lain, tapi saya tidak selalu murah hati pada diri saya sendiri.

Kemudian, perihal karier. Anda akan geli bila mengetahui bahwa meskipun saya lulus SMA, bergelar sarjana hukum, dan menjalani karier singkat sebagai pengacara, saya masih tidak tahu apa yang ingin saya lakukan. Saya seperti ucapan di salah satu magnet kulkas yang mewanti-wanti untuk jangan pernah tumbuh dewasa.

Tapi saya toh tumbuh dewasa. Dan saya paham bahwa saya perlu bekerja, bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga supaya memiliki tujuan. Saya perlu menekuni sesuatu, dan bukannya membuang-buang hari saya melakukan kegiatan yang membuat saya merasa hampa.

Memang, alangkah senangnya jika kita tidak harus menunggu untuk hal-hal yang kita inginkan. Ini terutama terasa sangat sulit ketika tampaknya semua orang di sekitar kita diberi akses ke jalur cepat sementara kita sedang terjebak dalam kemacetan lalu lintas.

Tapi ketika hal-hal yang kita inginkan akhirnya benar-benar tiba, mereka mungkin terlihat tak persis seperti yang kita bayangkan. Kemungkinan besar malah tidak akan seperti yang kita harapkan pula.

Namun entah bagaimana semua dengan mudah pas pada posisinya, seolah-olah mereka adalah bagian yang hilang dari teka-teki yang tersembunyi dari jangkauan kita.

Tiba-tiba, dengan mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya, kita menyadari bahwa segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya.

Leave a Reply
<Modest Style