Pelecehan Seksual dan Peran Masyarakat Muslim

,

Untuk menghadapi topik yang tabu dalam masyarakat, kita perlu mempertanyakan terlebih dahulu ekspektasi kita sendiri, tulis Eren Cervantes-Altamirano.

0201-WP-Abuse-by-Eren-SXC

Ketika saya berusia 15 tahun, saya memiliki teman dengan usia sama yang secara teratur dilecehkan secara seksual oleh ayah kandungnya. Dia bercerita soal itu, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap hal itu atau bagaimana menghentikannya. Kejadian itu telah berlangsung lama dan teman saya menganggapnya normal bahkan mengharapkannya, meski dia juga ingin berhenti. Ketika kami sama-sama berusia 16 tahun, dia kabur dengan pacarnya dan tidak pernah menemui ayahnya lagi. Pengalaman itu telah merusak hidupnya dan mempengaruhi hubungannya dengan seksualitasnya.

Saya tumbuh dalam masyarakat yang menganggap tabu pelecehan seksual. Masyarakat memandang pelecehan seksual sebagai rahasia kotor yang tidak boleh keluar dari rumah, atau sebagai masalah tidak nyata yang dibuat oleh para perempuan yang senang berganti pasangan seksual. Kenyataannya, di Meksiko, kekerasan seksual dan eksploitasi masih terjadi, lebih banyak dari yang ingin diakui masyarakat. Seperti terjadi di banyak negara, perempuan sering kali disalahkan dalam kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual.

Beberapa wilayah di Meksiko memiliki budaya religius dan memegang nilai-nilai konservatif, yang sering kali diterjemahkan menjadi mengajarkan perempuan sebagai satu hal dan lelaki sebagai hal yang sama sekali berbeda. Peran gender sangat didorong dan seksualitas tidak dapat diterima.

Dalam usia sangat muda, banyak perempuan Meksiko diajarkan bahwa pemerkosaan (atau menghindarinya) adalah tanggung jawab mereka. Sebagai perempuan muda di Meksiko, saya dibuat untuk takut terhadap laki-laki yang bisa saja menyakiti saya karena masyarakat berkata bahwa lelaki memiliki kekuatan untuk menyakiti kita lewat pemerkosaan, kekerasan seksual, atau perdagangan manusia. Jadi, saya diajarkan untuk tidak meninggalkan rumah setelah gelap, selalu pergi ke toilet dengan teman-teman perempuan, atau berlari secepat saya bisa jika bertemu lelaki “mencurigakan” di jalanan.

Lebih jauh, saya belajar bahwa saya tergantung pada ayah saya untuk melindungi saya sampai orang lain mengambil alih tanggung jawab itu. Sebagai remaja, saya memiliki beberapa teman yang memiliki pengalaman seksual yang bermasalah. Kondisinya bervariasi mulai dari masuk ke dalam dunia prostitusi sampai dilecehkan di rumah atau menjadi korban pemerkosaan dari pacarnya. Pengalaman mereka sangat kompleks, tidak hanya bagi perempuan yang terlibat tetapi juga bagi lelaki yang terlibat.

Dalam artikel terbaru, Al-Jazeera menunjukkan bahwa studi yang dilakukan di Inggris memaparkan masalah eksploitasi seksual pada remaja putri di kalangan Muslim dan minoritas Asia. Laporan itu menyebutkan beberapa insiden seksual termasuk prostitusi, pelecehan anak, pedofilia, pemerkosaan oleh teman kencan, dan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Masalah ini tampaknya sangat penting karena jaringan bawah tanah dari lelaki Muslim pelaku kejahatan itu telah teridentifikasi.

Laporan itu juga menunjukkan adanya lelaki Muslim dari berbagai usia berburu seks dengan anak di bawah umur dari latar belakang etnis dan ras tertentu, serta terjadinya perkosaan dalam struktur keluarga. Cerita bahwa ayah, saudara, kakek, paman atau sepupu menyerang perempuan dalam keluarga mereka selalu mengganggu dan menimbulkan perasaan tidak aman.

Dalam banyak situasi, perempuan dan anak-anak tidak aman di dalam rumah mereka sendiri. Seperti halnya di Meksiko, kita juga tidak membicarakan hal semacam itu di antara masyarakat Muslim.

Kekerasan seksual dan pelecehan adalah topik yang tabu di dalam masyarakat Muslim. Berdiskusi tentang pelecehan seksual sangatlah kompleks, karena hal itu tidak bisa dipisahkan dari diskusi soal keperawanan, pernikahan, peran gender, peran keluarga, definisi dari pemerkosaan, dan di atas segalanya, pertanyaan tentang maskulinitas. Laporan dari Inggris menyarankan aksi kebijakan dibutuhkan untuk mengatasi isu ini dan melindungi para gadis dan perempuan. Di antara saran yang diberikan, disebutkan meningkatkan kewaspadaan, tuntutan hukum bagi pemangsa seksual, dan menciptakan layanan bantuan yang peka budaya. Meskipun demikian, agar kebijakan itu berhasil, dibutuhkan pendekatan yang utuh.

Membahas pelecehan seksual di masyarakat Muslim, dan di tempat lain di dunia, membutuhkan dialog dengan anggota masyarakat dari semua jenis kelamin. Pelecehan seksual bukan hanya isu perempuan atau keluarga mereka. Kita harus melibatkan laki-laki dalam diskusi dan menanyakan apa artinya menjadi laki-laki Muslim di masyarakat masa kini? Apakah hal itu juga berarti dominasi seksual terhadap yang lain?

Pemerkosaan dan pelecehan seksual tidak membuat gadis-gadis dan perempuan bersalah atau kotor

Pendekatan kebijakan terhadap masalah tersebut haruslah berperan ganda. Di satu pihak, memberikan perhatian terhadap korban. Di lain pihak, menyelesaikan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Tantangan bagi dunia Barat dengan banyaknya kelompok minoritas adalah status mereka di masyarakat yang sangat kompleks. Ketika laporan itu mengenali kerawanan gadis-gadis Asia di dalam masyarakat mereka, sangat penting untuk menganalisa di mana kerawanan ini mereka alami. Para gadis ini sangat beresiko untuk sejumlah alasan, termasuk kemiskinan, pendidikan, dan akses terbatas terhadap sumber daya, layanan, dan keadilan.

Kebijakan tidak akan kuat tanpa didukung masyarakat yang terlibat dalam sebuah upaya nyata. Hal paling buruk yang mungkin terjadi selama implementasi kebijakan-kebijakan ini adalah masyarakat akan terus melindungi pelaku dan perempuan akan tetap enggan mencari pertolongan. Pendekatan yang utuh melibatkan pemimpin masyarakat, organisasi perempuan Muslim dan Asia, orang tua, imam dan ulama yang memahami pentingnya masalah ini. Ini akan membuat masyarakat berpikir ulang tentang konsep seksualitas dan pelecehan seksual, mempertanyakan maskulinitas, dan memahami bahwa tidak ada tempat bagi rasa malu dalam kekerasan seksual.

Sebagai Muslim, kita harus mampu memahami bahwa pemerkosaan, pelecehan seksual, dan perdagangan manusia tidak pernah bisa diterima. Baik dalam soal budaya atau agama. Pelaku dari kejahatan itu tidak hanya melanggar prinsip Islam atas kehormatan dan keadilan, tetapi juga merampas hak dan martabat dari perempuan di dalam masyarakat kita.

Pemerkosaan dan pelecehan seksual tidak membuat gadis-gadis dan perempuan bersalah atau kotor; peristiwa semacam ini lebih merupakan tanda bahwa kita, sebagai masyarakat, telah gagal menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.

Tugas kita adalah untuk melindungi dan menjaga satu sama lain. Bagian dari hal itu adalah menyediakan dukungan bagi korban, melaporkan pelaku, dan mau melawan tabu. Bagaimanapun juga, kita hanya bisa melakukan itu jika kita bisa mendobrak stigma dan tabu dan melakukan diskusi yang berarti mengenai perlindungan perempuan, pelaporan pelecehan seksual, dan penciptaan ruang aman bagi setiap anggota masyarakat.

Leave a Reply
Aquila Klasik