Modest Style

Panduan Film Halal

,

Film memang dicintai dalam skala internasional, tetapi jika Anda dibesarkan dalam keluarga Muslim, ratingnya haruslah selalu BO. Amal Awad memberikan enam pilihan utamanya yang niscaya direstui orangtua.

0902-WP-Films-by-Amal-sm

Saya akui saya seorang pencinta film, begitu cintanya sampai saya mempelajari bagaimana cara menulis skenario. Saya kira ini disebabkan oleh faktor utama, tapi bukan yang paling istimewa: saya tumbuh besar dengan film-film Hollywood.

Saya menyalahkan film atas kesalahpahaman saya sebelumnya tentang cinta (yang hampir tidak pernah diungkapkan di jalan yang ramai untuk kemudian disambut tepuk tangan). Saya cukup yakin filmlah yang pertama kali memperkenalkan saya pada tokoh wanita karier—dan saya bicara tentang para para wanita paruh baya jenaka dari zaman keemasan film, bukan karakter perempuan ajaib dengan masalah sepele yang mudah diperbaiki oleh seorang lelaki.

Akan tetapi, seperti yang dialami oleh siapa pun yang tumbuh besar di keluarga Muslim, selalu ada orang yang mengawasi kegiatan kita menonton film dan belajar. Saya dulu nyaris tidak diizinkan pergi ke bioskop, jadi di rumahlah saya paling sering memuaskan hasrat menonton film, khususnya dengan para abang saya. Kegiatan ini termasuk menikmati beberapa film yang seharusnya tidak kami tonton (walaupun masih terbilang aman).

Tentunya, tantangannya ada di orangtua. Anda tidak bisa bebas menonton jika ada mereka. Sampai saat ini pun, kalau saya kebetulan menonton suatu film bersama mereka dan si pasangan mulai menunjukkan gelagat akan berpelukan, saya mulai menyibukkan diri memeriksa telepon, atau kami akan membicarakan pekerjaan, kehidupan dan berbagai hal lain yang sebelumnya tidak ingin kami bahas.

Demi memuaskan keinginan, saya memutuskan untuk menggali rekaman sejarah film yang pernah saya tonton dan mempertimbangkan beberapa film masa kecil yang dapat saya nikmati tanpa harus mengganti saluran TV (atau sedikitnya, tidak lebih dari sekali, sebab bahkan film-film Disney pun memuat adegan sepasang kekasih berciuman).

Jadi, inilah daftar saya untuk film-film paling mendekati halal yang saya ingat. Terima kasih kembali.

1. ET

E_t_the_extra_terrestrial_ver3-sm

Pastinya, ini film yang menyeramkan, tetapi ini juga salah satu film paling terkenal sepanjang masa (berkat adegan bersepeda melewati bulan). Film ini (lumayan) seru untuk segala umur. Anda pun bisa kembali menirukan kalimat lawas yang populer 20 tahun yang lalu: ET… phone home.

2. The Lion King

The_Lion_King_poster-sm

Anda tidak perlu mengganti saluran saat muncul adegan singa berpelukan. Terutama karena mereka tidak melakukannya; mereka hanya berguling-guling, terlihat menggemaskan dan semacam itulah. Dan film ini bernuansa Hamlet: dramatis, menarik tapi juga sedikit sedih.

3. Back to the Future

Back_to_the_Future-sm

Kemungkinan mengganti saluran pada film ini sedikit lebih besar daripada yang lain, semata karena tokoh Lorraine mencoba menarik perhatian Marty yang sebenarnya adalah putranya di masa depan. Namun, tidak ada adegan yang berbahaya, dan meskipun adegan para teroris dari Libya membuat film ini kehilangan arah, bukankah orang sedunia mencintai Back to the Future?

4. Film apapun yang dibintangi Doris Day

Doris_Day_-_1957-1-sm

Kemesraan di film ini umumnya ditampilkan dalam lagu dan tarian. Senyum Doris Day pun sangat manis; saking manisnya Anda sampai merasa membutuhkan obat diabetes. Seusai film, Anda mungkin masih membutuhkan setidaknya lima menit untuk memulihkan diri dari senyumnya yang terlampau manis itu.

5. The Sound of Music

Sound_of_music-sm

Film ini memang menampilkan beberapa adegan pasangan berpelukan, tetapi satu adegan sama seksinya dengan pelukan seorang pemilik kucing pada hewan peliharaannya itu. Adegan lainnya ditampilkan dalam bentuk siluet, yang bisa jadi merupakan kelemahan yang ternyata menguntungkan. Adegan-adegan di bukit tampak alami dan menjanjikan tontonan yang halal.

6. Trilogi The Toy Story

Toy_Story-sm

Adegan paling berisiko dari film dengan sinematografi cemerlang ini adalah saat si gadis gembala Bo Peep menggunakan tongkatnya untuk menarik Woody ke arahnya, yang tidak kita saksikan. Nuansa film ini sedikit gelap, sejumlah karakternya pengecut tapi kejam (baik karakter manusia, mainan dari plastik maupun boneka) yang mengingatkan kita akan bahaya dunia. Tetapi tidak ada adegan yang mengharuskan kami pindah saluran.

Tidak ada keraguan bahwa selain tahun-tahun yang dihabiskan untuk belajar dan menjalani kehidupan, film telah mengajari saya satu atau dua hal tentang manusia—bahwa kita dikemudikan dalam cara yang sama. Kita menginginkan hal yang sama. Dan kita sangat senang dihibur untuk merasa terhubung pada sesuatu. Kita menonton film dengan harapan bisa merasakan, memahami, atau hanya membayangkan beberapa kemungkinan besar dalam hidup.

Leave a Reply
<Modest Style