Modest Style

Muslimah “Ideal”

,

Apakah Anda harus menikah dulu untuk menjadi Muslimah ideal? Fatimah Jackson-Best membahas bagaimana pandangan sempit terhadap kaum perempuan Muslim merugikan kita semua.

Beberapa hari lalu saya menerima sehelai brosur untuk mengikuti seminar tentang perempuan yang diadakan di sini, Barbados. Di bagian paling atas, terdaftar beberapa kriteria “Perempuan Muslim Ideal” yang terdiri dari mematuhi perintah Allah serta ajaran Utusan-Nya (SAW), seorang “istri yang penurut”, “ibu dan panutan yang baik”, serta “muslimah penyayang dan tulus di masyarakat”.

flyer
Acara ini hanya mengurutkan sebagian kecil dari potensi perempuan Muslim, dan mengartikan seseorang harus menikah dulu untuk menjadi “ideal”.

Selain memerhatikan bahwa kriteria di atas memiliki standar yang terlalu tinggi untuk dicapai, saya juga mencatat penekanan brosur itu terhadap sebagian hal yang banyak diajarkan sebagai cita-cita Muslimah. Tentunya, sebagai komunitas dan sebagai manusia, baik laki-laki maupun perempuan seharusnya berusaha untuk memenuhi banyak dari atribut tersebut. Akan tetapi, saya selalu tidak nyaman jika kaum perempuan Muslim langsung dihubungkan dengan status mereka sebagai istri.

Untuk jelasnya, saya Muslimah yang menikah, tetapi selama beberapa waktu status saya tidak selalu begitu. Baru di tahun inilah saya memutuskan untuk menikah di usia 30 tahun, usia yang bagi sebagian Muslim dianggap sudah terlalu tua bagi seorang perempuan untuk mengharapkan pasangan yang layak atau bahkan sekedar seorang pasangan. Tetapi di sinilah saya, 30 tahun dan menikah dengan laki-laki hebat di tengah keluarga dan teman-teman.

Tak pernah sekali pun saya berpikir bahwa saya tidak pantas mendapatkannya, atau bahwa saya menyambar laki-laki pertama yang menunjukkan sejumlah ketertarikan pada saya. Saya bersikap selektif dan mungkin sedikit pemilih. Selain itu, saya tidak pernah percaya bahwa pernikahan akan menjadi momen yang menentukan kewanitaan atau identitas agama saya.

Meski tidak pernah merasa dipaksa orangtua untuk menikah, seperti kebanyakan perempuan Muslim, saya sering mengalami tekanan sosial dari teman, rekan sejawat dan wacana islami yang sama dengan yang dicetak di brosur itu. Saya didesak untuk tidak menunggu terlalu lama, kalau tidak saya akan dianggap “keras kepala” dan tidak cukup fleksibel untuk hidup dengan seseorang. Saya juga diberi tahu bahwa pernikahan adalah sebagian dari agama seseorang, jadi saya harus mengarunginya sebelum menjadi perawan tua.

Walau begitu, saya tahu saya akan menikah, namun dengan prasyarat dari diri saya sendiri di mana ikatan tersebut memungkinkan saya untuk mewujudkan sejumlah impian dan cita-cita saya. Jadi saya pun mengejar gelar S1, lalu memperoleh gelar Magister dan setelah itu saya mulai menempuh studi doktoral. Keputusan ini bukan supaya saya dapat menggunakan pendidikan sebagai alasan untuk keingintahuan para perempuan lebih tua yang menanyakan kenapa saya belum menikah, tetapi karena saya benar-benar menginginkannya. Saya menghadiri sejumlah konser, melakukan perjalanan, pindah ke Barbados, menjalin pertemanan yang bermakna, mengutarakan pendapat dan menikmati kehidupan. Saya menikmati kehidupan karena biarpun saya tahu pernikahan adalah sesuatu yang ingin saya lakukan, saya tidak akan membiarkan harapan orang lain memutuskan kapan saya akan melakukannya.

Pernikahan tidak menjadikan Anda perempuan. Menjadi perempuanlah yang menjadikan Anda perempuan

Salah satu tokoh panutan saya adalah Khadijah al-Kubra, dan bukan hanya karena beliau adalah istri salah satu laki-laki hebat dalam sejarah Islam. Inilah pengusaha perempuan yang sebetulnya menggaji Nabi Muhammad (SAW) sebagai pekerjanya. Khadijahlah yang kemudian melamar nabi untuk menikahinya ketika usianya 40 tahun dan usia nabi sekitar 25 tahun.

Khadijah jualah orang pertama yang beralih memeluk Islam, menentang norma sosial dan harapan religius di masa itu. Betapa berani dan kuatnya dia sehingga dapat melakukan semua hal itu. Inilah jenis Muslimah yang saya anggap ideal—perempuan yang menyelaraskan kehidupan profesional dan pribadinya, serta yang melakukan berbagai hal di waktu dan caranya sendiri.

Tulisan ini tidak bermaksud menggambarkan dua potret perempuan Muslim yang bertentangan, tanpa adanya jalan tengah atau pengecualian untuk aturan tersebut. Tetapi sejumlah brosur seperti yang saya terima membuat saya sadar bahwa Muslim sering mendukung kefemininan dan kewanitaan perempuan melalui status pernikahan mereka.

Feminis Nigeria, Chimamanda Ngozi Adichie, menyampaikan pandangan penting dalam pidatonya tentang feminisme di acara TEDx. Dia mengatakan walau perempuan mungkin didorong untuk sukses dan ambisius, pernikahan selalu menjadi tujuan akhir yang melambangkan kemenangan kita yang paling penting.[i]

Di kalangan Muslim, jika Anda tidak bersuami, tidak dapat mempertahankan suami atau tidak menginginkan suami, Anda mungkin tidak akan dianggap perempuan sejati. Ini benar-benar tidak adil bagi perempuan yang memenuhi semua kategori di atas. Kenyataannya, pernikahan tidak menjadikan Anda perempuan. Menjadi perempuanlah yang menjadikan Anda perempuan.

Tidak ada yang salah dengan menikah atau menginginkan pernikahan, tetapi jika itulah satu-satunya tujuan yang kita ajarkan pada perempuan Muslim, maka kita melakukan tindakan yang sangat merugikan mereka. Alih-alih, biarkan kita mendukung bahwa seorang perempuan harus menentukan jalan hidupnya sendiri, berani, memiliki pendapat, dan cukup pembangkang untuk memulai revolusi bila dia menginginkannya.

Jika dia memutuskan untuk menikah di antara semua itu, maka hal itu baik untuknya, dan betapa beruntungnya laki-laki yang kelak dinikahinya.
________________________________________
[i] Chimamanda Ngozi Adichie, ‘We should all be feminists’, TEDx Euston, bisa dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style