Modest Style

Muslimah di Media: Masihkah Warga Kelas Bawah?

,

Kaum muslimah bukanlah hal yang ganjil, dan prestasi mereka tak seharusnya dianggap pengecualian dari kewajaran, tulis Amal Awad.

Spektrum media: masih jauh dari seimbang. (Gambar: SXC)
Spektrum media: masih jauh dari seimbang. (Gambar: SXC)

Dari semua tulisan saya tentang perempuan muslimah, jarang saya secara spesifik sesumbar perihal capaian prestasi. Karena dengan melakukannya sama artinya saya menganggap hal itu unik atau tak lazim, padahal jelas tidak demikian. Bukan berarti kita tak perlu mengapresiasi sebuah pencapaian. Namun jika kita cermati, saya yakin setiap minggu kita akan menemukan sejumlah kisah tentang kaum muslimah yang telah melakukan banyak hal hebat di banyak bidang kehidupan.

Meski saya benci menggunakan kata “peningkatan”, namun tak dapat dimungkiri bahwa suara-kolektif kita kini telah mencapai sebuah timbre (warna suara) baru – atau sebagian orang bisa mendebat bahwa akhirnya kita mampu memiliki suara, titik. Saya akan menilai lebih jauh dari itu dengan mengatakan bahwa kini kita memiliki eksistensi. Kita adalah karakter-karakter buku komik dan kartun (Burka Avenger, Ms Marvel, The 99), aktivis (Manal Al-Sharif, Malala Yousafzai), profesional di beragam bidang (silahkan pilih), dan secara kontroversial, kita juga – meski tampak tragis – hipster (maaf, Mipzters).

Ada banyak hal yang lebih menarik daripada membincangkan perempuan berhijab di atas skateboard (meskipun saya akan kembali ke topik ini nanti). Baru minggu lalu, polisi Edmonton di Kanada mengumumkan seragam kepolisian yang ramah-muslimah: sebuah desain yang memasukkan unsur hijab dengan menutupi bagian kepala dan leher. Di mana elemen hebat kisah ini? Mereka sebenarnya tak memiliki satu pun muslimah saat ini yang mengajukan permintaan tersebut dalam pasukan kepolisian.  Yang hebat, hal itu adalah langkah proaktif yang telah diambil pihak kesatuan kepolisian dalam “menumbuhkan minat berkarier di kepolisian dari komunitas muslim Edmonton”.[i]

Dan ini terjadi tak lama berselang setelah rumah sakit Kanada mengiklankan bahwa mereka menerima dokter-dokter muslim perempuan yang berkerudung, menyusul peraturan kontroversial di provinsi Kanada, yaitu Quebec, yang merencanakan pelarangan simbol-simbol religius apa pun di layanan-publik. “Kami mempedulikan apa yang ada dalam kepala Anda, bukan apa yang Anda kenakan di atasnya,” demikian bunyi pariwara tersebut.

Ini adalah hal besar, karena sepertinya ini bukan sekadar  basa-basi menerima keragaman – tapi justru merupakan hasil dari keragaman itu. Seperti inilah bagaimana kita membuat perubahan dan eksis dalam masyarakat multikultural. Berkarya, ada dan bertindak.

Tanpa gembar-gembor, di mana pun mereka berada, para muslimah mendorong terjadinya perubahan dengan menjadi diri mereka sendiri. Kita mungkin terus-menerus diceramahi tentang bagaimana seharusnya berbusana dan bertingkah laku, namun kita sibuk mengejar karier, hasrat dan kehidupan dari sebuah aktualisasi-diri. Kita bisa saja sebagai istri, ibu dan anak perempuan, namun kita mewujudkan diri di luar segala label tersebut dan berdiri di atas sebuah keutuhan-diri sendiri.

Kemanusiaan kita – kesamaan kita – bukan hal luar biasa. Jika kita berpikir bahwa hal itu luar biasa, maka itu menunjukkan sikap kita terhadap kaum muslimah. Video Mipzters, contohnya, hanya menampilkan sekumpulan gadis yang berdandan dan bergaya di depan kamera. Tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan gadis-gadis lain di mana pun di seluruh dunia. Bisa dibilang, inilah mengapa hal tersebut menjadi begitu menyinggung, menurut para kritikus muslim. Kita tidaklah sama, demikian yang mereka dengung-dengungkan, dan kita mengirimkan pesan yang salah. Di saat yang bersamaan, kelompok non-muslim meratapi tragedi bagaimana kaum muslim mencoba bertingkah seolah mereka sama dengan orang lain. [ii]

Kita tak selalu sama seperti yang lain, namun kita juga bukan papan-reklame berjalan. Dan kita, pada level yang paling dasar, adalah sama. Kita manusia biasa. Dan kehebohan seputar video yang menggambarkan muslimah cool itu pada hakikatnya menunjukkan obsesi mengenai bagaimana seharusnya muslimah berbusana dan berperilaku, sebuah kritik yang diperbesar oleh perbedaan pendapat di kalangan muslim.

Secara personal, saya pribadi tidak melihat arti penting dari video tersebut, bukan karena menurut saya hal itu menyinggung, namun karena video itu tidak berbicara perihal pemberdayaan sama sekali. Sama halnya saya tidak menikmati video Miley Cyrus bergoyang “twerking”, saya tak terlalu peduli atas perempuan berhijab yang sedang menunjukkan kepada dunia betapa cool-nya mereka. Namun saya tak bermasalah jika mereka merasa perlu melakukan itu, karena kalau pun ada yang diperlihatkan,  adalah bahwa kebingungan-identitas dan tekanan atas kesadaran-fesyen tidak terbatas kepada suatu budaya tertentu.

Harapan utama saya adalah bahwa keyakinan kita tidak selalu menjadi fokus bagi kisah-kisah di media tentang muslimah. Saya berharap bahwa kita tak terus-menerus dicekoki pandangan bahwa muslimah sedemikian bersemangat dan bertekadnya dalam banyak tuntutan selain menjadi muslim. Namun seringkali, hal ini seperti sebuah sinyal yang dikobarkan setiap kali seorang muslimah tampil menonjol di kerumunan, dalam sebuah cara “Kita sudah punya pemenangnya!” – seolah ia adalah pengecualian dari sebuah kaidah penindasan. Dan menjengkelkan rasanya ketika ungkapan yang sama dan itu-itu saja kemudian diulang-ulang lagi untuk konsumsi publik di media.

Minggu ini di Australia, contohnya, sebuah saluran berita mengusung tajuk sebuah kisah muslimah yang mengenakan burqini (setelan baju renang muslimah) dengan judul “Kaum muslimah muda menjelajahi agama dan kewarganegaraan”,[iii] seolah-olah ini adalah konsep yang sama sekali baru. Seolah-olah kita tak pernah menjadi partisipan aktif dalam masyarakat selama bertahun-tahun lamanya.

Untuk waktu yang cukup lama, saya memegang keyakinan bahwa perubahan tak terjadi disebabkan adanya program peristiwa terkini yang menampilkan kelompok muslim lokal, atau karena seorang reporter bertukar-peran dengan seorang muslimah dan berhijab hanya untuk sehari. Fokus terhadap hal-hal yang seolah-olah baru ini adalah sesuatu yang saya sebut sebagai pendekatan “remeh” ala media, yang akan berdampak kecil untuk menghalau ide-ide yang keliru tentang muslim secara umum dan muslimah pada khususnya.

Perubahan terjadi pada level yang lebih dalam dan bawah-sadar. Hal ini adalah interaksi sesekali yang kita dapati saat bekerja di dapur, para komuter yang kita temui sehari-hari – yang selayaknya orang lain – tenggelam dalam keasyikan bersama tablet-nya atau lagu apa pun yang diputar lewat iPod. Pada sosok perempuan yang berdiri di belakang kita dalam antrean kasir, dengan sekeranjang belanjaan yang akan ia masak untuk dirinya sendiri atau untuk keluarganya. Dan yang sudah pasti pada sosok perempuan yang membuat sebuah penemuan terbaru dalam laboratorium penelitian atau yang meraih prestasi “nomor satu” untuk suatu hal.

Pada akhirnya, ia sedikit-banyak adalah perempuan biasa, seorang manusia yang ditandai dengan kesamaan-kesamaan umum yang juga berlaku bagi penghuni dunia lainnya. Jadi bersikaplah biasa dan tak perlu terkejut saat ia berlaku layaknya perempuan lainnya dan melakukan hal-hal yang hebat.


[i] Stephanie Dubois, ‘Edmonton police approve hijab headscarf design for female officers’, Metro.ca, 6 Des 2013, tersedia di sini
[ii] Rega Jha, ‘Can A Veiled Muslim Woman Also Be An American Hipster?’ Buzzfeed, 2 Des 2013, tersedia di sini
[iii] Murray Silby and Rachelle Alchin, ‘Young Muslims explore religion and nationality’, SBS, 7 Des 2013, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style