Modest Style

Berita Terkini: Muslim Ternyata Paham Satir

,

Humor tidak hanya untuk hiburan; humor juga dapat dipergunakan untuk membongkar kemunafikan. Amal Awad membahas bagaimana kaum Muslim mulai menggunakan satir.

Yang mana yang lebih bertakwa? (Gambar: SXC)
Yang mana yang lebih bertakwa? (Gambar: SXC)

Saya adalah penggemar satir. Satir dapat menggigit, cerdas, dan informatif. Satir dapat bercerita tentang kehidupan dan kemanusiaan, dan kelemahan yang ada pada keduanya. Satir juga dapat menjadi konyol, tidak sopan, dan sekadar lucu. Satir memutarbalikkan kenyataan dan membuat kita tertawa karenanya.

The Simpsons, sebuah institusi televisi, telah mempraktekkan satir selama lebih dari 25 tahun. Sepengetahuan saya, program tersebut tadinya diremehkan karena dianggap sebagai kartun komedi biasa.

Kesuksesan abadi program tersebut diraih lewat materinya yang berupa komentar terhadap kondisi masyarakat dan kehidupan, yang menyejajarkannya dengan gerakan zeitgeist.

Dan humor seperti yang ditawarkan The Simpsons-lah yang kita perlukan. Internet saat ini penuh dengan mim tentang humor kuliahan, yang meski memiliki penggemar tersendiri, tetap masih menyisakan hal lain yang berkaitan dengan kebodohan manusia untuk dibahas.

Muslim makin cerdas dalam menggunakan satir. Saya berbicara secara umum dan tidak dalam kapasitas mewakili suara Muslim dunia. Hanya saja, secara budaya kita memang pandai dalam urusan bercanda, namun tidak begitu dapat menerima candaan yang menyangkut diri kita. Kita terkenal terbiasa tidak ambil pusing dengan candaan satir yang ditujukan pada kita meski jelas candaan tersebut seringkali bertujuan menghina dan memunculkan reaksi negatif.

Namun di kalangan Muslim, satir sudah mulai populer. Hamzah Moin berinovasi dengan Maniac Muslim beberapa tahun lalu saat ia mencandai para Muslim yang harus berjuang menghadapi berbagai kebiasaan di kampus dan kebiasaan sehari-hari.

Juga ada The Muslims are Coming!, dibintangi oleh para komik yang melakukan pendekatan secara satiris dalam membahas masalah politik dan masyarakat.

The Hummus News, yang dari namanya saja jelas bukan sebuah acara serius, merupakan situs yang penuh olok-olok terhadap berbagai kekangan yang berlaku di masyarakat. Situs tersebut menampilkan berbagai kisah yang memiliki pengaruh besar bagi banyak orang, seperti “Masuknya Ryan Gosling ke Dalam Agama Islam Menghentikan Praktek Perjodohan” dan “Tembok Pemisah Antar Jender ‘Dapat Terlihat dari Luar Angkasa,’ Sebut Imam Setempat”.

Judulnya saja sudah sangat mencengangkan. Meski begitu, dengan mempelajari lebih jauh Anda akan memahami bagaimana situs tersebut menyentuh masalah praktek politik di dalam masyarakat dan dogma agama yang berlebihan dengan sangat berhati-hati dalam membentuk sebuah pernyataan humoris. Misalnya saja, sebagai perempuan kita tahu bagaimana tidak memadainya ruang salat yang tersedia di masjid setempat. Jika cukup beruntung, pihak masjid akan menyediakan kita ruangan yang biasanya mungil, atau berada di lantai atas, atau jauh di belakang. The Hummus News mengembangkan ide lelucon mereka dari keluhan semacam ini dan melaporkan bahwa sebuah masjid memotong anggaran dengan cara membangun aula ibadah online modern untuk perempuan.

Ini menunjukkan bahwa mencandai hal yang terus terjadi dalam komunitas Muslim merupakan tema tersendiri dan bahkan menjadi nilai jual. Hal-hal di atas adalah contoh bagus yang memperlihatkan bagaimana humor mempengaruhi alam bawah sadar secara kolektif dan membuat kita menertawakan diri kita sendiri.

Namun tidak satupun di antara media di atas yang cukup berani menyajikan satir yang menggigit, yang mampu unjuk gigi dan membuat orang-orang marah.

Di sinilah laman Facebook yang telah membuat saya berpikir, “Wow! Orang-orang ini berani menantang,” muncul. Dengan lebih dari 5,000 pengikut, A Man’s Hijab mengajukan pertanyaan relevan yang menusuk politik masyarakat Muslim seperti, “Bagaimana rasanya bila lelaki dan janggut diperlakukan seperti perempuan dan kerudung?”

Lebih jelasnya, laman satiris ini menyajikan bermacam analogi konyol yang biasa menyasar perempuan Muslim – misalnya, mim merendahkan yang menyamakan perempuan yang tidak mengenakan kerudung dengan lolipop tidak terbungkus yang jatuh ke tanah dan menjadi kotor. Siapa yang menginginkan lolipop kotor, ‘kan?

Gambar dari A Man’s Hijab
Gambar dari A Man’s Hijab

A Man’s Hijab menyelami berbagai analogi tentang perempuan Muslim dan secara subversif bertanya pada kita untuk menunjukkan betapa bodohnya bila kita mengeneralisasi perempuan berdasarkan cara berpakaian. Meski ada anggapan bahwa lelaki Muslim memiliki batasan hijab tersendiri, mereka tidak menjadi sasaran serangan semacam ini bila tidak menumbuhkan janggut atau menutupi bagian tubuh tertentu.

Benci melihat perempuan diserang sedangkan lelaki dipuji-puji bila menggunggah foto pribadi? A Man’s Hijab menyajikan mim terhebat saat mengunggah gambar kue cokelat dengan judul: “Saudariku, apa jadinya bila gambar ayah Anda, saudara Anda, suami Anda, atau anak Anda tersebar di internet? Mari hargai saudara kita dan kehormatannya!”

Saya hanya menanggapi dengan lulz (tertawa terpingkal-pingkal), dan semoga hummus selalu menyertai Anda. Lagipula, kita dapat melakukan hal yang lebih buruk dari sekadar menertawakan diri sendiri sesekali atas obsesi berlebih kita sebagai manusia.

Leave a Reply
<Modest Style