Modest Style

Musik Penuh Pesan: Rajae

,

Fatimah Jackson-Best berbincang dengan penyanyi Belanda kelahiran Maroko Rajae, Muslimah pertama yang menciptakan label rekaman sendiri dan menyebarkan kesegaran melalui melodi lembut dan lirik penuh makna.

1701-WP-Rajae-by-Fatimah-sm

Rajae El Mouhandiz adalah sosok multi talenta. Ia seorang seniman, penyanyi, juga produser pertunjukan teater Hijabi Monologues yang akan datang di Eropa. Satu hal yang tidak ia inginkan adalah menjadi sosok yang dibatasi oleh cara pandang orang lain. Terjebak di antara industri musik yang berpatokan pada citra perempuan yang provokatif dan seksi dengan tradisi agama yang menekankan kesederhanaan, Rajae melakukan yang terbaik untuk menciptakan jarak antara dirinya dengan kedua hal tersebut. Ia menerangkan, “Saya akan memecahkan dinding kaca, langit-langit kaca, dan apapun yang orang gunakan untuk menghalangi saya dengan musik saya, melodi saya, bakat saya.”

Menghancurkan penghalang tampaknya sudah menjadi ciri khas Rajae; pada 2005 ia menjadi Muslimah pertama yang menciptakan labelnya sendiri, Truthseeker Records. Adanya keterbatasan ruang bagi perempuan Muslim untuk memasuki industri musik dengan membawa kepribadian mereka merupakan salah satu faktor utama yang mendorong Rajae melakukan hal ini. Melalui labelnya, ia merilis album debut Incarnation pada 2006. Album kedua berjudul Hand of Fatima dirilis tahun 2010, dan tahun lalu single Gracefully dan film pendek berjudul Hope diputar perdana dalam rangka Hari Perempuan Internasional. Saat ini ia sedang berusaha melobi label-label rekaman untuk mengontrak seniman Muslimah, hal yang menunjukkan keinginan besarnya melihat lebih banyak kaum muda dan warga imigran yang suaranya terwakili dalam sebuah industri yang penuh bintang pop.

Pencapaian Rajae adalah hasil dari pengaruh kekayaan budaya yang dimilikinya. Gaya musik uniknya yang ia sebut “soul dan jazz Maghribi” merupakan hasil dari latar belakang Maroko, Aljazair, dan Amazigh yang dimilikinya. Kehidupannya di Belanda sejak masih anak-anak dan kelas musik klasik di sebuah sekolah musik Belanda juga turut membentuk nada eklektiknya.

Campuran budaya Rajae juga merupakan faktor yang mendorongnya untuk menyentuh Muslimah muda Eropa. Hal ini diwujudkan salah satunya dengan bekerja sebagai produser dalam pertunjukan Hijabi Monologues. “Saya ingin menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi [Muslimah] untuk mengekspresikan diri mereka dan membantu mereka menciptakan naratif mereka sendiri di masa saat masyarakat Muslim Eropa menjadi semakin konservatif”. Ia yakin Hijabi Monologues akan memancing kesadaran akan realita kejam dan indah tentang menjadi seorang perempuan Muslim di Eropa pada pertunjukan pertama di November nanti.

Tekadnya untuk mendesak batasan-batasan artistik dan kultural merupakan bukti nyata betapa beragamnya keperempuanan Muslim. Rajae tidak akan sekedar menjadi penonton saat citra kita sedang dibajak oleh ideologi kaku. Ia menyatakan bahwa untuk melihat adanya perubahan nyata tentang bagaimana kaum Muslim dan perempuan Muslim dipandang, kita harus terlibat secara kreatif dalam berbagai representasi melalui buku, film, televisi, dan musik. “Kita selalu terpaku pada politik dan agama, dan bukannya menciptakan media,” ujarnya.

Keyakinan Rajae dalam universalitas seni dan potensinya untuk dipergunakan sebagai media komunikasi juga menjadi panggilan untuk berkarya. “Mengubah naratif dengan cara memproduksi sendiri dan menciptakan (multi)media dan pertunjukan Anda sendiri adalah cara yang dibutuhkan.” Jika dipergunakan dengan maksud dan tujuan yang benar, maka kita akan memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana kita ingin direpresentasikan dan digambarkan.

Setelah hampir 10 tahun berada dalam industri musik, adanya ideologi relijius yang membentuk cara beberapa Muslim menanggapi musik sudah tidak aneh bagi Rajae. Untuk menghadapi ini, ia membahas soal niat di balik setiap tindakan. “Kita anggap musik dangkal, namun musik memiliki kekuatan menyembuhkan. Beberapa menyebutkan musik itu haram, namun Anda dapat menggunakan musik untuk mengubah naratif.” Banyak karya Rajae yang membahas tentang cinta, perubahan pribadi, Allah, aktivisme, dan penerimaan. Baginya, pesan yang diantarkan musik tersebutlah yang terpenting, dan pijakan yang diciptakannya jauh lebih penting daripada kritik apapun yang ditujukan pada musik tersebut.

Hal selanjutnya yang akan Rajae hasilkan selain Hijabi Monologues adalah singel yang diberi judul Al Watan (Ibu Pertiwi) yang akan dirilis pada bulan Maret bersamaan dengan sebuah video musik. Kemudian, ia berharap untuk pindah dari Belanda dan kembali ke tanah airnya, Maroko, di mana ia dapat berpartisipasi penuh dalam dunia seni dan musiknya yang sedang berkembang. Ia akan merekam album studio ketiganya di tanah tempat ia merasakan ikatan spiritual yang kuat. “Saya ingin menjadi produk Maroko 100 persen,” ungkapnya pada saya.

Jelaslah sudah, di manapun ia tinggal, Rajae adalah sosok perempuan dengan visi, tujuan, dan kemungkinan tanpa batas.

Anda dapat terhubung dengan Rajae melalui:
Situs: www.rajae.net
Twitter: https://twitter.com/rajae
Facebook: https://www.facebook.com/rajaeofficial
YouTube: http://www.youtube.com/user/rajaemusic

Leave a Reply
<Modest Style