Modest Style

Minum… Atau Tidak?

,

Terkadang, kita dihadapkan dengan tekanan sosial yang menantang keimanan kita.  Afia R Fitriati membagi pengalamannya.

Image: SXC
Image: SXC

‘Minumlah sedikit. Ini hanya anggur, kok,’ katanya dengan nada sedikit memaksa.

Saya merasa butiran keringat mulai bermunculan di dahi, seolah-olah ada lima ribu bola lampu yang menyoroti saya. Dia dosen saya di Singapura, anggota dewan fakultas yang terhormat sekaligus tuan rumah kami pada makan malam itu. Sebelum ini dia menunjukkan koleksi anggurnya yang berharga di gudang bawah tanah, dan meskipun saya telah jelas-jelas mengatakan bahwa saya tidak minum minuman beralkohol, dia meminta saya untuk mencicipi anggur di meja makan – di depan semua teman sekelas saya.

‘Saya kenal muslim yang minum. Tidak apa-apa,’ dia menekan lebih lanjut.

Saya merasa segala macam emosi bergejolak di perut saya, membuat saya mual. Saya mengagumi dia sebagai dosen yang pandai, dan sebagai tamu di rumahnya saya merasa wajib menunjukkan rasa hormat. Namun dengan memaksa saya – seorang wanita muslim berhijab – untuk minum anggur di depan puluhan tamunya, ia secara terbuka melecehkan iman dan mempermalukan saya.

Saya menggeleng. Saya dapat merasakan wajah saya memerah. Rasanya tangisan saya bisa meledak pada saat itu juga.

Seorang teman yang lahir dan dibesarkan di Jerman pernah menjelaskan kepada saya tentang norma sosial yang melatari masyarakat sekuler pergi ke bar dan menyesap minuman beralkohol: ‘Minum minuman beralkohol adalah semacam tiket sosial. Minuman ini membuat kita merasa lebih santai untuk bersosialisasi dengan orang lain,’ jelasnya. Dengan kata lain, ia menyiratkan kalau kita tidak minum, kita tidak akan diterima ke dalam lingkaran sosial tertentu.

Saya sudah cukup terbiasa dengan keterbatasan saat saya menjalani hidup sebagai muslim yang tinggal di negara sekuler. Tatapan curiga karena saya berkerudung, gelisah ketika tidak yakin apakah makanan saya halal, dan kesepian karena merasa tidak menjadi bagian dari kelompok mana pun. Tapi situasi seperti ini membuat rasa tidak nyaman itu naik ke level yang jauh lebih tinggi – dan saya merasa tidak siap untuk itu.

‘Tidak.’

Jawaban saya teredam oleh kemarahan yang saya tahan. Saya merasa selusin pasang mata mengawasi ekspresi saya lekat-lekat. Kasihan? Malu? Apatis? Saya tidak yakin.

‘Baiklah,’ ia akhirnya menyerah. Air mukanya dengan jelas menyingkap bahwa saya telah mengecewakannya. Sebuah pertanyaan tak tertahankan menyelinap dalam pikiran saya, ‘Apakah ini tipuan setan?’

Suasana di ruangan itu mulai cair selagi topik pembicaraan berubah dan semua orang tampaknya lebih santai dengan segelas anggur di tangan mereka. Sementara itu, saya menyelinap keluar dan memanggil taksi untuk pulang.

Pengalaman saya malam itu membuat saya merasa rentan. Tuhan tahu betapa sulitnya menjadi seorang muslim di zaman ini. Tapi di tengah perasaan pahit yang saya alami, rasa lega mengaliri hati: saya telah tegak membela keyakinan saya.

Leave a Reply
<Modest Style