Modest Style

Merenungkan, Memutuskan dan Memperbaiki Diri

,

Resolusi adalah salah satu cara supaya kita dapat melihat diri sendiri dari dekat, tulis Amenakin.

Resolusi: kekuatannya ada di tangan Anda
Resolusi: kekuatannya ada di tangan Anda

Biarpun konsep resolusi Tahun Baru lebih berakar pada tradisi Kristen dan Yahudi, sebagai seorang Muslim, mau tidak mau saya menemukan keindahan dalam titik temu antara resolusi dan pemahaman saya sendiri mengenai refleksi diri.

Resolusi Tahun Baru dibuat seseorang di awal setiap Tahun Baru sebagai komitmen, baik untuk melakukan sesuatu yang spesifik maupun menjauhkan diri dari sesuatu—dengan tujuan memperbaiki diri. Meskipun banyak dari kita mungkin menetapkan resolusi semacam itu tanpa sengaja, kita sering menyadari kita telah memasang target untuk setahun ke depan—apakah itu berupa resolusi pribadi, rencana keluarga maupun tujuan yang bertalian dengan karier, pendidikan atau kehidupan sosial kita.

Jadi sebagai sebuah konsep, resolusi adalah ide yang baik untuk memotivasi kita, mengingatkan kita akan sejumlah prioritas, dan juga, idealnya, barangkali sebagai permohonan wujud refleksi atas tahun lalu yang telah berakhir serta keberadaan kita di Bumi yang bersifat sementara.

Jika kita mengingat kembali tahun yang telah berlalu, saya yakin banyak dari kita dapat mengenang kepergian beberapa anggota keluarga, teman, kenalan dan bahkan selebriti. Hollywood boleh saja mengklaim telah mengabadikan para aktor melalui film. Akan tetapi, seberapa pun menarik dan romantisnya konsep ini mungkin tampak di permukaan, kenyataannya, setiap orang—apakah itu fakir yang menggelandang di India atau aktor Paul Walker yang berada di dalam Porsche—akan sama-sama berakhir di liang lahat. Berhubung hanya amallah yang membedakan kita satu sama lain, mungkin sebaiknya kita lebih memusatkan perhatian pada hal ini.

Keinginan untuk melakukan perbuatan terpuji lahir dari hati yang baik dan tulus. Apabila gagasan mengenai resolusi Tahun Baru dihapus dari beberapa hari terakhir di bulan Desember serta didukung dalam skala besar sebagai sebuah cara hidup, mungkin kita sadar kita senantiasa diingatkan untuk mawas diri dan membentuk resolusi positif bagi diri kita sendiri.

Bagaimanapun juga, memperbaiki kebiasaan dan berpantang dari kegiatan yang merugikan tidaklah bermanfaat sampai kita merenungi makna mendalam dari perubahan yang dilakukan. Praktik lahiriah perlu memiliki dampak batin, dan begitu juga sebaliknya.

Dalam bukunya, Marvels of The Heart (Keajaiban Hati), teolog, filsuf dan ahli mistik besar Imam Al-Ghazali berkata:

….. Ketika dengan akal budinya seseorang melihat konsekuensi dari suatu perbuatan dan cara terbaik untuk melakukan [sesuatu], getaran di dalam inti dirinya menghadirkan hasrat untuk menempuh cara yang bermanfaat, hasrat untuk mengerahkan dirinya dalam berbagai cara demi mencapainya, dan juga kehendak untuk mewujudkan tujuan ini.[i]

Dengan kata lain, hanya ketika kita menggunakan akal budi untuk menilai diri, kebiasaan dan tindakan kita sendiri, kita akan mampu mengetahui cara terbaik untuk meraih sesuatu yang bermanfaat bagi kita. Kita akan membangun keinginan mendalam  untuk sebuah perbaikan dan oleh karenanya akan lebih mungkin berkomitmen untuk tujuan yang telah kita tetapkan bagi diri kita sendiri.

Sebagai umat manusia, kita telah dianugerahi kecerdasan dan kemampuan untuk menggunakan akal sehat kita dalam memahami konsekuensi dari perilaku kita. Kita dibekali persepsi batin, namun seberapa sering kita menggunakannya?

Kehidupan berjalan cepat—tanggung jawab dan tekanan sehari-hari dunia ini menarik kita ke dalam tarian bertempo lincah. Kita seolah berada di dalam ruang dansa nan megah, berputar-putar dengan pasangan yang menyenangkan, pandangan sekeliling kita hanya menangkap sosok-sosok yang kabur. Namun, tatapan kita terpusat pada pasangan kita: itulah dunya, atau urusan duniawi.

Walaupun kita semua manusia dan ada kalanya terpaksa berfokus pada hal-hal duniawi, akal budi kita seharusnya memperingatkan kita: menarik kita menjauh dari si pasangan dansa dan menahan bahu kita supaya kita cukup tenang untuk dapat melihat sosok-sosok buram di sekeliling kita. Inilah orang-orang di sekitar kita, mereka yang seharusnya merasakan manfaat dari “resolusi” kita yang baru ditemukan untuk memperbaiki diri. Inilah sesama manusia yang mendambakan belas kasihan, pemahaman dan cinta kasih kita.

Dan, tentu saja, jika kita tetap cukup tenang, akal budi kita mungkin akan membawa kita menghadap cermin—tempat kita dapat melihat kondisi jiwa sendiri supaya kita dapat mengoreksi diri

[i] Imam Al-Ghazali, Marvels of the Heart: Book 21 of the Ihya ulum al-Din (The Revival of the Religious Sciences), Fons Vitae, 2010,  halaman 22, bisa dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style