Modest Style

Merek-Merek Fesyen Muslim Beretika Sosial

,

Bencana pabrik tekstil The Rana Plaza di Bangladesh menegaskan akan kebutuhan praktik perdagangan yang adil dan jujur. Maryam Yusof berbagi pandangannya tentang bisnis fesyen beretika milik Muslim.

Fesyen dalam jalur yang lurus dan sempit (Gambar : SXC)
Fesyen dalam jalur yang lurus dan sempit (Gambar : SXC)

April tahun lalu, keruntuhan bangunan pabrik The Rana Plaza di Bangladesh yang membunuh 1,129 pekerja menjadi berita utama, dan mengungkap minimnya standar keamanan, kondisi kerja yang menyedikan serta upah rendah karyawan di industri pembuatan garmen.

Bangunan berlantai 8 ini melingkupi beberapa pabrik terpisah yang menyuplai ke merek-merek besar global, seperti Mango, Primark dan Walmart. Di awal tragedi, pemerintah Bangladesh dan perusahaan-perusahaan global berjanji membuat perbaikan di industri garmen melalui pengetatan standar keamanan dan menyediakan dana untuk perbaikan pabrik. Namun, permintaan yang terus-menerus terhadap pakaian murah menciptakan tekanan harga yang pada akhirnya berujung pada pegawai berupah rendah. Banyak dari mereka yang dibayar dengan upah minimum $ 37 (sekitar Rp 444.000) per bulan. [i]

Munculnya kesadaran atas situasi yang tidak adil telah membawa banyak konsumen menggeser fokus mereka pada alternatif yang lebih etis ketika mendukung praktik perdagangan adil. Menurut World Fair Trade Organization, “Perdagangan Adil adalah kemitraan dagang berdasar pada dialog, transparansi dan penghargaan yang mengusahakan kesetaraan yang lebih besar dalam perdagangan internasional.”[ii] Perusahaan perdagangan adil (fair trade) berkomitmen untuk menyediakan upah yang adil, menciptakan kondisi kerja yang aman dan sehat, dan menghasilkan produk dari bahan mentah yang berasal dari sumber-sumber yang dikelola secara kesinambungan dan memiliki paling sedikit dampak keseluruhan terhadap lingkungan.

Prinsip-prinsip ini sejalan dengan pandangan Islam tentang etika bisnis. Ketika konsumerisme modern sering berfokus pada maksimalisasi keuntungan sebagai tujuan, Islam berfokus pada maksimalisasi nilai berdasar pada prinsip kesetaraan dan keadilan. Ini berarti bahwa pemilik bisnis Muslim seharusnya menjalankan aktivitas bisnis mereka  berdasar pada permainan yang adil dan perjanjian adil bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat, dengan demikian menghindari eksploitasi si miskin dalam rantai produksi. Sebagai tambahan, Islam percaya bahwa sumber daya alam di bumi diperuntukkan  bagi kemaslahatan semua orang dan seharusnya digunakan dengan cara yang bertujuan untuk kemakmuran rakyat.[iii]

Menyadari tanggung jawab yang mereka miliki sebagai pemilik bisnis, banyak bisnis milik Muslim, termasuk merek-merek fesyen, telah menerapkan praktik perdagangan adil. Berikut adalah beberapa perusahaan yang sangat dapat dipuji dalam menerapkan praktik-praktik tersebut:

SHUKR

WP-Shukr

Diluncurkan pada 2001, SHUKR menyediakan busana santun kontemporer untuk wanita dan pria. Perusahaan ini terutama melayani umat Muslim yang tinggal di Barat. SHUKR meletakkan penekanan kuat sebagai perusahaan dagang Islam yang etis dan adil dengan membayar pekerja di atas upah pasar dan menjamin hak-hak pekerja.

Artizara

WP-Artizara

Toko online ini menjual busana santun, berkualitas tinggi dan trendi serta asesoris untuk wanita, pria dan anak-anak. Setiap produk dijamin bebas eksploitasi dan para pekerjanya dibayar dengan upah adil. Artizara secara personal memeriksa dan menyetujui para supliernya di depan untuk memastikan bahwa mereka tunduk pada setiap persyaratan perusahaan.

INAYAH

WP-Inayah

Berpusat di London, merek online ini menempatkan kepercayaan yang kuat pada kesetaraan dan keadilan. Ia memastikan bahwa para staf dibayar dengan upah hidup layak tanpa menghadapi eksploitasi. Perusahaan melakukan banyak upaya dalam menciptakan setiap koleksi eksklusif, dan dengan demikian percaya pada pemberian imbalan bagi setiap orang yang terlibat dalam rantai produksi dengan upah adil.

Haute Hijab

WP-Haute-Hijab

Haute Hijab pertama kali diluncurkan pada 2010 untuk menjual jilbab vintage sebagai hijab. Sejak itu, perusahaan ini terus merancang dan menjual hijab eksklusif. Ia membanggakan diri pada penjualan produk yang bersahabat secara sosial dan lingkungan dan melakukannya dengan mendukung supplier bahan lokal, pedagang, tukang jahit wanita, dan pabrikan; setiap pihak dibayar dengan upah yang adil.

Amirah Couture

WP-Amirah-Couture

Perusahaan ini menggambarkan dirinya sebagai “sebuah clothing line dimana kesantunan bertemu dengan fesyen modern; dengan sebuah letupan filantrofi yang hidup”. Dengan komitmennya untuk membantu sesama, perusahaan ini menaruh penekanan khusus pada pendidikan untuk anak-anak perempuan di Timur Tengah dan negara sekitarnya. Mereka juga mengorganisir kampanye amal insidental, seperti Kampanye Paket Pengungsi Suriah Musim Dingin Desember lalu. Melalui inisiatif itu, seorang anak di Suriah memperoleh pakaian musim dingin dan makanan dengan donasi sebesar 75 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 900 ribu. Sebagai tambahan, perusahaan menghasilkan produknya lewat penjahit wanita yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan, serta memberi mereka upah yang adil.


[i] Sajjad Hussein, Six months after Bangladeshi factory collapse, workers remain in peril’, CNN, 24 Oct 2013, tersedia di sini.
[ii] World Fair Trade Organization, ‘What is Fair Trade?’, 7 Nov 2009, tersedia di sini.
[iii] Mohammad Saeed, Zafar U Ahmed, Syeda-Masooda Mukhtar, ‘International Marketing Ethics from an Islamic Perspective: A Value-Maximization Approach’, Journal of Business Ethics, 06/2001; 32(2): 127, 130-138.

Leave a Reply
<Modest Style