Modest Style

Merayakan Hijab di Jalan-Jalan Kota London

,

Pada Hari Hijab Sedunia yang lalu, Amenakin mengunjungi London dan mengundang para perempuan non-Muslim dan yang tak berhijab untuk mencoba mengenakan jilbab.

0502-WP-Hijab-Day-by-Amenakin
Dengan Adriana, seorang peserta non-Muslim di WHD

1 Februari adalah Hari Hijab Sedunia (World Hijab Day, WHD). Hari tersebut merupakan gerakan sosial yang relatif baru, bertujuan untuk mendukung para perempuan pengguna hijab dengan cara mengundang perempuan non-Muslim dan yang tak berhijab untuk mengenakan hijab selama sehari. Tahun ini menandakan tahun kedua kesuksesan acara tersebut dengan bergabungnya 116 negara dalam WHD.

Nazma Khan memulai gerakan ini setelah mengalami perlakukan diskriminatif hanya karena ia memilih untuk mengenakan jilbab. Ia tidak sendiri dan pengalamannya adalah pengalaman banyak perempuan lain di seluruh dunia, terutama para saudari di negara Barat seperti Perancis. Dengan berkembangnya Islamophobia yang dipicu oleh penggambaran Muslim secara negatif oleh media-media arus utama, bentuk pernyataan keimanan dan identitas Muslimah secara terang-terangan ini dapat menjadikan perempuan pengguna hijab target berbagai bentuk serangan.

Alhamdulillah, bukannya memposisikan diri kita sebagai korban, banyak perempuan Muslim yang menemukan kekuatan dari situasi tersebut dan tergerak untuk membangun dukungan dan optimisme melalui simbol keimanan ini.

Di tahun 2014 kita telah menyaksikan lebih banyak dukungan diberikan untuk Hari Hijab Sedunia, termasuk dari seorang Mufti Ismail Menk yang menyebutkan, “Hari Hijab Sedunia bukanlah bentuk pemujaan, namun lebih sebagai cara efektif untuk menciptakan kesadaran global terhadap masalah yang sedang menerima kecaman secara tidak adil. Cara ini telah memperoleh kesuksesan. Alhamdulillah.”[i]

Saya memutuskan membuat sebuah video untuk Hari Hijab Sedunia dalam rangka mendukung dan menciptakan kesadaran terhadap gerakan ini. Pada hari Sabtu, 1 Februari 2014 saya mengundang para perempuan non-Muslim dan mereka yang tak berhijab di jalan-jalan London untuk mencoba jilbab dan meminta mereka menceritakan apa yang mereka rasakan. Saya juga meminta Muslimah berhijab menceritakan apa makna hijab bagi mereka.

Hasilnya sangat inspiratif. Banyak perempuan non-Muslim yang tidak hanya bersedia mencoba hijab, namun juga terus mengenakannya selama selama sisa hari tersebut! Tanggapan mereka juga sangat menarik: kebanyakan merasa bahwa mata, wajah, dan suara merekalah yang kini menjadi fokus dan satu di antaranya bahkan merasa “nyaman” meski tidak pernah mencoba jilbab sebelumnya. Secara kebetulan, semua perempuan tumbuh di daerah yang tidak ada wanita berhijabnya, dan sangat sedikit atau tidak pernah sama sekali berinteraksi dengan perempuan pengguna jilbab sebelum hari itu.

Jadi, dilihat dari sudut pandang yang netral, para perempuan ini menunjukkan respon yang sangat positif terhadap jilbab. Sentimen ini diamini oleh banyak perempuan non-Muslim di dunia maya.

[Not a valid template]

Seperti segala sesuatu di dunia maya, gerakan WHD juga mendapatkan kritik. Sejumlah Muslim menyatakan kekuatiran bahwa hari tersebut merupakan bentuk “bid’ah” atau “inovasi” – istilah yang banyak dipergunakan secara sembarangan belakangan ini. Komentator lain menyatakan ketidaksukaan terhadap perayaan atas sebuah tindakan personal dan spiritual.

Kedua sudut pandang di atas lebih merupakan kesimpulan yang terdengar aneh dan sepertinya dibuat berdasarkan kesalahpahaman, karena WHD dikenal sebagai gerakan sosial (dan tidak secara terang-terangan rejilius). Hari tersebut adalah saat di mana perempuan memberi dukungan terhadap pilihan yang dibuat oleh perempuan lainnya untuk menutupi tubuh, untuk berdiri berdampingan dan mewakili kebebasan memilih pakaian yang kerap mendapat serangan dalam baik lingkup sosial maupun politik.

Di sisi lain, penamaan Hari Hijab Sedunia mungkin menyebabkan kebingungan karena konsep hijab yang tidak hanya menutup rambut, namun seluruh bagian tubuh kecuali wajah, tangan, dan (menurut kebanyakan ulama) kaki, dengan bahan yang longgar dan tidak transparan. Lebih jauh, hijab juga menunjukkan perilaku seorang perempuan, tindakannya dan interaksinya dengan lawan jenis. Sekadar mengenakan jilbab dan menyebutnya “hijab” mungkin, secara teknis, tidak dapat diterima oleh beberapa pihak.

Meski begitu, setiap orang harus mempertimbangkan pro dan kontra yang ada dengan cermat. Istilah Hari Hijab Sedunia telah menunjukkan potensi “dijual” secara luas karena adanya kata “hijab”, dan ini bisa dikatakan baik karena memang kata tersebutlah yang telah ditempeli stigma oleh masyarakat.

Kebanyakan peserta, penonton, dan penyelenggara WHD yang berhati terbuka telah terinspirasi oleh kesederhanaan tindakan dan pesan yang disampaikan oleh gerakan ini. Saya mendoakan setiap tindakan yang dilakukan dengan penuh keihklasan untuk membantu dan mendukung orang lain diberkahi oleh Allah yang Maha Agung lagi Mulia!

[i] Dukungan terhadap Hari Hijab Dunia, termasuk oleh Mufti Ismail Menk, ada di sini.

Leave a Reply
<Modest Style