Modest Style

Menyikapi “Polisi Syariah” di Internet

,

Menyaring ucapan dan mempraktikkan sikap santun saat berkomentar di media sosial adalah perilaku yang perlu dijaga, tulis Fatimah Jackson-Best.

Foto: SXC
Foto: SXC

Dalam beberapa bulan terakhir, saya lumayan sering mengikuti kolom komentar di berbagai situs media sosial. Bukan sembarang kolom komentar, melainkan yang dimiliki oleh para perempuan Muslim yang menggunakan Internet untuk memperlihatkan kepada orang lain bagaimana mereka memodifikasi kerudung, merias diri, atau memamerkan gaya pribadi. Yang membuat saya penasaran adalah dialog antara Muslimah yang senantiasa terjadi di sana.

Biasanya, mereka saling mendukung— saya pernah melihat mereka melayangkan pujian terhadap satu sama lain, membeli kerudung maupun pakaian yang ditampilkan para perempuan tersebut, atau secara umum saling memberi saran. Namun saya juga memerhatikan bahwa ketika para pemilik akun media sosial ini mengunggah foto atau video yang menampilkan diri mereka mengenakan, misalnya, lipstik berwarna terang atau baju yang panjang lengannya kurang dari tiga perempat, kemungkinan besar komentator lain akan mengatakan hal tersebut “tidak islami”. Saya pun menemukan beberapa komentar yang menyatakan para perempuan ini melakukan sesuatu yang haram (tidak diperbolehkan) karena membuat hijab menjadi modis.

Saat situasi seperti ini terjadi, komentator lain akan berargumen bahwa dengan menghakimi, mereka sedang melakukan perbuatan haram… dan kemudian perdebatan pun muncul. Saya sudah melihat kata-kata “polisi halal”, “mempermalukan hijab” dan istilah sejenis lainnya dilontarkan lebih dari satu kali. Pertengkaran seperti ini berulang sesering orang mengunggah foto atau klip video YouTube. Bagi saya menarik untuk dicermati bahwa di ruang online, di mana anonimitas menyediakan ruang yang cukup untuk keberanian, beberapa perempuan malah menggunakan kesempatan ini untuk saling menegur sedemikian rupa di depan publik.

Saya percaya adakalanya berbagai komentar tersebut berasal dari hati yang tulus. Sebagai Muslim, kita diajari untuk memberikan saudara-saudara seiman kita sesuatu yang kita juga inginkan. Meski demikian, sopan santun dan rasa hormat pun adalah dua hal yang seharusnya kita inginkan untuk satu sama lain.

Di dunia nyata, saya ragu ada seseorang yang akan mendekati orang asing untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap tingkah laku, busana atau gaya kerudung mereka. Hal ini barangkali akan dianggap kasar dan sangat memalukan bagi kedua belah pihak. Tetapi kelihatannya di dunia virtual, norma-norma sosial ini lenyap dan digantikan oleh penghakiman moral.

Kita telah mencapai titik di mana melalui Internet, kita dapat melihat bagaimana para perempuan Muslim sedunia beradaptasi dan mempraktikkan keyakinan mereka terhadap Islam secara berbeda. Sebelumnya kita tidak pernah begitu terhubung satu sama lain, dan sebelumnya kita tidak pernah dapat menyaksikan betapa berbedanya kita dalam menjalani Islam. Dalam ruang online, kita mungkin lupa bahwa kelas sosial, ras, suku dan pola asuh membuat kita semua berbeda dari yang lain. Berdasarkan penilaian dari sebagian komentar yang saya baca, tampaknya sebagian orang yakin bahwa hanya ada satu cara sejati untuk menjadi Muslimah.

Berbagai komentar di ruang online juga membuat saya sedikit gelisah terhadap masa depan. Masyarakat Islam dan rasa persaudaraan seperti apakah yang akan kita bangun jika kita senantiasa saling menghakimi dalam cara yang begitu kejam? Bagaimana mungkin kita akan membangun rasa saling memahami dan mendukung pemikiran, perubahan dan pertumbuhan spiritual? Pasti ada cara yang lebih baik untuk berbicara satu sama lain tanpa melibatkan saling menghina di ruang publik dan dengan cara yang begitu memalukan.

mari kita bersikap baik satu sama lain, karena kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkan kebaikan yang sama untuk diri kita sendiri

Pepatah Sufi lawas menyarankan agar sebelum berbicara, kita harus mengawal kata-kata kita melalui tiga gerbang. Di gerbang pertama, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini benar?” Di gerbang kedua, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini perlu?” Dan di gerbang ketiga, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini baik?” Pendekatan introspektif ini khususnya berlaku di dunia online, dan kita semua bisa ikut menerapkan ketiga pertanyaan tersebut saat lain kali kita melihat sesuatu yang mungkin secara pribadi tidak kita setujui.

Berinisiatif menyaring komentar kita sebanyak tiga kali dapat memberi kita waktu untuk mengedit pesan yang ingin disampaikan. Bayangkan saja, tidak mungkin salah satu dari kita akan menyerahkan karya tulis pertama yang masih kasar untuk tugas sekolah atau kantor hingga kita yakin akan akurasinya. Hal yang sama berlaku pula saat berurusan dengan sesama manusia di dunia maya, serta di dunia nyata.

Jika kita mengingat bahwa masing-masing dari kita sedang melakukan perjalanan spiritual yang tidak diketahui orang lain, kita akan mengingat bahwa kata-kata yang kita sampaikan ke dunia akan menciptakan energi. Energi ini dapat menyakitkan; tetapi dapat pula mengubah kehidupan bila digunakan secara tepat. Jadi, mari kita memilih dengan bijaksana bagaimana kita memutuskan untuk berkontribusi kepada dunia, dan apa yang ingin kita sampaikan. Yang utama, mari kita bersikap baik satu sama lain, karena kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkan kebaikan yang sama untuk diri kita sendiri.

Leave a Reply
<Modest Style