Modest Style

Menyambut Musim Pernikahan

,

Pada umumnya, pernikahan adalah acara bahagia. Kerepotan yang terjadi – termasuk urusan daftar tamu, kemewahan kue pengantin, dan seberapa banyak anggota keluarga aneh yang mencuri waktu untuk pidato – cenderung berasal dari pasangan dan kekayaan budaya mereka. Oleh Amal Awad.

Pasangan bahagia ditakdirkan untuk selalu bersama, ujar Paman Ahmed. (Gambar: Dreamstime)
Pasangan bahagia ditakdirkan untuk selalu bersama, ujar Paman Ahmed. (Gambar: Dreamstime)

Di Australia, Maret tampaknya menjadi bulan berbahagia untuk melangsungkan pernikahan. Saya telah menerima tiga undangan untuk bulan ini saja, meski memang angka ini jauh lebih tinggi dari biasanya.

Saat tumbuh dewasa, menghadiri pernikahan besar khas Arab tentu menjadi bagian hidup saya. Sebagai remaja, saya menganggap pernikahan semacam itu menyenangkan. Semakin dewasa, saya tentu membayangkan bagaimana jadinya pernikahan saya sendiri nantinya (Insya Allah). Saya tidak bermimpi banyak – saya akan puas dengan sebuah aula berhias pita dengan bangku-bangku berlapis kain putih; dengan mezze (rangkaian hidangan pembuka) nikmat yang terdiri dari saus, sayuran iris, dan roti goreng Lebanon; tanpa makan malam mewah yang pantas untuk pernikahan besar dan acara makan prasmanan yang mengenyangkan sebagai gantinya.

Dan bagian terdalam otak saya yakin saya menginginkan Boyz II Men sebagai latar dansa pernikahan saya. Hal yang harus ditekankan di sini adalah: saya menyukai ide adanya dansa pernikahan.

Untungnya, saya telah tumbuh dewasa, dan meski saya tidak membenci pernikahan, ada beberapa hal yang menurut saya agak terlalu berlebihan. Meski saya tidak menyangkal hak orang lain untuk menghabiskan setengah malam untuk bercerita tentang pasangan yang menikah dan bukannya merayakan kebahagiaan mereka dengan melemparkan anekdot singkat dan bersulang, saya merasa pernikahan sangat mirip dengan pekerjaan manajemen – Anda mempelajari apa yang berguna dan apa yang tidak dengan cara memperhatikan.

Sebagai tamu di berbagai acara pernikahan, yang sekarang tampaknya memadukan tradisi budaya dan agama, saya melihat beberapa perbedaan yang menarik. Yang saya temui, pesta pernikahan yang hanya didasari satu budaya akan terasa terlalu penuh tradisi, sedangkan yang didasari dua budaya menjadi seperti pesta mutan – bukannya tidak menyenangkan, namun lebih terasa seperti semacam percobaan. Bisa jadi menyenangkan maupun tidak.

Dari kesemuanya, ada beberapa perbedaan jelas antara apa yang saya sebut pernikahan “Barat” dan, sebagai pembanding, pernikahan “Arab” (atau etnis minoritas lainnya).

1. Waktu

Meski ketepatan waktu merupakan sebuah konsep yang fleksibel di banyak budaya, seperti halnya bahasa, ketepatan waktu dapat dipelajari. Pada akhirnya Anda akan dapat memahami maksud tertentu dari undangan. Misalnya, saat pasangan Anglo-Australia menyebutkan acara dimulai pukul 4.30 sore, maka acara akan mulai pukul 4.30 sore. Saat pasangan Arab-Australia mengharuskan tamu berada di aula pada pukul 7 malam (sebagian besar tidak mengharapkan para tamu menghadiri upacara pernikahan), yang mereka maksud: “Datanglah ke aula pada pukul 7 malam dan nikmati mezze yang disediakan. Kami akan datang sekitar pukul 8.30. Terima kasih kembali.”

2. Hadiah

Saat pasangan Arab mendapat kartu hadiah bersama dengan undangan, mereka hanya akan menertawakannya dan membeli hadiah yang mereka inginkan. Saat hal ini terjadi kepada pasangan Anglo, Anda bisa jadi harus membeli wadah garam dan lada yang mahal jika Anda tidak segera datang untuk membelikan mereka paket handuk yang indah.

3. Upacara pernikahan

Para hadirin sekarang cenderung menggila, bahkan di kalangan Muslim (namun hanya jika pasangan yang menikah berasal dari kebudayaan yang berbeda). Umumnya, Anda tidak akan melihat pasangan Muslim memenuhi ekspektasi masyarakat barat mengenai upacara (bahkan dengan kehadiran seorang syekh). Meski begitu, saat setengah dari pasangan tersebut antara lain (a) bukan Muslim; atau (b) baru menjadi mualaf, Anda dapat menikmati sebuah upacara yang dipimpin oleh seorang perempuan yang menekankan dengan sangat kekuatan pernikahan, sambil sesekali melontarkan anekdot memalukan dan lucu tentang pasangan yang menikah.

4. Hidangan

Yang lucu dari berbagai pesta pernikahan dengan hidangan mewah yang pernah saya hadiri di aula resespsi adalah di balik mezze yang lumayan enak, menunya biasanya sama saja: dada ayam dengan semacam saus (sepertinya) dan sayur. Atau bisa jadi ada pilihan daging. Itu saja. Kebudayaan Arab memiliki hidangan yang luar biasa, namun entah mengapa, acara terbesar dalam hidup mereka diisi dengan sajian yang tidak terlalu lezat. Hal ini bisa saja berhubungan dengan jumlah tamu. Bagi pasangan Anglo, jumlah tamu yang mencapai 100 orang sudah sangat berlebihan. Amatir. Hal ini mengantarkan saya pada…

5. Jumlah tamu dan ukuran keseluruhan

Pasangan Arab akan lebih memilih aula resepsi karena mereka mengundang setiap orang dalam lingkup pergaulan global mereka, termasuk Paman Ahmed yang pernah mereka jumpai sekali pada kunjungan masa kecil ke tanah air. Begini, saya tahu kita adalah mahluk sosial, namun kami para keturunan Arab tidak menganggap sepele pesta penikahan. Pesta pernikahan pasangan Arab serupa serbuan terhadap keseluruhan indera: segalanya berukuran besar. Musik diputar dengan kencang. Gendang ditabuh berkali-kali. Orang-orang berjoget seakan sedang demam. Pesta pernikahan pasangan Anglo menjadi riuh hanya jika para tamu minum-minum (dan mereka selalu minum). Namun pesta pernikahan pasangan Anglo yang terakhir saya hadiri memenuhi sebuah ruangan seukuran ruang tamu kecil. Hal ini membuat saya tergelak. Ruangan tersebut tidak akan bertahan jika digunakan untuk pernikahan Arab.

6. Kue

Anda mungkin berpikir kue hanya sekadar kue. Namun hal tersebut tidak menghentikan pasangan Arab untuk memotong dengan sebuah pedang. Selanjutnya mereka meminum jus jeruk untuk kemudian berpindah ke lantai dansa untuk berdansa dengan latar lagu Celine Dion tentang cinta yang hilang sementara tubuh mereka ditutupi oleh asap dari es kering – atau hiasan berkilau yang ditembakkan secara berbahaya ke arah mereka dari langit-langit. Sedangkan, pasangan Anglo yang lebih pemalu akan menghadirkan menara makaron atau kue mewah seharga $3.000 (Rp 34 juta). Untuk adilnya, saya juga harus bercerita bahwa saya pernah melihat pasangan Arab yang memilih kue lebih sederhana yang dipotong menggunakan pisau dapur cantik berhias pita.

7. Bersenang-senang

Kesamaan dari setiap pernikahan ini, tentu saja, kesemuanya bertujuan untuk menyenangkan hati. Mulai pidato memalukan sampai joget menggila, semuanya menghasilkan efek yang diinginkan tergantung dari orang-orang yang hadir. Saya tidak mau menghadiri pesta pernikahan Arab yang tidak dihadiri oleh paling tidak satu hijabi yang kehilangan kerudungnya karena terlalu sibuk berpesta. Dan sejujurnya, pesta pernikahan Barat yang lebih senyap merupakan pelarian manis dari kehidupan sehari-hari. Pesta tersebut merupakan sebuah pengingat pada hal-hal cantik – buntalan bunga di dalam toples, efek alkohol pada pendamping lelaki yang masih bujangan, dan fokus pada sajian yang indah.

8. Orisinalitas

Yang mana pun yang jadi pilihan Anda, pesta pernikahan yang paling menarik dan paling menyenangkan adalah yang tidak sekadar mencontoh pesta-pesta yang pernah ada. Pesta-pesta ini mencerminkan kepribadian dan keunikan pasangan, sekaligus menghormati kebudayaan kedua keluarga yang terlibat.

Dan ingatlah, Boyz II Men akan selalu cocok menjadi latar dansa pengantin, jika Anda memang menginginkan acara dansa. Namun, sepertinya lebih baik lupakan saja es kering, mungkin? Rasanya agak terlalu 1997.

Leave a Reply
<Modest Style