Modest Style

Menulis Surat untuk Mengatasi Kegalauan

,

Bila suatu saat Anda dilanda emosi yang menyesakkan, lampiaskanlah melalui pena dan kertas. Semua ini bagian dari proses mengikhlaskan, tulis Amal Awad.

Gambar : SXC
Gambar : SXC

Baru-baru ini, saat mengobrol dengan seorang teman pria saya, topik yang sama kembali muncul. Yakni, ia memiliki unek-unek tentang ibunya – nyaris bukan keluhan yang aneh. Dia menyadari masalah yang telah lama ada ini dengan ibunya, yang ia gambarkan sebagai “wanita yang baik”. Tapi ada kesedihan terpendam di dalam dirinya, dan alasannya tidak jelas – selain bahwa sang ibu agak “tukang mengatur”.

Saya menyarankan dia menulis surat kepada ibunya, tapi tanpa niat untuk mengirimkannya. Hal ini akan memungkinkan dia untuk menulis tanpa hambatan dan tanpa takut timbul konflik. Dia tampak ragu-ragu, tapi sebagai seseorang yang menemukan katarsis lewat menulis, saya meyakinkan dia bahwa hal itu patut dicoba.

Patut dipuji, ia segera melakukannya – walaupun hanya di atas kertas serbet – yang menggiring ke percakapan tentang masalah ini. Lambat laun, selagi ia membongkar sejarah pribadinya, kebenaran pun terungkap. Dan inilah dia: masalah sebenarnya ternyata bukanlah ibunya. Memang betul ibunya “tukang mengatur” dan sering kali menyulitkan, terlalu khawatir, dan sebagainya. Tapi sumber kegalauannya adalah citra negatif tentang dirinya sendiri pada tahap hidup tertentu, yang ia kaitkan dengan ibunya.

Seperti masa tenang setelah badai, itu adalah momen pencerahan yang memberinya rasa lega dan pemahaman.

Menulis adalah katarsis. Begitu pula berbagai hal lain yang memungkinkan kita untuk menjadi kreatif, memisahkan diri dari dunia, dan mengosongkan semuanya. Tapi tidak ada yang semujarab cara lama – menulis di kertas yang sebenarnya, mendengar suara goresan pena Anda saat Anda mencoret-coret dengan penuh semangat.

Bagi saya, kegiatan ini sangat saya sarankan. Sering sekali, tanpa kita sadari, kita membawa banyak bagasi emosi, dan ini sungguh tidak sehat. Pengalaman masa lalu kita, yang terbungkus rapi sebagai kegalauan yang kita tidak bisa jelaskan, adalah perasaan yang membebani diri kita seperti batu. Kita dibentuk oleh emosi-emosi ini, yang terjebak di dalam diri kita dan menginformasikan tindakan kita, bukannya mengenali perasaan ini dan membiarkan mereka pergi.

Berpegang pada hal-hal yang jelek dapat mewujud dalam permainan mencari kambing hitam. Kita akhirnya mengatakan, “Alasan saya tidak bisa melakukan A karena B terjadi dan sekarang saya rusak dan tidak berfungsi secara normal sebagai orang dewasa”.

Hal ini dapat menimbulkan kemarahan terhadap orang lain, atau distorsi dari sejarah pribadi Anda. Dan ini bahkan bisa berarti kita benar-benar meluputkan sumber sejati dari rasa frustrasi kita, yang tidak hanya membatasi tetapi juga merusak hubungan dan persepsi diri kita.

Ada banyak cara kita dapat mengatasi luka yang telah lama terpendam semacam ini, tapi saya sepakat dengan para ahli pemberdayaan diri yang menganjurkan untuk menulis surat kepada orang atau situasi yang membuat Anda sedih.

Jika Anda patah hati, menuliskan perasaan dengan jujur ​​dan tanpa sensor tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga informatif. Kemungkinan besar Anda akan mengalami pencerahan yang mendalam tentang orang yang Anda surati – sifat hubungan atau keadaan, dan yang paling penting, apa yang diajarkan pengalaman itu kepada Anda. Selain itu, memendam perasaan Anda sebetulnya tidak bermanfaat dalam memperbaiki hati Anda yang patah.

Anda bisa curhat lewat surat kepada guru kelas 1 SD yang mengatakan bahwa Anda tidak akan pernah berhasil sebagai (masukkan karier impian Anda di sini), sebuah pengalaman yang mungkin telah menanamkan keyakinan yang membatasi tentang diri Anda.

Dan tentu saja, seperti teman saya, Anda mungkin memiliki anggota keluarga atau teman yang membuat Anda merasa tak nyaman akibat perselisihan, tapi Anda kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka. Mungkin konflik ini berupa asumsi berulang-ulang yang diarahkan kepada Anda, atau kata-kata menyakitkan yang diucapkan tanpa berpikir. Alasannya bisa besar atau kecil, selama alasan itu penting untuk Anda.

Idenya, tentu saja, adalah untuk menulis surat kemudian membuangnya. Bakarlah. Cabik-cabiklah. Lakukan apa saja selain mengirimkan atau menyimpannya, karena – setidaknya pada tingkat simbolik – itu berarti Anda belum benar-benar mengikhlaskannya.

Ini satu-satunya cara untuk menulis dengan jujur ​​dan tanpa mencemaskan hasilnya. Memang kadang-kadang sulit bersikap jujur ​​dengan diri sendiri, untuk bersikap terang-terangan dan membuka diri terhadap apa yang sesungguhnya Anda rasakan, untuk menerima dan merasa nyaman dengan kerentanan Anda sendiri. Tapi pada akhirnya hal itu akan bermanfaat dan dapat membantu Anda membuka pola-pola yang menyebabkan Anda terluka dan kesulitan.

Beberapa orang merasa malu melakukan hal semacam ini, tapi keindahan dalam menulis surat yang akan Anda hancurkan pada akhirnya adalah tak seorang pun akan melihatnya. Bahkan, jadilah orang lain untuk sesaat – mundurlah dan perlakukanlah hidup Anda seolah-olah itu film yang sedang Anda tonton. Saksikanlah bagaimana cerita itu terungkap, tanpa menghakimi, hanya dengan welas asih.

Kisah apa yang Anda ceritakan? Pola apa yang terungkap? Perhatikanlah titik-titik yang Anda hubungkan dan pencerahan yang muncul. Ini akan membantu Anda memahami perasaan dan kegalauan Anda sendiri dengan cara baru.

Yang paling penting, Anda akan dapat melepaskan diri dari perasaan tersebut dan bergerak maju, tanpa takut bahwa Anda tidak memiliki kendali atas hidup Anda dan orang-orang di dalamnya.

Leave a Reply
<Modest Style