Modest Style

Menuju Citra Tubuh Sehat dan Bahagia

,

Kita semua ingin terlihat menarik, tetapi adalah sama pentingnya untuk merasa bahagia dalam benak dan jiwa kita, tulis Meaghan Seymour.

Foto: Dreamstime
Foto: Dreamstime

Saya menganggap diri saya tidak memiliki masalah kepercayaan diri apa pun berkenaan dengan citra tubuh. Akan tetapi, hasrat untuk secara defensif membantah penggambaran perempuan yang saya lihat di iklan-iklan atau adegan film memberi tahu saya bahwa kita senantiasa dibombardir dengan sosok perempuan sempurna benar-benar mengusik saya. Sulit bagi sebagian besar perempuan untuk lepas dari kondisi ini.

Di usia awal 20-an, saya menghabiskan beberapa tahun untuk bekerja sebagai pelatih kebugaran. Aspek tersulit dari profesi ini (selain mendapatkan energi untuk merancang koreografi demi sesi aerobik pukul 6.30 pagi) adalah membantu banyak perempuan yang sedang bergumul dengan gagasan mengenai penampilan seperti apa yang mereka pikir seharusnya ideal untuk mereka. Saya sedih menyaksikan  para perempuan cantik, cerdas dan berprestasi memendam obsesi untuk “kurus”, mengacungkan guntingan majalah yang memuat model-model kebugaran sebagai motivasi mereka.

Banyak Muslim menegaskan pentingnya kecantikan batin dan mungkin dengan cepat mengklaim bahwa kerudung dan model pakaian tertutup melindungi serta membebaskan kita dari timbulnya citra tubuh yang tidak sehat. Namun, para Muslimah pun sudah tidak asing lagi dengan tekanan untuk terlihat cantik.

Melihat sekilas tulisan-tulisan di beberapa situs web khusus Muslim, dengan judul seperti “Kenapa setiap perempuan Muslim seharusnya mempunyai sepasang jeans ketat”, atau “Melangsingkan paha dalam 30 hari”, menjadi bukti bahwa masyarakat Muslim juga mengekalkan perilaku rendah diri dan memperkuat gagasan bahwa ada satu penampilan khusus yang dianggap ideal. Meski kita menyatakan bahwa budaya-tandingan berupa feysen muslim bertujuan membebaskan kita dari persepsi media global akan kecantikan, sebagian pihak merasa bahwa kita justru menjadi bagian dari budaya yang kita lawan, bukannya memeranginya.

Saya tidak akan membahas begitu banyak alasan populer tentang mengapa sebaiknya kita makan secara sehat dan cukup bergerak, maupun manfaat kesehatan jangka panjang yang — untuk waktu yang tak terbatas — mampu bertahan lebih lama daripada penampilan fisik. Saya sungguh memaklumi gagasan bahwa kesehatan, kekuatan dan kesejahteraan secara keseluruhan mesti menjadi tujuan utama saat memulai pola makan sehat atau kebiasaan berolahraga, yang akan bermanfaat tidak hanya pada raga tetapi juga kondisi pikiran kita.

Seperti mayoritas perempuan, saya bosan diingatkan dengan berbagai cara bahwa saya ternyata gagal mengikuti standar kecantikan yang telah dikonstruksikan. Namun, saya lebih ngeri terhadap dampak buruk akibat standar ini terhadap kesejahteraan spiritual seseorang — terutama ketika hal itu disampaikan melalui sumber yang “islami”.

Saya terlalu sering mendengarnya diulang dalam khotbah atau tulisan di rubrik saran berkaitan dengan tanggung jawab pernikahan: laki-laki (atau suami) adalah “makhluk visual” dan oleh karena itu kita diwajibkan untuk berusaha merawat diri demi memuaskan kebutuhan visual mereka melalui penampilan kita. Tetapi, saya bertanya-tanya tentang akibat dari menyetujui klaim ini — apakah kita hanya meneguhkan keyakinan bahwa laki-laki berhak atas istri yang tampak seperti perempuan-perempuan yang mereka lihat di layar televisi dan majalah?

Komunitas Muslim tidak kebal terhadap masalah pernikahan yang disebabkan oleh pasangan yang beralih ke pornografi, perselingkuhan atau solusi lain dengan alasan penampilan pendamping mereka “tidak memenuhi syarat”. [i] Bagaimana mungkin kita mulai menghadapi isu seperti ini yang berpotensi menyebabkan lebih banyak penderitaan pada mereka yang keyakinan dirinya sudah terkoyak?

Salah satu artikel yang saya sebut di atas mengindikasikan perempuan Muslim (khususnya istri) mengemban tanggung jawab untuk bersaing dengan perempuan non-Muslim berbusana menggoda yang mereka lihat di jalan, dengan memeragakan skinny jeans ketat bagi suami-suami mereka di rumah. Persaingan duniawi dan impian akan kecantikan yang didefinisikan secara sempit semacam ini sepertinya tidak mencerminkan martabat yang menurut kita diberikan Islam pada perempuan.

Nabi kita (saw) diriwiyatkan mencintai keindahan dalam semua hal, termasuk dikenal menghargai kecantikan perempuan.[ii] Akan tetapi, saya senang berasumsi bahwa perempuan di zamannya, yang berhasil mempercantik diri secukupnya tanpa peralatan olahraga mewah, seabrek produk kecantikan atau suplemen diet, dan tanpa kekangan standar yang tidak realistis, adalah mereka yang disukai karena kecantikan alami mereka.

Layak pula dicatat bahwa menurut riwayat, perempuan pada zaman nabi pun disarankan untuk menjauhkan diri dari mengubah penampilan alami mereka secara drastis [iii]  – tidak seperti yang banyak terjadi saat ini.

Dan jangan lupa bahwa Nabi Muhammad SAW diriwayatkan berkata bahwa karakter religius lebih diutamakan daripada wajah yang menarik, terutama jika berhubungan dengan memilih pasangan hidup.[iv]

Biarpun penting memiliki tujuan untuk mempertahankan persentase lemak tubuh ideal demi kesehatan yang secara keseluruhan baik, penampilan kita seharusnya tidak menjadi satu-satunya motivasi. Tidak ada untungnya juga meyakinkan diri pada prasangka bahwa kesempurnaan lebih penting dari kesehatan.

Saya tidak mengatakan keinginan untuk terlihat menarik itu buruk. Yang saya maksud adalah lebih penting kita berusaha, dengan kemampuan terbaik masing-masing, untuk merasa bahagia dengan tubuh kita. Tidak masalah — dan seharusnya tidak perlu menjadi masalah — apakah keindahan bentuk, ukuran, lekuk dan proporsi tubuh individual kita akan terwakili di media.


[i] ‘I prefer porn to my wife’, OnIslam, 28 Nov 2013, bisa dibaca di sini
[ii] Diriwayatkan Anas bin Malik, dalam Hadits Bukhari, bisa dibaca di sini
[iii] Diriwayatkan Abdullah, dalam Hadits Bukhari, bisa dibaca di sini
[iv] Diriwayatkan Abu Huraira, dalam Hadits Bukhari, bisa dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style