Menjalani Perdebatan tentang Hijab

,

Menyoroti perdebatan-perdebatan terkini perihal hijab, Afia R Fitriati mengenang perjalanannya berhijab.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

Saya mulai mengenakan hijab di tahun terakhir sekolah lanjutan atas. Sebelum semester pertama tahun itu dimulai, sekolah saya mewajibkan setiap siswa muslim untuk berpartisipasi dalam kegiatan pesantren kilat. Mentor bagi kelompok putri adalah seorang kakak yang tegas, yang membuat saya langsung merasa pasti masuk neraka karena tak menutupi tubuh saya dari kepala hingga kaki dan karena saya selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan kritis yang kadang membuat orangtua saya kesal.

Tapi bukan itu yang membuat saya memutuskan berhijab.

Mungkin sudah menjadi watak saya untuk memahami sebuah nasihat terlebih dahulu sebelum mengindahkannya. Nasihat mentor tersebut tidak masuk akal menurut saya karena tak seorang pun nenek buyut saya, termasuk mendiang nenek yang mengepalai sebuah pesantren di daerah terpencil di Jawa, mengenakan hijab yang menjulur hingga pinggang – yang dirujuk oleh sang mentor sebagai satu-satunya definisi hijab. Penutup kepala yang dikenakan nenek saya hanyalah sehelai kerudung tipis agak menerawang, yang longgar tersemat di kepalanya sehingga menyebabkan sebagian rambut dan lehernya terbuka. Jadi, apakah mentor tersebut mengatakan bahwa nenek saya tercinta akan masuk neraka?

Tahun akhir dimulai dan saya pergi ke sekolah seperti biasa – dan menemui bahwa salah satu teman baik saya mulai mengenakan kerudung ke sekolah. Karena ia seorang atlet (dan di masa itu gaya berkerudung masih sangat terbatas), saya penasaran dengan keputusannya.

Saya mulai mempelajari lebih jauh tentang konsep berhijab, dan tiba-tiba saya merasa bahwa rasanya tepat bagi saya untuk memakainya sebagai sebuah ikhtiar untuk meraih ridha Tuhan. Ini sebuah keputusan yang sangat pribadi bagi saya; hal yang tak dipengaruhi oleh opini siapa pun kecuali opini saya sendiri. Bahkan, orangtua saya pun cukup terkejut dengan keputusan yang saya buat karena saya menjadi orang pertama di keluarga besar ayah-ibu yang memutuskan untuk menutup rapat aurat.

Namun keputusan saya sudah bulat, sehingga ibu mengantarkan saya ke toko untuk berbelanja pakaian seragam sekolah yang sesuai kaidah berhijab. Sungguh sulit menemukan apa yang saya butuhkan saat itu. Ibu bahkan harus memakai jasa tukang jahit untuk membuatkan saya baju-baju berlengan panjang. Bahkan setelahnya pun, ayah seringkali mengolok-olok baju saya yang menurutnya kuno dan ketinggalan zaman.

Di sisi lain, saya merasa sangat bersemangat dengan pengalaman baru saya berhijab. Saya tak lagi harus peduli bagaimana saya menyilangkan kaki. Penampilan baru ini agaknya membuat saya lebih disegani di antara anak laki-laki. Pada saat yang sama, saya beranjak memahami bahwa bersama dengan berubahnya penampilan, maka hadir pula ekspektasi dan batasan-batasan baru. Para pengguna hijab seringkali disalahartikan sebagai ‘orang suci’, dan tak lagi bisa berpatisipasi dalam kelas berenang (belum ada baju renang muslimah di tahun-tahun itu).

Namun ekspektasi tentang orang berhijab ternyata memiliki makna baru saat saya melanjutkan studi di Amerika Serikat. Meski saya datang sebelum peristiwa 9/11, saya masih mengalami perilaku diskriminatif yang ditunjukkan sebagian orang kepada perempuan berhijab. Sementara di kampung halaman, semakin banyak teman dan saudara perempuan yang memutuskan berhijab seperti saya, dan penjual busana muslimah semakin menjamur dan mudah ditemukan. Gelombang tren fesyen hijab baru saja dimulai.

Seiring tahun-tahun yang berganti, saya terus mengalami beragam pergulatan yang sedikit banyak terkait dengan keputusan saya untuk berhijab: tantangan menemukan tempat bekerja di mana perempuan berhijab diterima dengan baik, tekanan-tekanan sosial dan perasaan merasa menjadi yang paling aneh. Saya telah melalui periode-periode berbeda ketika di tayangan televisi Indonesia tidak ada perempuan berhijab. Kini, pembawa berita dan bintang iklan yang berhijab adalah fenomena biasa (ya, ternyata saya sudah tua). Mungkin semua pengalaman itu yang membuat saya mampu mengapresiasi dan berempati dengan begitu banyak kompleksitas dan perdebatan di seputar hijab hari ini.

Saya hanya berharap bahwa satu hari nanti orang-orang akan berhenti berasumsi dan memperlakukan hijab sebagai sebuah hal yang sarat-polemik. Saya tak butuh kontes-kecantikan untuk membela pilihan saya mengenakan hijab atau membedakan saya dari mereka yang tak berhijab. Saya tidak suka orang-orang berpandangan negatif terhadap sesama muslimah yang memilih tak lagi berhijab sebagaimana saya juga tidak akan suka orang-orang mempertanyakan pilihan saya untuk mengenakannya.

Perdebatan seputar hijab seharusnya hanya ada antara saya dengan Tuhan saja; bukannya sebuah perdebatan politik, atau pun perdebatan fesyen di mana panjangnya keliman seolah lebih penting dibanding isu-isu kemanusiaan. Jika biarawati Katolik dan pendeta Buddha bisa berjalan dengan tenang dalam pilihan busananya, mengapa perempuan muslimah – baik mereka berhijab atau tidak – tak bisa melakukan hal yang sama?

Menurut saya kampanye iklan yang baru-baru ini dikeluarkan rumah sakit Ontario menyimpulkan harapan saya bagaimana umat muslim dan non-muslim seharusnya memandang tentang hijab: ‘Kami tak peduli apa yang ada di atas kepala Anda. Kami hanya peduli apa yang ada di dalamnya.’[i]

Karena bagaimanapun, begitulah Tuhan memandang kita semua.


[i] Carmen Chai, ‘”We don’t care what’s on your head”: rumah sakit Ontario merekrut para pekerja-kesehatan Quebec’, Global News, tersedia di sini.

Leave a Reply
Aquila Klasik