Modest Style

Menikmati jazz di tengah keindahan Bromo

,

Panorama pegunungan, udara yang menggigit dan indahnya musik dapat membuat nafas terhenti. Diceritakan oleh Cahya Meythasari.

[Not a valid template]

Saya sangat mencintai musik baik itu dangdut, jazz, pop, rock, soul, dan lain sebagainya. Saking cintanya pada musik, sering kali saya mencoba menikmati musik yang dibumbui dengan pengalaman baru.Seperti ketika saya menikmati acara pagelaran musik Jazz Gunung, sebuah perhelatan musik jazz di atas gunung berketinggian 2000 meter di permukaan laut tahun lalu.

Jazz Gunung adalah pagelaran musik bertaraf internasional yang berlangsung selama 2 hari dan dimeriahkan oleh musisi jazz dan diselenggarakan rutin setiap tahun di daerah pegunungan. Di ajang ini, pengunjung bisa menikmati musik di panggung terbuka beratap langit dan berlatar alam yang indah. Bisa dibayangkan betapa romantisnya suasana yang tersaji yang dihasilkan dari harmonisasi musik, alam dan manusia.

Dimulai pada tahun 2009, Jazz Gunung digagas oleh tiga orang pemerhati musik: Sigit Pramono, seorang bankir dan fotografer; Butet Kartaredjasa, budayawan, dan Djaduk Ferianto, seniman penggubah musik dengan ciri musik tradisional Indonesia yang sangat kental. Mereka melihat bahwa alunan jazz menjadi sangat sempurna dinikmati dengan latar belakang keindahan pegunungan seperti Bromo, Tengger dan Semeru, dan diharapkan agar musik jazz dapat menjadi gerbang kebebasan jiwa penikmatnya, khususnya warga nusantara.

Seorang teman memberitahu saya tentang acara ini sebulan sebelum berlangsung. Saat itu pula saya dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk berpartisipasi dengan membeli tiket acara untuk dua hari. Sekaligus, kami juga memesan tiket kereta kelas ekonomi “Matarmaja” jurusan Pasar Senen – Malang. Jazz Gunung here we come!

Hari yang dinantikan pun tiba.Sepulang kantor, saya dan kedua teman saya langsung bergegas ke Stasiun Pasar Senen, stasiun yang dicintai para backpackers. Perjalanan menuju Malang kami tempuh selama 21 jam dengan kereta ekonomi, yang tempat duduknya keras tanpa busa sedikitpun, ditemani mie siap seduh sepanjang perjalanan dan beberapa bekal makanan ringan yang kami bawa dari rumah. Tetapi kami sungguh menikmati perjalanan ini – ada sensasi petualangan unik yang selalu dialami para backpakers.

Jam menunjukkan jam sembilan pagi ketika kami tiba di Stasiun Malang dengan hati riang. Dari sana kami menuju Probolinggo untuk bertemu dua teman lainnya dan melanjutkan perjalanan ke Bromo. Di perjalanan untuk menyewa mobil, kami bertemu dengan satu orang lagi yang juga sedang menuju ke acara tersebut. Semakin banyak penumpang, semakin cepat dan murahlah perjalanan kami. Maka, jadilah kami berenam menuju Jazz Gunung di Bromo.

Udara dingin mulai terasa menusuk kulit, tandanya kami sudah hampir tiba di tujuan. Setelah melakukan registrasi acara, kami ditunjukkan jalan menuju tempat kami menginap. Malam ini, kami tidur di tenda. Kantong tidur (sleeping bag) menjadi penghangat kami dalam udara dingin menggigit. Setelah makan di warteg terdekat, kami beristirahat utnuk menyambut acara besok paginya.

Jazz Gunung dimeriahkan oleh artis papan atas dan kelompok musik etnis dari beberapa daerah Jawa yaitu Ring of Fire (sebuah grup musik yang terdiri dari tiga maestro: Djaduk Ferianto, Dewa Budjana dan Slamet Gundono), Tompi dan Glenn Fredly, Benny dan Barry Likumahuwa Jazz Connection, Iga Mawarni, Kelompok Perkusi Damarwangi Banyuwangi (Damarwangi Banyuwangi Percussion Group), Gondo Jazz Trio, MuciCHOIR dari Yogyakarta Jazz Community dan Grup Seni Kabupaten Probolinggo (Probolinggo Grup Art).

Selain itu, karena bertempat di Jawa Timur, acara tidak lengkap rasanya tanpa penampilan Reog Ponorogo yang luar biasa memukau.

Penampilan Iga Mawarni mengejutkan ketika ia muncul di tengah-tengah kerumunan audiens sambil menyanyikan “Here, There and Everywhere” dari The Beatles. Dia juga mengekspresikan kesan terhadap cuaca yang sangat dingin dengan menunjukkan tiga lapis baju yang dikenakannya saat itu. Interaksi dengan penonton juga sangat terasa ketika dia melanjutkan penampilannya dengan menyanyikan lagu dari Richard Marx, “Right Here Waiting” dari era 80-an.

Iga juga menyanyikan lagu anak-anak “Ambilkan Bulan” pada hari pertama dan “Naik Naik Ke Puncak Gunung” di hari kedua. Dengan membawakan lagu-lagu ini, ia ingin menunjukkan bahwa setiap jenis lagu, termasuk lagu anak-anak, dapat dipadukan dengan jazz.

Cuaca Bromo yang dingin semakin dihangatkan oleh penampilan ayah-anak Benny dan Barry Likumahuwa yang memiliki semangat jazz yang kuat dan selalu siap menyuguhkan permainan musik spontan di atas panggung sebagai ciri khas penampilan live mereka.

Karena acara ini kental dengan warna musik etnis nusantara, bisa dibayangkan betapa menariknya ketika Glenn Fredly, seorang musisi berdarah dari Ambon, dan Tompi yang berdarah Acehberkolaborasi membawakan musik bersama dalam satu panggung.

Dengan band yang terdiri dari Damez Nababan dan Nicky Manuputty (saksofon), Jordy Waelauruw (terompet), Indra (gitar), Ilyas M (bass), Yandi (drum) dan Deqi (piano),mereka menunjukkan membiarkan keterampilan mereka di atas panggung dengan kesan komunikatif yang muncul melalui kolaborasi mereka. Meskipun sebenarnya duo ini ingin tampil sebagai Trio Lestari bersama dengan Sandhy Sondoro, mereka mengatur konsep yang berbeda dan bekerja sama sebagai duo karena Sandhy sedang berada di Jerman.

Intro dari “Cukup Sudah” bergema dan Glenn mengeluarkan suara penuh jiwa yang menawan dan memanjakan telinga semua yang hadir. Dengan irama ceria, mereka melanjutkan pertunjukan dengan lagu berirama slow “Tak Pernah Setengah Hati” yang diaransemen dalam bentuk medley.

Sebagai penutup, Tompi dan Glenn menyanyikan Garuda Pancasila dalam irama jazz improvisasi. Mereka juga meminta penonton untuk mengucapkan sila-sila Pancasiladengan cara yang jazzy. Menarik!

Menikmati jazz yang dibawakan oleh musisi dan seniman ternama selama dua hari di alam yang sangat indah membuat saya ketagihan. Tahun ini Jazz Gunung akan diadakan kembali pada pertengahan Juni 2014. Saya sarankan Anda mencoba merasakan indahnya sensasi menikmati jazz dari atas gunung.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai acara ini, sila kunjungi situs Jazz Gunung.

Leave a Reply
<Modest Style