Modest Style

ISIS membuat umat Muslim tinggalkan Islam

,

Kelompok ekstrimis yang membunuhi baik Muslim maupun non-Muslim ini juga menggiring ratusan mukmin lain meninggalkan agama. oleh Omar Shahid.

Screenshot-01
Potongan gambar dari video dokumenter VICE News “The Islamic State” oleh wartawan Medyan Dairieh. (Gambar: VICE/YouTube)

Salah satu tanda akhir zaman, menurut Islam adalah pembalikan kenyataan – dengan kata lain, berbagai hal jadi jungkir balik. Bagi umat Muslim, tidak ada yang lebih jelas menggambarkan hal ini daripada Islam yang ditampilkan buruk pada dunia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keimanan kita, sebuah cabang ekstrimis membajak agama ini dan mendominasi kepala berita, menyebabkan kekacauan dan menciptakan krisis global.

Hilanglah sudah hari-hari saat kaum ektrimis hanya ada segelintir; kita tidak lagi dapat mengabaikan mereka. Mereka bermunculan di seluruh penjuru dunia: Nigeria, Pakistan, Somalia, Suriah, dan Irak. Mereka juga tumbuh dengan pesat, kian terorganisasi dan didanai dengan lebih baik. Mereka memberikan ancaman nyata yang berbahaya tidak hanya pada non-Muslim dengan intoleransi keagamaan mereka, namun juga pada umat Muslim. Bahwa mereka membunuh umat Muslim itu jelas. Namun lebih daripada itu, dengan menjelekkan citra Islam dan membuat agama ini tampak dekat dengan kekerasan, terbelakang, dan sama sekali tidak sejalan dengan dunia modern, mereka membuat umat Muslim jadi meninggalkan agama ini.

[Not a valid template]

ISIS, juga dikenal sebagai Negara Islam (atau mungkin lebih tepatnya, Negara Tidak Islami), merupakan perwujudan terbaru dan yang paling merusak dari tren ini. Mereka pantas disebut ancaman global yang tidak tertandingi oleh kelompok ekstrimis manapun dalam sejarah Islam. Selama berbulan-bulan dunia telah menyaksikan kebiadaban dan rasa haus darah mereka; liputan kegilaan pemenggalan dan pembunuhan mereka, yang dilakukan sambil bergurau dan menertawakan korban-korban mereka selanjutnya, tidak pernah terjadi sebelumnya.

Umat Muslim seringkali menyangka bahwa musuh terbesar mereka berasal dari luar agama ini. Pada kenyataannya, musuh terbesar umumnya berasal dari dalam. Musuh nomor satu Islam hari ini bukanlah pemerintah AS, bukan pulan Israel; namun mewujud dalam bentuk ISIS. Kelompok ekstrimis ini merupakan alasan mengapa jutaan orang akan memiliki persepsi buruk tentang Islam, mengapa banyak orang yang terlahir ke dalam Islam tidak akan pernah menerima keyakinan ini, dan mengapa banyak umat Muslim akan menanggalkan keimanan mereka, mungkin bahkan berbondong-bondong menjadi ateis.

Syekh Hamza Yusuf, seorang cendekiawan Muslim Amerika, menuliskan di Q-News pasca 9/11:

Sayangnya, pihak Barat tidak mengetahui apa yang diketahui setiap ulama Muslim; bahwa musuh terburuk Islam berasal dari dalam. Yang terburuk di antara para musuh ini adalah kaum khawaarij yang memperdaya orang lain dengan cara menodai secara mendalam penampilan keagamaan yang mereka representasikan… Penampilan keagamaan dan sifat luar kaum khawaarij memperdaya ribuan orang di masa lalu, dan terus memperdaya banyak orang di masa kini. Umat Muslim harus mewaspadai bahwa terlepas dari ketaatan kaum khawaarij pada aspek-aspek Islam tertentu, mereka adalah kaum ekstrimis yang paling buruk.

Ekstrimis Muslim – para preman ISIS contoh terjelasnya – berpikir bahwa mereka melakukan syiar Islam, padahal yang sebenarnya mereka lakukan hanyalah kebalikannya. Cara mereka menyebarkan iklim rasa takut, bersama dengan industri Islamofobia bernilai jutaan poundsterling berjaya di bawah lindungan awannya, membuat banyak non-Muslim membenci Islam dan menyebabkan sejumlah umat Muslim meninggalkan agama. Ekstrimisme, bersama dengan berbagai tantangan modernitas, merupakan salah satu faktor terbesar yang menyebabkan kemurtadan.

Sayeed, seorang Muslim berusia pertengahan 20an dari London, kehilangan keimanan saat berkuliah. Ia menceritakan pada saya hal yang menghalanginya merengkuh Islam kembali. “Kerusakan yang dilakukan para ekstrimis pada agama ini,” ujarnya. “Sulit rasanya menjadi bagian dari agama dengan pemberitaan yang sangat buruk.”

Di hadapan kepala berita yang begitu negatif, semakin sulit menjadi bagian dari komunitas Muslim. Rasulullah SAW memperingatkan kesulitan masa-masa ini, dan diriwayatkan berkata bahwa berpegang pada agamamu akan terasa bagaikan memegang “bara yang menyala”.[i] Meski banyak umat Muslim yang terus memegang erat batu bara tersebut, beberapa lainnya melemparnya karena panas atau menjatuhkannya saat merasa kelelahan. Sementara sebagian yang lain membiarkannya berjatuhan dari sela jari-jari mereka, tidak mampu menggenggamnya dengan cukup erat.

Seorang agnostik yang tinggal di Indonesia baru-baru ini bertanya pada saya: “Mengapa Anda memilih menjadi bagian dari agama yang kebanyakan pengikutnya menjalankan versi gila agama tersebut dan melakukan hal-hal ekstrim?” Ini merupakan pertanyaan yang membebani banyak umatt Muslim di seluruh dunia. Beberapa menanggapi dengan meninggalkan agama tersebut – mereka kapok.

Pada Juni akhir, seorang yang mengaku sebagai wanita Arab ateis dari Mekkah bercuit (dalam bahasa Arab): “ISIS (Negara Islam): Kedamaian menyertai mereka, dalam satu tahun mereka melakukan apa yang tidak mampu dilakukan ateis dalam jutaan tahun.”

Mantan Muslim yang saya tanyai mengkonfirmasi bahwa radikalisme menggiring orang menjauhi agama. “Gagasan-gagasan para ekstrimis merupakan faktor bagi beberapa orang [untuk meninggalkan agama],” cuit Dewa Mantan Muslim Inggris, Saif Rahman. Ia, seorang penulis dan mantan Muslim terkenal dari Inggris, mengatakan pada saya: “9/11 merupakan momen kritis bagi banyak mantan Muslim. Kami mulai berpikir: ‘Tahu tidak, saya tidak memiliki keterkaitan dengan orang-orang ini [para teroris]’.”

Jika aksi al-Qaeda bisa menyebabkan umat Muslim menanggalkan keimanan mereka, dampak apa yang akan kita lihat dari aksi ISIS, yang bahkan oleh al-Qaeda dianggap terlalu ekstrim?

Rasulullah SAW diriwayatkan telah mengatakan bahwa orang-orang seperti ini akan muncul. Akan ada kaum khawarij yang akan muncul dari Irak,[ii] yang tampak sebagai mukmin taat[iii] dan merupakan mahluk terburuk.[iv]

ISIS, yang bertindak seperti sebuah kultus dengan tingkah macam geng, tidak ada hubungannya dengan Islam; mereka tidak mewakili umat Muslim di seluruh dunia. Mayoritas umat Muslim bersatu dalam mengutuk kelompok ini, dan tidak satu pun otoritas keagamaan memberi mereka pengakuan.

Ketidakmampuan arus utama untuk memutuskan sikap telah menyebabkan kekacauan yang ada saat ini. Pun begitu, penting untuk tidak berputus asa. Ya, segalanya mungkin terlihat kacau balau saat ini. Namun pada akhirnya, mereka yang beriman mengetahui bahwa kebajikan akan menang.

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dalam kitab Tirmidzi, dapat dilihat di sini
[ii] Diriwayatkan oleh Yusair bin Amr, dalam kitab al-Bukhari, dapat dilihat di sini
[iii] Diriwayatkan oleh Abu Salamah, dalam kitab Ibnu Majah, dapat dilihat di sini
[iv] Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri, dalam kitab Muslim, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style