Modest Style

Mengenal napas, dasar kehidupan

,

Meski terdengar sederhana, mengatur napas dengan baik dapat memberi dampak yang signifikan bagi kesehatan fisik, mental dan spiritual kita, tulis Pujiastuti Sindhu.

Gambar: Pixabay
Gambar: Pixabay

Bernapas ialah kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan. Seseorang mungkin bisa bertahan hidup selama beberapa hari tanpa makan dan minum, namun tanpa napas ia hanya dapat bertahan selama beberapa menit saja. Melalui napas, kita mengalirkan oksigen ke setiap sel-sel tubuh. Oksigen akan menjaga sel-sel tersebut tetap hidup dan sehat.

Tapi tahukah anda bahwa selain untuk merawat kesehatan fisik, bernapas dengan baik dan benar juga memberi manfaat bagi ketenangan dan ketenteraman jiwa?

Napas menghubungkan tubuh dan pikiran

Ada sebuah ungkapan lama yang menyatakan bahwa napas adalah jembatan antara tubuh dan pikiran. Maksud dari ungkapan ini adalah napas merupakan indikator aktivitas, baik tubuh maupun pikiran. Napas yang pendek dan cepat menandakan aktivitas pikiran yang sibuk, jantung yang berdetak kencang dan otot yang menegang.

Sebaliknya, napas yang panjang dan perlahan menandakan aktivitas pikiran yang tenang dan tubuh yang rileks.

Korelasi tubuh, pikiran dan napas di atas menjelaskan mengapa kita sering disarankan untuk mengatur napas saat panik. Nasihat ini menegaskan betapa pentingnya napas untuk pengendalian diri (self control).

Ada beberapa olah tubuh yang menekankan pengaturan napas dalam praktiknya dan yoga adalah salah satunya. Saat beryoga, seseorang bergerak seiring napas, bernapas seiring gerakan dan mengarahkan perhatiannya pada setiap sensasi gerakan tubuh dan napas. Dapat disimpulkan, pengolahan napaslah yang membedakan yoga dengan olah tubuh lainnya. Napas menjadikan yoga sebuah rangkaian gerak yang penuh kesadaran, layaknya sebuah meditasi dalam gerak.

Napas yang tenang = tubuh dan pikiran tenang

Mengatur napas adalah cara cepat merelaksasi tubuh dan pikiran. Saat seseorang memperlahan ritme napasnya, maka saraf tak sadarnya akan aktif. Sistem saraf ini akan segera “menyetel” tubuh ke dalam suasana yang pasif dan rileks, diiringi aktivitas fisik seperti jantung yang berdetak lebih tenang, otot tubuh melemas, tekanan darah menurun dan pori-pori mengecil serta tidak berkeringat. Semua Ini merupakan kebalikan dari gejala fisik yang kita alami saat nenghadapi stres.

Anda bisa mencoba teknik pernapasan Calming Breath untuk merelaksasi tubuh dan pikiran secara cepat. Teknik yang juga disebut dengan Dhiirga Swasam (Full Yoga Breath) ini bisa dilakukan dalam posisi duduk bersila ataupun berbaring.

Tarik napas panjang selama 5 hitungan dan buang napas perlahan selama 10 hitungan. Lakukan selama 5 – 10 putaran dan akhiri dengan bernapas secara alami.

Anda bisa perhatikan, saat napas semakin perlahan maka tubuh pun semakin rileks dan pikiran semakin tenang.

Napas yang baik = kemampuan berkonsentrasi baik

Untuk bisa berkonsentrasi, seseorang memerlukan ketenangan pikiran. Saat berkonsentrasi, lalu lintas pikiran kita menjadi lancar, sementara perhatian sepenuhnya terserap ke dalam aktivitas yang tengah dilakukan (bayangkan saat anda tengah membaca novel favorit). Perhatikan, apa yang terjadi pada napas Anda dalam situasi ini? Semakin Anda berkonsentrasi, napas pun menjadi semakin halus perlahan, bahkan seolah-olah tertahan.

Menahan napas sejenak dapat meningkatkan ketajaman perhatian. Anda dapat mencoba teknik pernapasan Balancing Breath berikut ini yang bermanfaat dilakukan sebelum melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi karena menyeimbangkan aktivitas otak kiri dan kanan.

  • Duduklah dalam posisi duduk tegak.
  • Tarik napas selama 5 hitungan dan buang napas selama 10 hitungan.
  • Tutup lubang hidung kanan dengan ibu jari kanan, tarik napas lewat lubang hidung kiri selama 5 hitungan lalu tutup lubang hidung kiri dengan jari telunjuk (hingga kedua hidung tertutup) dan tahan napas selama 10 hitungan.
  • Buang napas dari hidung kanan selama10 hitungan.
  • Kembali tarik napas dari lubang hidung kanan selama 5 hitungan dan tutup kedua lubang hidung selama 10 hitungan.
  • Buang napas dari hidung kiri selama 10 hitungan.

Lakukan teknik di atas sebanyak 3-5 putaran, lalu lepaskan pegangan tangan dan bernapaslah secara alami. Rasakan pikiran Anda terasa semakin hening dan luas, siap berkonsentrasi.

Napas sebagai media berkontemplasi

Kontemplasi adalah kondisi merenung atau khusyuk dan untuk bisa sampai ke titik ini seseorang memerlukan suasana pikiran yang lebih hening dan luas dari sekedar berkonsentrasi. Selain memerlukan keterpusatan perhatian, kontemplasi juga memerlukan kelembutan dan keterbukaan hati (ikhlas). Suasana seperti ini menciptakan keterhubungan seseorang pada pada mahluk hidup lain, alam sekitar serta Penciptanya.

Seseorang perlu bisa berkontemplasi untuk bisa berdoa secara dalam, yaitu situasi di mana ia bisa melepaskan diri dari keinginan-keinginannya dan terhubung dengan hal-hal di luar dirinya.

Berkontempasilah lewat napas. Setelah melakukan teknik pernapasan Calming Breath atau Balancing Breath di atas, Anda akan dapat memasuki fase bernapas yang alami di mana pikiran Anda terasa meluas dan suasana hati Anda terasa semakin tenang, damai dan bahagia.

Pertahankan selama mungkin suasana bernapas dan pikiran tersebut, bahkan dalam kondisi bangun dan beraktivitas sehari-hari. Hanya dari suasana kontemplasilah seseorang bisa menjalani hidup dengan nikmat dan apa adanya.

Bernapas adalah dasar bagi kehidupan. Mempelajari teknik-teknik pernapasan tidak saja bermanfaat bagi kesehatan fisik tapi juga bermanfaat bagi ketenangan pikiran dan ketenteraman hidup. Mempelajari teknik-teknik mengelola napas merupakan kemampuan yang penting bagi setiap orang yang mendambakan kehidupan yang tidak saja sehat, namun juga tenang, penuh kesadaran dan berkualitas.

Leave a Reply
<Modest Style