Modest Style

Mengenal manfaat yoga bagi jiwa dan raga

,

Apa saja manfaat yang dapat diperoleh dengan beryoga? Pujiastuti Sindhu menjelaskan.

Gambar: iStock
Gambar: iStock

Ada beberapa alasan mengapa seseorang berlatih yoga, diantaranya ialah karena alasan fisik, alasan mental, atau alasan spiritual.

Alasan fisik ialah saat seseorang berlatih yoga karena ingin meningkatkan kelenturan dan kekuatan fisiknya, atau mengatasi sebuah masalah kesehatan. Alasan mental ialah saat seseorang ingin mengelola stresnya atau meningkatkan kemampuan berkonsentrasi. Alasan spiritual ialah saat seseorang ingin meningkatkan kekhusyukan, penghayatan dan kemampuan intuitifnya.

Kabar baiknya, alasan apapun yang menjadi titik masuk seseorang untuk berlatih yoga, selain mendapatkan manfaat utama yang ditujunya, ia pun akan mendapatkan ‘bonus tambahan’ dari manfaat-manfaat lainnya. Misalnya, seseorang yang beryoga karena ingin melatih tubuhnya akan mendapatkan ketenangan dan kemampuan berkonsentrasi yang lebih baik, sedangkan seseorang yang beryoga karena masalah ketidakseimbangan emosi akan merasakan kesehatan fisik yang semakin membaik.

Jadi, tujuan apa yang ingin Anda capai dari beryoga? Jika pertanyaan ini ditujukan pada diri saya, maka saya akan jujur mengatakan saya beryoga karena masalah emosi. Saya adalah orang yang sangat mudah tertekan dan panik. Memang, di tahun 1994 saya juga pernah mengalami kecelakaan mobil yang cukup serius dan mengakibatkan tulang selangka saya patah sehingga satu sisi bahu menjadi lebih pendek dan lemah dan pinggul saya tidak sejajar. Saya juga merasa mengalami kesulitan untuk khusyuk saat berdoa. Tapi kedua sebab yang terakhir tadi bukanlah masalah utama yang membuat saya akhirnya memutuskan beryoga. Tujuan utama saya beryoga adalah untuk mengelola kebiasan saya panik (panic management).

Dulu, saat dilanda kepanikan – misalnya saat dikejar deadline, saat mengerjakan beberapa pekerjaan yang kejar tayang sekaligus, atau saat harus berbicara di depan public, tombol depresi saya langsung menyala. Saya pun akan mulai gelisah, mengeluarkan keringat dingin, gugup, gemetar, tidak mampu berpikir jernih dan merasa frustrasi. Pelampiasan emosi selanjutnya berlanjut dengan saya menangis, menyalahkan seseorang, melarikan diri dari situasi, atau marah-marah tidak jelas. Tentu saja ini sangat mengganggu, terutama karena setelah panik usai biasanya muncul konflik baru, yaitu penyesalan dan rasa malu yang berlarut-larut.

Saya tidak malu mengakui ini karena yakin bukan saya satu-satunya orang yang mengalami hal tersebut. Lewat berlatih yogalah saya mulai mengenali bagian-bagian diri (tubuh-pikiran-emosi) dan memahami hubungan saling terkait yang kompleks diantara ketiganya. Lewat yoga pula saya paham bahwa kelelahan fisik maupun ketegangan pikiran tidak boleh diabaikan. Saat ketegangan fisik dan mental bertumpuk, maka tinggal menunggu waktu untuk ambang batas ketahanan kita menjadi ‘penuh’ dan emosi kita meledak bagaikan bom waktu. Lewat yoga pula saya belajar teknik-teknik menguraikan ketegangan untuk senantiasa merasa nyaman dalam perasaan, dan mengatur gaya hidup yang lebih sehat untuk mengantisipasi datangnya ketegangan atau ketidakseimbangan.

Selain emosi yang lebih terkelola, saya pun mendapatkan bonus manfaat lainnya dari berlatih yoga yaitu kesehatan fisik dan intuisi yang semakin terasah. Yang disebutkan terakhir adalah karunia yang kini paling saya syukuri, setelah saya memahami bahwa kepanikan sayalah yang sebelumnya mengubur kemampuan tersebut.

Kesimpulan saya, setiap individu baru bisa berada dalam kondisi terbaiknya bila berada dalam keadaan yang seimbang fisik dan mental. Seimbangkan diri di satu sisi, maka sisi lainnya pun akan mengikuti, dan dalam keseimbangan fisik dan mental lah seseorang baru bisa menyadari sisi spiritualitasnya dan kemudian mengoptimalkannya.

Berlatih yoga secara rutin ialah kuncinya. Semakin rutin berlatih maka akan semakin langgeng manfaat yang dirasakan. Sebaliknya, semakin lalai berlatih, maka semakin rentan seseorang kembali ke ketidakseimbangan. Tentu saja ada saat di mana saya lalai berlatih, misalnya saat terlalu lelah mengajar, sepulang travelling, PMS atau karena sibuk tidak ada yang membantu tugas rumah tangga. Bila sudah demikian, sinyal-sinyal alarm kepanikan pun akan mulai menyala. Harus pintar-pintar mengantisipasi atau bahkan menetralkan emosi saya bila sudah mulai terpengaruh kepanikan. Dan namanya juga manusia, seringkali usaha saya berhasil, tapi kadang-kadang pun masih kecolongan.

Pada akhirnya, ini pun bonus manfaat lain dari yoga: saya jadi berlatih untuk tidak berlarut-larut menyesali kegagalan.

Leave a Reply
<Modest Style